
"Tidak aku sangka yang menjadi pengawal pribadiku adalah kau. Jika tahu itu kau, aku tidak akan menolaknya." Ucap Evia.
Ales tersenyum mendengar ucapan Evia "Bagaimana kabar anda?" Tanya Ales.
"Jangan berbicara formal, Ales. Panggil saja aku seperti biasanya." Ucap Evia.
"Saya tidak mungkin memanggil anda seperti itu. Sekarang anda adalah selir Kaisar." Ucap Ales.
Ales melihat mata Evia, dari matanya dapat dia lihat kalau Evia benar-benar bahagia disini.
"Tapi, aneh rasanya kalau kau berbicara formal padaku." Ucap Evia.
"Anda pasti akan segera terbiasa." Ucap Ales.
Seorang pria berambut pirang dan iris mata biru datang, dia adalah Kaisar kekaisaran Erlin, Cais Nari de Erlin.
Ales berlutut saat melihat Kaisar "Salam kepada Yang Mulia Kaisar." Ucap Ales.
"Yang Mulia!" Evia baru menyadari kedatangan Kaisar.
Evia mengangkat sedikit gaunnya lalu menunduk "Salam kepada Yang Mulia Kaisar."
Kaisar melihat Ales "Aku mendengar kalau pengawal pribadi Evia datang hari ini. Karena itu aku ke sini." Ucap Kaisar.
'Evia, dia memanggil Evia dengan namanya.' Pikir Ales.
Kaisar menatap tidak suka pada Ales. Sedari mereka masih di Magic Academy, dia telah menyadari kalau Ales menyukai Evia.
'Kenapa Marques Aerly mengirim dia untuk menjadi pengawal pribadi Evia?' Pikir Kaisar.
"Saya Ales Viorlan, pengawal pribadi selir pertama." Ucap Ales.
"Ya, aku telah mendengarnya. Kau adalah kakak Evia, jadi kau pasti bisa melindungi Evia." Ucap Kaisar.
'Kakak...' Batin Ales.
***
1 minggu kemudian, Kaisar mendapatkan 10 selir dan mengumumkannya ke seluruh kekaisaran.
Ales melihat Evia, dia terlihat sangat sedih "Yang Mulia, anda tidak apa-apa?" Tanya Ales.
"Aku tidak apa-apa. Lagipula, aku seharusnya sudah siap dengan ini. Karena dia adalah Kaisar." Evia tersenyum sendu.
***
1 minggu kemudian, Evia mendapatkan kabar kehamilan permaisuri.
Evia sudah tak bisa menahan kesedihannya lagi, dia menangis di kamarnya.
'Seharusnya aku telah siap dengan ini, dia adalah Kaisar, aku tidak boleh sedih.' Pikir Evia.
Evia menangis di kamarnya semalaman.
Tentu saja Ales marah pada Kaisar, tapi dia adalah Kaisar, wajar saja bila dia memiliki anak dari wanita lain.
'Padahal aku ingin melindungi Evia, melindungi senyumannya, tapi aku benar-benar tidak berguna. Aku tidak bisa melindungi Evia.
***
2 Minggu kemudian.
Evia saat ini sedang berjalan-jalan di taman bunga.
Ales tersenyum melihat Evia yang telah kembali tersenyum.
Evia mendadak mual.
__ADS_1
"Yang Mulia!" Ales menangkap tubuh Evia yang hampir terjatuh.
"Panggil dokter!" Perintah Ales pada para pelayan.
Para pelayan segera pergi untuk memanggil dokter.
Ales menggendong Evia dan membawanya ke kamar. Evia diperiksa oleh dokter, Ales menunggu di luar kamar Evia.
Dokter keluar dari kamar Evia.
"Bagaimana keadaan Evia?" Tanya Ales khawatir. Tanpa sadar, dia memanggil Evia dengan namanya.
Dokter tersenyum "Berita baik, selir pertama hamil." Ucap Dokter.
Ales terkejut 'Evia hamil?'
"Kandungannya telah berusia 1 minggu, saya sarankan beliau banyak beristirahat dan jangan banyak pikiran." Ucap Dokter.
"Begitu ya, terima kasih dokter." Ucap Ales.
"Ya, saya pergi dulu." Dokter lalu pergi dari sana.
Ales membuka pintu kamar Evia. Terlihat Evia yang sangat senang saat ini.
"Ales! Kau tahu? Kata dokter, aku hamil." Ucap Evia tersenyum.
"Ya, saya telah mengetahuinya. Syukurlah, Yang Mulia." Ucap Ales tersenyum.
"Ya, Yang Mulia pasti akan sangat senang dengan kabar ini." Evia membayangkan wajah bahagia Kaisar saat mendengar kabar kehamilannya.
"Ya." Ucap Ales.
***
Kaisar baru saja mendapatkan kabar tentang kehamilan selir pertama.
"Evia hamil?" Tanya Kaisar.
"Lalu bagaimana kondisi Evia dan anakku?" Tanya Kaisar
"Kondisi selir pertama dan anak anda sehat. Hanya saja, selir pertama harus banyak istirahat." Ucap dokter.
"Begitu ya." Ucap Kaisar mengerti.
"Berapa banyak pelayan di istana Evia?" Tanya Kaisar pada sekertarisnya.
"5 pelayan, Yang Mulia." Ucap sekertaris Kaisar.
"Kenapa sedikit sekali? Cepat tambahkan banyak pelayan lagi. Dan ingat, pastikan para pelayan itu bukanlah mata-mata. Kita harus sangat waspada." Ucap Kaisar.
"Baik, Yang Mulia." Ucap sekertaris Kaisar.
Sekertaris Kaisar lalu keluar dari ruang kerja Kaisar.
"Ternyata dugaanku benar, Yang Mulia Kaisar mencintai selir pertama. Saat mendengar kehamilan permaisuri, beliau tidak sekhawatir ini." Ucap sekertaris Kaisar.
***
Kaisar datang ke istana Evia untuk melihat Evia.
Saat melihat kedatangan Kaisar, Evia mengangkat sedikit gaunnya dan menunduk "Salam kepada Yang Mulia Kaisar."
Kaisar memeluk Evia, dia sangat bahagia saat ini.
Evia terkejut karena Kaisar tiba-tiba memeluknya "Yang Mulia?"
"Aku telah mendengar kalau kau hamil, Evia." Ucap Kaisar.
__ADS_1
Evia tersenyum "Ya, Yang Mulia." Ucap Evia.
Kaisar melepas pelukannya "Kau baik-baik saja bukan? Kau harus istirahat." Ucap Kaisar.
"Saya baik-baik saja, Yang Mulia. Anda tenang saja." Evia berusaha menenangkan Kaisar.
"Meski begitu, kau harus tetap istirahat." Ucap Kaisar.
"Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Saya akan menjaga diri saya baik-baik. Lagipula, di sini ada banyak orang yang menjaga saya." Ucap Evia.
Ales memperhatikan Kaisar dan Evia, mereka berdua benar-benar bahagia saat ini.
'Ada apa denganku? Seharusnya saat melihat Evia bahagia, aku juga ikut bahagia. Tapi kenapa aku merasa sesak?' Pikir Ales.
***
Keesokan harinya
"Nyonya, Yang Mulia Kaisar mengirim 10 pelayan baru untuk anda." Ucap pelayan.
Evia terkejut mendengarnya "10 pelayan baru?"
"Ya, Yang Mulia." Ucap pelayan.
"Padahal aku telah mengatakan kalau aku tidak butuh pelayan baru." Ucap Evia.
'Kaisar sangat peduli pada Evia.' Batin Ales.
"Siapkan kamar untuk mereka, dan ajarkan apa saja tugas mereka." Perintah Evia pada pelayan.
"Baik, Yang Mulia." Pelayan lalu keluar dari kamar Evia.
***
Di istana permaisuri
"Yang Mulia, kenapa anda diam saja? Selir pertama juga hamil loh!" Ucap salah satu pelayan permaisuri.
"Lalu?" Permaisuri bersikap tidak peduli.
"Kenapa anda tidak peduli? Dia bisa saja mengambil posisi anda." Ucap pelayan.
"Untuk sekarang ini, aku hanya akan mengawasinya. Tapi jika anaknya sampai mengancam posisi anakku sebagai pewaris tahta, aku akan turun tangan langsung." Ucap permaisuri.
'Lagipula, Cais paling tidak suka jika miliknya diganggu.' Lanjut permaisuri dalam hati.
***
1 bulan kemudian
Evia terkejut mendengar kabar yang baru saja didapatkannya "Selir ketiga hamil?"
"Ya, Yang Mulia." Ucap pelayan.
Evia menunduk "Begitu ya."
'Yang Mulia pasti sangat bahagia mendengar kabar ini. Tapi aku sedih mendengarnya. Sebagai selir Kaisar, aku seharusnya tidak sedih mendengarnya.' Batin Evia.
"Tinggalkan aku sendirian." Ucap Evia.
"Tapi, Nyonya–"
"Tinggalkan aku!" Evia berteriak.
Ales dan para pelayan terkejut, baru kali ini mereka melihat Evia seperti ini.
Mereka keluar dari kamar Evia.
__ADS_1
Evia menangis, dia tidak bisa lagi menahan kesedihannya saat ini.
Bersambung...