Magic Academy

Magic Academy
37. Musuh lama


__ADS_3

Perlahan, Lisia membuka matanya, lalu dia bangun. Lisia mengingat apa yang terjadi, dia masuk ke sebuah portal.


Lisia segera berdiri, dia mengeluarkan pedangnya dan waspada.


"Kau tidak perlu sewaspada itu." Ucap seseorang dari arah pintu, dari suaranya orang itu adalah pria.


Lisia tetap waspada, dia menatap tajam pria yang berada di dekat pintu. Lisia tidak dapat melihat wajah pria itu karena gelap. "Kau siapa?" Tanya Lisia.


Pria itu mendekat, keluar dari bayang-bayang dan menunjukkan dirinya. Pria itu memakai topeng.


Pria itu membuka topengnya, menunjukkan wajahnya.


Lisia terkejut melihat wajah pria bertopeng itu, dia semakin waspada.


Pria itu tersenyum melihat reaksi Lisia, "Lama tidak bertemu ya, putri Bagaimana kabarmu?" Pria itu menyapa Lisia.


Lisia bergerak cepat dan menyerang pria itu menggunakan pedang. Pria itu menahan serangan Lisia menggunakan jari telunjuknya.


"Padahal kita sudah lama tidak bertemu, bukannya menyapa tapi kau malah menyerangku? Jahat sekali, putri." Ucap pria itu, dia tersenyum.


Lisia menatap pria itu dengan tatapan dingin, "Untuk apa aku menyapa musuhku?" Tanya Lisia dingin.


Lisia melompat kembali ke belakang, dia menjadi lebih waspada dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kenapa kau masih hidup?" Tanya Lisia.


"Apa kau tidak senang karena aku masih hidup?" Tanya pria itu. Lisia tak menjawab, pria itu melihat mata Lisia, "Pastinya tidak ya." Pria itu tersenyum.


"Fal" Lisia memanggil nama pria bernama Fal itu, "Namamu Fal, bukan?" Tanya Lisia memastikan.


"Tidak aku sangka kau masih mengingat namaku." Ucap Fal.


Lisia menatap Fal dengan tatapan dingin, "Seorang pahlawan yang menghancurkan sebuah kota dan membunuh semua penduduk kota itu, membuat statusnya yang semula pahlawan berubah menjadi penjahat. Aku ingat telah membunuhmu 2 tahun yang lalu, tapi kenapa kau masih hidup?"


"Putri, setelah kau membunuhku saat itu, aku berpikir dunia ini sangat tidak adil. Kau telah membunuh banyak orang, tapi kenapa kau tidak di cap sebagai penjahat?" Bukannya menjawab, Fal malah memberikan pertanyaan.


"Itu karena mereka tidak mengetahui kalau aku adalah seorang pembunuh, berbeda denganmu." Ucap Lisia. Lisia menaruh tangannya di belakang, dia menyalurkan sihirnya ke ruangan itu, dia berencana untuk mengontrol ruangan itu agar lebih mudah untuk mengalahkan Fal.


Lisia tersenyum, "Benarkah? Aku mengenal seseorang yang juga pembunuh sepertiku loh." Fal terkejut mendengar ucapan Lisia, "Para penduduk mengetahui jika dia membunuh, tapi dia tidak dibuang, dikucilkan, dibenci dan dibunuh seperti yang kau bilang itu." Ucap Lisia.


Orang yang dimaksud oleh Lisia adalah Zen. Saat perjalanan kembali ke istana kekaisaran Erlin, dia melihat penduduk ibu kota kekaisaran Erlin melihat Zen. Bukannya melihat Zen sebagai pembunuh, di mata mereka Lisia bisa merasakan perasaan sedih, rindu dan lainnya. Lalu tidak ada juga rasa benci di mata mereka untuk Zen.


Sementara ekspresi Zen, dia terlihat biasa saja. Tapi, Lisia tahu jika Zen juga merasakan perasaan yang sama dengan penduduk di ibukota.


Fal terdiam, dia menatap Lisia, "Diantara sekian banyaknya sikapmu, yang mana sifat aslimu, putri? Putri yang dingin? Atau, Lisia yang ceria seperti yang dikenal oleh pangeran kedua dan pangeran ketiga? Atau, orang licik yang dikenal oleh para musuhmu? Atau, yang lain?" Fal membicarakan bermacam-macam sikap Lisia pada orang lain.


"Kau. Dari mana kau mendapatkan informasi itu?" Lisia menatap tajam Fal. Fal tidak menjawab dan hanya tersenyum.

__ADS_1


"Putri, bagaimana jika kau bergabung denganku?" Tawar Fal, dia mengulurkan tangannya. Lisia menatap tangan Fal, dia tidak memiliki niat untuk menerima tawaran Fal.


"Kekuatanmu yang luar biasa itu akan sia-sia jika terus berada di pihak mereka. Bahkan saat ini pun kau menahan kekuatanmu bukan?" Ucap Fal.


Lisia menatap Fal, 'Dari mana dia mengetahui semua itu?' Batin Lisia bertanya-tanya.


Sihir yang disalurkan Lisia ke ruangan itu telah penuh, dia menyerang Fal menggunakan sihirnya, Fal menghindari serangan itu.


Fal kembali melihat Lisia, "Serangan itu adalah jawaban dari tawaranmu." Ucap Lisia dingin.


"Kau menolaknya? Kalau begitu... kau harus mati." Api muncul di tangan kiri Fal, dia memukul Lisia, tapi Lisia menghindari semua pukulan Fal.


Lisia menggerakkan tembok di ruangan itu. Membuat ruangan itu berubah menjadi labirin.


Sihir peringkat S, pengontrol. Sihir ini bisa membuat penggunanya bisa mengontrol apapun kecuali manusia. Bahkan alam bisa dikontrol oleh sihir ini. Tapi, apa yang ingin dikendalikan oleh penggunanya harus memiliki sihir penggunanya, untuk itu maka pengguna harus menyalurkan sihirnya pada benda yang ingin dia kontrol. Sehingga hampir mustahil jika ingin mengontrol alam, karena alam yang begitu luas maka akan menggunakan banyak kekuatan sihir untuk mengontrol alam.


Fal melihat labirin itu, "Lihatlah, kau bahkan menguasai sihir seperti ini. Tapi sayang sekali, kau berada di pihak mereka, jika kau berada di pihakku, maka kekuatan ini pasti tidak akan sia-sia." Fal mencoba untuk meyakinkan Lisia.


Lisia yang berada di tengah labirin itu, dia tidak terpengaruh oleh ucapan Fal. Ini bukan pertama kalinya dia menghadapi seseorang seperti Fal.


'Organisasi penjahat, dulu Fal adalah seorang anggota dari sebuah organisasi penjahat bukan? Aku ingat dulu dia sering bersama dengan seorang gadis yang ahli sihir bayangan.' Batin Lisia.


'Lalu... aku adalah orang yang membunuh gadis itu dan menghancurkan organisasi penjahat itu.'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2