
Lisia berjalan menuju ke kelasnya, selama perjalanan, banyak orang yang menyapa dirinya. Setelah menjadi perwakilan akademi untuk turnamen nanti, dia menjadi terkenal di sekolah.
Lisia sampai di kelasnya, dia duduk di kursinya dan menatap ke luar jendela.
Karena turnamen nanti diadakan di akademi, para profesor menjadi sibuk sehingga jarang masuk ke kelas.
Karenanya, banyak murid yang bolos kelas, karena itu juga komite kedisiplinan menjadi lebih sibuk. Murid yang bolos di denda.
Hal itu membuat banyak siswa kesal, karena mereka tetap masuk kelas padahal mereka tidak belajar di kelas.
Ada juga murid yang sengaja membuat dirinya sakit agar bisa bolos kelas. Salah satu contohnya, adalah teman-teman sekelas Lisia.
Saat ini, Lisia hanya sendirian di kelas.
'Sayang sekali kalau harus membuang uang 10.000 Rim untuk membayar denda.' Itulah yang dipikirkan Lisia.
Agar tidak bosan di kelas, Lisia membawa beberapa buku novel untuk dia baca.
Pintu kelas terbuka, Lisia yang sedang membaca buku lalu melirik ke arah pintu sebentar, lalu kembali membaca bukunya.
Komite kedisiplinan, Arzevian Gaerella melihat Lisia, lalu beralih ke seluruh kelas.
"Kemana teman-temanmu yang lain?" Tanya Arzevian.
"Aku tidak tahu, dari tadi aku hanya sendirian di sini." Ucap Lisia.
Arzevian menutup pintu kelas 1.A lalu pergi dari sana.
Kring kring
Setelah mendengar bunyi bel pulang, Lisia menutup buku novelnya lalu memasukkan buku itu ke dalam tasnya. Lisia memakai tasnya dan berjalan untuk kembali ke asramanya.
Lisia pergi ke loker untuk mengambil coklatnya yang dia simpan di loker.
Tadi pagi, saat pergi ke kelas, dia membeli coklat di toko karena melihat coklat yang sedang diskon.
Saat membuka loker, ada sebuah amplop di lokernya. Lisia membuka amplop itu, dan membaca surat yang ada di lokernya.
Kepada Arlisia Erisla de Arrilla dari kelas 1.A
Aku menaruh perasaan padamu saat melihat pertandinganmu kemarin, kau cantik dan juga kuat.
Arlisia, aku menyukaimu!
Jika tidak keberatan, datanglah ke belakang gedung kelas besok, pada saat pulang sekolah. Saat itu, aku akan menyatakan perasaanku kepadamu. Aku mohon, datanglah, aku akan menunggumu.
'Datang, atau tidak ya?' Batin Lisia.
Seseorang merekam gambar Lisia yang sedang membaca surat itu. Lisia menoleh saat menyadarinya, tetapi orang itu sudah pergi dari sana.
'Lebih baik tidak dipikirkan.' Batin Lisia.
Lisia lalu mengambil coklatnya dan kembali mengunci lokernya. Setelah itu, Lisia kembali ke asrama.
***
Tok tok tok tok tok
Pintu kamar asrama Rill diketuk terus menerus. Hal itu membuat tidur Rill terganggu, dia membuka kamar asramanya dan di luar dia melihat Axel, Cain, dan Ain.
"Kenapa kalian–"
"Rill! Tidak apa-apa! Kami selalu mendukungmu!" Cain memotong ucapan Rill.
"Apa maksud–"
"Rill! Ini karena kau selalu bermalas-malasan!" Kali ini Ain yang memotong ucapan Rill.
"Apa yang–"
"Rill, tidak perlu khawatir, kami akan menyingkirkannya untukmu!" Sekarang Axel yang memotong ucapan Rill.
"Jangan memotong ucapanku! Sekarang, katakan dengan jelas!" Ucap Rill, dia kesal karena ucapannya terus dipotong sedari tadi.
"Tadi, saat salah satu anggota komite kedisiplinan membawaku ke ruang komite kedisiplinan, aku melewati papan berita." Ucap Cain.
"Lalu? Ada berita apa di sana?" Tanya Rill.
Cain melanjutkan ceritanya, "Di sana, ada berita kalau Lisia mendapatkan surat cinta dari seseorang! Di sana juga lengkap dengan gambar saat Lisia mendapatkan surat itu!"
'Sepertinya mereka masih mengira kalau aku menyukai putri Lisia.' Batin Rill.
__ADS_1
"Rill, kau harus melakukan sesuatu." Ucap Axel.
Rill menghela napasnya, "Untuk apa aku melakukan hal yang melelahkan seperti itu?"
"Apa yang kau katakan, Rill? Bukankah kau menyukai Lisia?" Ucap Ain.
"Bukan–"
"Jangan menyerah, Rill!"
"Dengar–"
"Kami akan membantumu!"
"Tidak–"
"Kau tenang saja, Rill!"
Rill mulai kesal, "Pergi sana!" Dia menutup pintu dengan keras.
"Ada apa dengannya?"
"Dia pasti merasa patah hati." Ucap Axel.
"Ya, mungkin saja begitu."
***
Rill menghela napasnya, "Mereka itu benar-benar sudah salah paham..."
"Aku hanya seseorang yang mengawasi setiap hal yang terjadi pada putri, atas perintah Yang Mulia Permaisuri." Gumam Rill.
***
Keesokan harinya, Lisia saat ini akan pergi ke kelasnya. Dia terhenti saat melewati papan pengumuman.
Lisia melihat ke papan berita, di sana ada gambar saat dirinya membaca surat pernyataan cinta yang didapatnya di loker kemarin.
'Jadi orang yang merekam gambarku kemarin, adalah murid wartawan ya.' Batin Lisia.
Di akademi ini, ada beberapa organisasi siswa. Salah satunya, adalah organisasi berita. Di mana para murid yang masuk di organisasi ini disebut sebagai murid wartawan.
Lisia memilih untuk berhenti memikirkannya, dia lalu berjalan kembali menuju ke kelasnya.
***
Di kelas, tampaknya ada beberapa orang yang datang hari ini. Mereka adalah Axel, Cain dan Ain.
'Wah, apa mereka datang karena tidak ingin di denda oleh komite kedisiplinan lagi? Aku dengar, yang bolos kemarin bukan hanya di denda, tetapi di hukum juga.' Lisia mendengar berita itu saat sedang pergi membeli novel kemarin.
Lisia duduk di bangkunya, dia mengeluarkan novel dari tasnya dan membaca novel itu.
Selama membaca novel, Lisia merasakan murid sekelasnya sedang melihat dirinya.
'Kenapa mereka terus melihatku?' Batin Lisia.
Lisia berdiri, dia pergi ke meja guru untuk mencatat kehadiran murid. Karena tidak ada profesor yang mengajar hari ini, sebagai ketua kelas dia yang harus mencatatnya.
Para murid di kelas terus melihat Lisia.
"Kenapa kalian terus melihatku?" Lisia yang sudah merasa tidak nyaman lalu bertanya.
"Lisia, apa berita itu benar?" Tanya Cain.
"Berita apa yang kalian maksud?" Tanya Lisia.
"Berita kalau kau mendapatkan surat cinta." Ucap Axel.
"Ya, itu benar. Lalu, kenapa kalian sangat penasaran?" Tanya Lisia.
"Apa jawabanmu untuk surat cinta itu? Apa kau menerima pernyataan cintanya?"
"Hei, kau tidak menerimanya bukan?"
"Jika kau sampai menerimanya, dia pasti akan sangat patah hati."
'Dia? Siapa yang mereka maksud?' Batin Lisia.
"Misal, aku menerimanya. Siapa yang akan patah hati?" Tanya Lisia.
"Rill." Ucap Ain.
__ADS_1
"Ain!" Cain dan Axel menegur Ain, membuat Ain langsung menutup mulutnya.
"Aku mengerti sekarang." Lisia sudah bisa menebaknya, mereka salah paham.
'Tidak aneh kalau mereka salah paham, karena kami memang terlihat dekat. Apa karena itu juga murid wartawan membuat berita seperti itu? Sepertinya bukan hanya mereka, tapi sudah banyak orang yang juga salah paham.' Batin Lisia.
Kring kring
Bel pulang berbunyi, Lisia memakai tasnya lalu pergi dari kelas tanpa mengatakan apapun lagi.
Axel, Cain dan Ain juga ikut keluar. Sayang sekali, Lisia tidak menjawab pertanyaan mereka dengan jelas. Sekarang, mereka tidak tahu, apa Lisia menerima pernyataan cinta itu atau tidak?
Mereka berjalan keluar dari kelas dengan lesu.
"Kasihan sekali Rill."
"Ya, aku kasihan padanya jika Lisia benar-benar menerima pernyataan cinta itu."
"Aku harap Lisia tidak menerimanya."
Mereka bertiga terhenti saat melihat Lisia berjalan ke arah yang berbeda dari asrama.
"Jangan-jangan..."
"Sekarang, baru Lisia akan menjawab pernyataan cinta itu?"
Mereka mengikuti Lisia sampai di belakang gedung kelas. Mereka bersembunyi di balik semak-semak.
"Kira-kira Lisia akan menjawab apa?"
"Semoga Lisia menolaknya."
"Lisia memang tidak terlihat menyukai Rill, tapi semoga itu tidak benar."
"Kalau begitu, kasihan Rill."
Seorang pria berambut merah dan iris mata berwarna merah datang ke belakang gedung kelas.
"Apa kau menunggu lama?" Tanya pria itu.
"Tidak, aku baru saja datang."
Pria itu menghela napas lega, "Aku pikir aku terlambat."
"Oh iya, maaf aku terlambat memperkenalkan diriku. Aku Nesen Lefirar dari kelas 2.A, aku juga orang yang mengirim surat pernyataan cinta itu kepadamu, Arlisia." Ucap Nesen tersenyum.
Lisia tersenyum, "Salam kenal, Nesen."
"Sekarang, jadi, apa jawabanmu?" Tanya Nesen. Dia menyiapkan hatinya untuk menerima jawaban Lisia, apapun itu, "Apa kau mau menjadi pacarku?"
"Maaf ya, aku tidak bisa menjadi pacarmu."
Nesen menunduk, "Begitu ya... Itu juga sudah jelas sih, karena kau menyukai orang lain.."
"Kalau soal itu, aku rasa kau salah paham, aku tidak menyukai orang yang kau maksud itu." Ucap Lisia.
Nesen terkejut mendengarnya, "Jadi, kau–".
"Tapi, aku harap kau melupakanku dan menyukai orang lain saja. Aku tidak ingin memberi harapan padamu." Lisia memotong ucapan Nesen, dia mengucapkan hal itu dengan serius.
"Sekali lagi, maaf." Ucap Lisia.
"Kau tidak perlu meminta maaf, kau tidak salah apa-apa. Seharusnya, aku yang meminta maaf. Karena ini, kau pasti merasa terganggu." Ucap Nesen.
"Aku pergi ya. Terima kasih karena sudah datang ke sini." Ucap Nesen lalu dia pergi dari sana.
Lisia melirik ke arah di mana Axel, Cain dan Ain berada saat ini lalu dia pergi dari sana.
'Setidaknya, ini tidak akan membuat kesalahpahaman ini semakin besar.' Batin Lisia.
***
Axel, Cain dan Ain bersorak.
"Dengan begini, Rill masih memiliki kesempatan!"
"Kita harus menyemangati Rill!!"
"Ya!"
Bersambung...
__ADS_1