
Lisia berjalan pergi ke ruang misi. Barusan, saat akan pergi ke kelas, dia mendapatkan panggilan untuk pergi ke ruan misi.
'Kenapa belakangan ini aku selalu mendapatkan misi?' Batin Lisia bertanya-tanya.
Padahal baru 3 hari yang lalu, dia mendapatkan misi. Lalu sekarang dia mendapatkan misi lagi. Kira-kira misi seperti apa yang dia dapatkan sekarang?
Lisia sampai di depan pintu ruang misi, dia membuka pintu ruang misi dan masuk ke sana.
"Saya Arlisia Erisla de Arrilla, anda memanggil saya, profesor?" Tanya Lisia.
"Ya, kau akan mendapatkan misi bersama dengan seseorang." Ucap profesor Sala.
"Seseorang?" Tanya Lisia. Dia melihat sekeliling, dia ruangan itu tidak ada orang lain selain dirinya dan profesor Sala "Lalu, dimana orangnya?" Tanya Lisia.
"Di belakang anda." Ucap seseorang yang berada di belakang Lisia.
Lisia terkejut, dia melihat ke belakang, seorang pria berambut hitam dan iris mata hijau berada di belakangnya, pria itu tersenyum 'Aku tidak merasakan keberadaannya, dia siapa?' Batin Lisia bertanya-tanya.
Orang itu menunduk "Salam kepada putri pertama kekaisaran Arrilla."
"Kau siapa?" Tanya Lisia, dia menatap tajam pria itu.
"Anda tidak perlu waspada seperti itu, Tuan Putri. Perkenalkan, saya Van Ikliza de Arkailian." Ucap pria yang bernama Van itu dengan senyuman.
'Van? Adik dari Kaisar Arkailian?' Batin Lisia.
"Sudah sudah." Profesor Sala melerai mereka berdua.
Lisia dan Van menatap profesor Sala, "Apakah kalian tahu tentang kota Lijian?" Tanya profesor Sala.
Lisia dan Van mengangguk, "Ada kabar, katanya di sana ada sebuah organisasi penjahat. Lisia, Van, tugas kalian untuk memastikan berita itu. Jika berita itu benar, maka segera lah kembali ke Magic Academy dan laporkan hal itu. Jangan mencoba untuk melawan organisasi penjahat itu, kalian tidak akan bisa mengalahkannya." Ucap profesor Sala.
"Kenapa profesor seyakin itu?" Tanya Lisia.
"Lisia, misi yang pernah kau ambil sebelumnya bersama Zen sangat mudah untuk ukuran misi peringkat S bukan?" Tanya profesor Sala.
"Kalau kupikir-pikir lagi, memang mudah. Lawan kami sangat mudah untuk dikalahkan, padahal lawan kami saat itu adalah buronan peringkat S." Ucap Lisia.
__ADS_1
"Setelah diselidiki, ternyata Ales dibantu oleh seseorang, Ales hanya melawan orang-orang yang tidak terlalu kuat, contohnya seperti Putri Selia." Ucap profesor Sala.
'Pantas saja mereka terlalu lemah untuk seorang buronan peringkat S.' Batin Lisia, "Tapi, apa hubungannya dengan itu?" Tanya Lisia.
"Hubungannya ada di orang yang membantu Ales. Kemungkinan, orang yang membantu Ales adalah salah satu anggota organisasi penjahat itu." Ucap profesor Sala.
Profesor Sala memberikan batu teleportasi pada Van, Van mengambil baru teleportasi itu. Profesor Sala memberikan batu bantuan juga pada Lisia, Lisia mengambilnya batu bantuan itu, "Ini untuk jaga-jaga, jika terjadi sesuatu yang gawat, maka segera panggil bantuan." Ucap profesor Sala pada Lisia, Lisia mengangguk mengerti.
"Karena lokasi kota Lijian berada di kekaisaran Arkailian, Van pasti tahu banyak, karena itu dia dipilih untuk misi ini. Lalu untuk Lisia," Profesor Sala menatap Lisia "Kau tahu alasannya bukan?"
Lisia menatap batu bantuan itu, "Tentu saja, profesor."
***
Lisia dan Van berteleportasi ke dekat kota Lijian.
"Tuan Putri," Van melihat ke arah Lisia.
"Panggil saja Lisia, dan jangan berbicara formal." Ucap Lisia.
"Baiklah. Lisia," Van mengeluarkan dua buah jubah dan memberikan salah satu jubah itu pada Lisia "Pakai ini, kita harus menyembunyikan identitas kita."
Lisia melihat sekeliling, para penduduk di desa itu sangat kurus, seperti tidak makan selama beberapa hari. Kota ini juga sangat kumuh, lebih cocok dipanggil desa terbuang daripada desa.
Van melihat Lisia yang terus memperhatikan para penduduk desa, "Apakah kau tidak pernah melihat kondisi seperti ini?" Tanya Van.
Lisia melihat Van, "Tidak, aku sudah pernah melihatnya beberapa kali." Ucap Lisia.
"Apakah di kekaisaran Arrilla juga seperti ini?" Tanya Van, Lisia tidak menjawab.
Tidak mendapatkan jawaban, Van melanjutkan berjalan "Ayo." Ucap Van.
Van berjalan pergi, dan diikuti oleh Lisia di belakang.
Mereka tiba di depan sebuah tempat yang mirip bar, Van membuka pintu tempat itu dan masuk ke sana, Lisia mengikutinya.
"Siapa itu? Di sini tidak menerima tamu loh." Ucap seorang wanita berambut merah muda dan iris mata hijau.
__ADS_1
"Ini aku." Van membuka jubahnya.
Wanita itu terkejut melihat Van, "Pangeran?"
"Jangan memanggilku seperti itu, orang-orang akan mengetahui identitasku." Ucap Van.
"Maaf, pangeran. Apa yang membawa anda ke sini?" Wanita itu melihat Lisia "Lalu, siapa orang dibelakang anda?" Tanyanya.
Van duduk di kursi, Lisia duduk di sebelah Van "Aku datang ke sini untuk menyelidiki sesuatu. Lalu," Van melihat Lisia "Dia adalah temanku, Lisia. Lalu Lisia, dia adalah Jia, temanku." Van memperkenalkan Jia pada Lisia, dan juga memperkenalkan Lisia pada Jia.
Jia tersenyum pada Lisia, lalu dia melihat kembali pada Van "Menyelidiki sesuatu? Apakah itu tugas dari Kaisar pada anda?" Tanya Jia tidak suka.
'Sepertinya dia membenci Kaisar.' Pikir Lisia.
Van tidak menjawab pertanyaan Jia, "Aku mendengar kabar tentang organisasi penjahat di kota ini. Aku datang untuk menyelidiki tentang organisasi itu." Ucap Van.
Jia berpikir, "Mungkin yang anda maksud adalah orang-orang berjubah hitam dan memakai topeng?" Tanya Jia.
"Aku tidak tahu, tapi apa kau bisa menceritakan tentang orang-orang berjubah hitam yang memakai topeng itu?" Tanya Van serius.
"Mereka tinggal di mansion yang berada di sebelah timur kota." Ucap Jia.
"Mansion kosong itu?" Tanya Van memastikan.
Jia mengangguk, "Ya. Sebelum pindah kesini, mereka sering datang untuk memberikan makanan pada penduduk kota. Meski itu tidak bisa banyak membantu karena makanan yang mereka bawa tidak terlalu banyak, tapi penduduk kota sangat senang dan kemudian memberikan mansion itu pada mereka."
"Penduduk kota itu gampang sekali percaya pada orang-orang itu." Ucap Lisia.
"Itu karena mereka sangat kelaparan, sehingga saat ada yang memberikan bantuan pada mereka, meski tidak seberapa tapi mereka pasti akan menganggap orang yang memberikan bantuan itu sebagai penyelamat mereka." Ucap Jia.
'Orang-orang itu sangat pandai ya..' Batin Lisia, Lisia menatap Jia "Apa Kaisar tidak memberikan bantuan pada kalian?" Tanya Lisia.
"Tidak, dia sama sekali tidak peduli dengan kami. Kaisar sialan itu tidak peduli dengan rakyatnya!" Jia mengepalkan tangannya.
"Jia, bila ada yang mendengar kau mengatakan hal itu, kau bisa saja dihukum mati loh." Van menegur Jia.
'Aku memang pernah mendengar tentang Kaisar Arkailian, dia sama sekali tidak peduli dengan rakyatnya dan hanya peduli dengan wanita.' Lisia melihat Jia 'Pantas saja dia sangat dibenci oleh rakyatnya. Kenapa Kaisar sebelumnya memberikan tahtanya padanya?' Batin Lisia heran.
__ADS_1
Bersambung...