Magic Academy

Magic Academy
35. Perdebatan kecil


__ADS_3

Rill mengikat nona ketiga menggunakan rantai sihir, "Baiklah, sekarang kita harus kembali ke Magic Academy secepatnya, kita akan membawanya untuk di interogasi." Ucap Rill.


Rill melihat Lisia, "Kau terluka." Ucap Rill.


"Aku baik-baik saja." Ucap Lisia.


Naya melihat sekitar, dari wajahnya dia terlihat khawatir.


"Ada apa, Naya?" Tanya Lisia.


Naya menggeleng, "Tidak apa-apa." Naya mengelak.


'Sepertinya dia menghawatirkan Van.' Batin Lisia. Lisia melihat Naya, 'Saat melihat pertarungannya dengan Rill, aku pikir dia adalah seorang gadis angkuh. Tapi, semakin ke sini dia semakin berbeda dengan kesan pertamanya.' Pikir Lisia.


"Aku pergi dulu." Ucap Naya lalu pergi.


"Hei! Kita akan segera kembali!" Rill mencoba menghentikan Naya, tapi Naya tidak mempedulikan Rill. "Gadis itu.." Rill kesal karena diabaikan oleh Naya.


"Biarkan dia pergi, dia pasti sangat menghawatirkan Van." Ucap Lisia.


Rill melihat Lisia, "Khawatir? Van?" Tanya Rill tidak mengerti.


"Van, orang yang ditugaskan bersamaku di misi ini, dia adalah pangeran kekaisaran ini, karena itu Naya mengenalnya." Ucap Lisia.


'Selain itu... dari wajah Naya, sepertinya dia memiliki perasaan pada Van.' Batin Lisia.


Rill menatap Lisia, "Putri, kenapa tadi kau tidak menggunakan sihir peringkat S yang kau gunakan saat melawan Kei?" Tanya Rill.


Lisia melihat Rill, "Bukannya aku sudah bilang?" Tanya Lisia.


"Agar kota ini tidak hancur? Apakah itu benar-benar alasannya?" Tanya Rill, di menatap mata Lisia, dan Lisia juga menatap matanya.


Lisia mengeluarkan pedangnya dan mengarahkan pedang itu ke leher Rill, "Sepertinya karena aku diam saja selama ini, kau menjadi besar kepala." Ucap Lisia, dia menatap tajam Rill.


"Sepertinya kau telah mengetahuinya." Ucap Rill.

__ADS_1


"Ya, aku merasa aneh, padahal kau adalah seorang anak pendiam, tapi kau selalu mengajakku bicara di kelas, kau selalu mendekatiku, dan selalu mengawasiku. Rill, kau–" Ucapan Lisia dipotong oleh kemunculan Van, Jain dan Naya.


Lisia segera menurunkan pedangnya, sementara Rill tetap tenang. Lisia menyimpan kembali pedangnya.


"Apa yang terjadi? Kenapa tadi kau mengarahkan pedang ke lehernya?" Tanya Van pada Lisia.


"Tidak apa-apa, aku hanya berbicara dengannya." Ucap Lisia.


"Ya, tidak ada yang terjadi, kalian tenang saja." Ucap Rill.


"Sekarang kita akan kembali bukan? Aku benar-benar lelah." Ucap Rill.


Naya memandang datar Rill, "Padahal kau tidak mengeluarkan banyak tenaga untuk pertarungan tadi, dasar pemalas." Ucap Naya.


"Terima kasih." Ucap Rill.


"Itu bukan pujian!" Ucap Naya.


Van melihat Lisia, "Kau tidak apa-apa?" Tanya Van.


"Dari pada memikirkan kondisiku, bukankah lebih baik kau memikirkan kondisimu sendiri?" Tanya Lisia, dia melihat Van dari atas sampai bawah, Van terluka parah, bahkan lebih parah dari dirinya.


Lisia duduk di sebelah Van dan menyembuhkan Van menggunakan sihir penyembuhannya, "Aku hanya bisa menggunakan sihir penyembuh peringkat A, bukan peringkat S. Tapi setidaknya ini bisa membuat kondisimu lebih baik dari sebelumnya." Ucap Lisia.


"Terima kasih." Ucap Van.


"Ya, sama-sama." Ucap Lisia.


Naya duduk di sebelah Lisia, "Bukankah lebih baik kita membawa pangeran ke dokter sihir kuat yang bisa menggunakan sihir penyembuh peringkat S? Seperti sihir milik orang yang kau lawan saat penentuan misi." Ucap Naya. Dia menghawatirkan keadaan Van, semoga saja Van baik-baik saja.


"Membawanya ke dokter? Bagaimana caranya? Di kota seperti ini pasti tidak ada dokter, mungkin di kota lain ada, tapi... keluar dari kota ini saja akan sangat sulit." Ucap Lisia.


"Hah? Apa maksudmu?" Tanya Naya tidak mengerti.


Rill, Naya dan Jain terkejut mendengar ucapan Lisia, mereka melihat sekeliling dan menyadari jika kota ini telah dikelilingi oleh sebuah sihir penghalang. Sihir yang membuat mereka tidak bisa keluar dari kota ini. Bahkan batu teleportasi juga tidak bisa digunakan sekarang.

__ADS_1


Jain menoleh dan melihat Lisia dan Van, mereka sepertinya telah mengetahuinya sedari tadi, 'Wajar jika Van, tapi gadis ini juga menyadarinya?' Batin Jain terkejut.


"Sejak kapan sihir ini ada?" Tanya Naya.


"Sekitar 30 menit yang lalu." Ucap Lisia.


"Bagaimana ini?" Tanya Naya, dia mulai panik. Naya melihat Van, dengan kondisi seperti itu Van sudah tidak bisa bertarung lagi. Lisia mungkin masih bisa bertarung, tapi kekuatannya tidak akan sekuat biasanya.


"'Bagaimana'? Sekarang pilihan kita tinggal 2, hancurkan penghalang ini dengan cara mengalahkan organisasi penjahat itu, atau menunggu sampai bantuan datang." Ucap Lisia.


"'Bantuan'? Tapi kami telah tiba di sini." Ucap Jain.


"Maksudku bukan bantuan dari akademi, tapi dari kekaisaran." Ucap Lisia.


Ekspresi Naya berubah mendengar kata 'kekaisaran'. Naya adalah salah satu penduduk dari kekaisaran ini, jadi dia pastinya mengetahui tentang kekaisaran ini, "Ha, bantuan dari kekaisaran? Memangnya itu mungkin? Siapa yang akan mengirimnya? Tidak mungkin Kaisar kan?" Ucap Naya. Dari nada bicaranya, dapat diketahui kalau Naya sangat membenci Kaisar.


"Menurutku, mungkin Kaisar sendiri yang akan turun tangan." Ucap Lisia.


"Ha, dia sendiri? Kau yakin? Mana mungkin dia mempedulikan rakyatnya!" Ucap Naya.


"Ingin bertaruh?" Tanya Lisia percaya diri.


"Ya, aku bertaruh 100.000 Rim, dia pasti tidak akan datang!" Ucap Naya percaya diri.


Lisia tersenyum, "Aku bertaruh 500.000 Rim, dia akan datang." Ucap Lisia.


Van, Rill dan Jain menatap datar perdebatan Lisia dan Naya, disaat seperti ini mereka masih sempat untuk berdebat dan bertaruh. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran keduanya.


Van melihat Lisia, 'Kaisar akan datang? Kenapa dia seyakin itu?' Batin Van.


"Wah wah, ternyata para tikusnya bersembunyi di sini."


Lisia, Van, Rill, Naya dan Jain menoleh, melihat dua rang pria yang mengenakan jubah hitam dan topeng. Di jubah hitam pria itu, ada angka 1, dan pria di sebelahnya mengenakan jubah hitam dengan angka 2. Mereka adalah tuan pertama dan tuan kedua.


"Baiklah, para nona dan tuan penyusup, kami akan menangkap kalian." Ucap tuan kedua tersenyum.

__ADS_1


Lisia, Rill, Naya dan Jain waspada. Naya mengeluarkan pistolnya, mereka bersiap untuk bertarung.


Bersambung...


__ADS_2