Magic Academy

Magic Academy
55. Interogasi


__ADS_3

Lisia berjalan pergi ke penjara Magic Academy.


Dia berpapasan dengan Rill, Lisia berhenti, begitu pula dengan Rill.


"Bagaimana keadaanmu, Putri?" Tanya Rill.


"Aku baik-baik saja." Ucap Lisia.


"Bohong. Jika kau baik-baik saja setelah melawan bosnya, kau pasti bisa mengalahkan anak buahnya dengan sangat mudah." Ucap Rill.


"Aku menyimpan kekuatanku untuk mengalahkan bosnya." Ucap Lisia.


"Lagi-lagi kau berbohong." Ucap Rill.


'Apa dia bisa membaca pikiran seseorang?' Batin Lisia.


Lisia berjalan, dia berhenti saat dirinya tepat berada di samping Rill.


"Rill, permaisuri pasti tahu jika itu adalah masalah pribadiku, dia tidak akan mencampuri urusanku." Ucap Lisia.


Lisia telah menebak, jika Rill adalah orang yang dikirim ibunya untuk mengawasi dirinya.


"Kau mengetahuinya lebih cepat dari dugaanku ya, Putri." Ucap Rill.


"Dan juga, kau tidak perlu sekhawatir itu padaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Lisia tersenyum.


Lisia kembali berjalan, dia pergi dari sana.


Rill tersenyum, 'Yah, seharusnya aku tidak perlu sekhawatir itu.' Batinnya.


Rill menoleh, dia menatap punggung Lisia yang semakin menjauh, 'Lagipula, Putri adalah orang yang kuat.'


***


Lisia sampai di penjara.


Kepala sekolah dan Kaisar kekaisaran Arkailian telah menginterogasi Fal.


Kepala sekolah mengatakan profesor Amlia untuk mengantar Lisia ke ruang interogasi jika dia datang.


Lisia lalu diantar ke ruang interogasi.


Lisia masuk ke ruang interogasi, tampak Kepala sekolah dan Etian sedang menginterogasi Fal.


Fal menatap Lisia, meski tatapannya datar, tapi di matanya terlihat jelas kalau dia membenci Lisia.


Lisia tidak mempedulikannya, dia menghampiri kepala sekolah.


Lisia meletakkan tangannya di dada, "Lama tidak bertemu, kepala sekolah." Lisia memberi hormat kepala kepala sekolah.


Kepala sekolah tersenyum, "Ya, lama tidak bertemu, Arlisia. Di sini aku tidak perlu memanggilmu dengan sebutan putri bukan?"


"Tidak perlu." Ucap Lisia.


Lisia melirik Fal, Fal mengalihkan tatapannya.


"Kepala sekolah, apa saya bisa ikut menginterogasinya?" Tanya Lisia.


"Tentu saja bisa, karena itu aku mengizinkanmu untuk masuk ke sini." Ucap kepala sekolah.


Lisia mendekati Fal, dia duduk di kursi yang berada di depan Fal.


"Aku tidak akan memberitahumu apapun." Ucap Fal.


"Kau yakin? Sayang sekali, padahal aku punya penawaran yang bagus untukmu loh." Ucap Lisia tersenyum.


"Fal, apa kau tahu tentang tuan kalian saat organisasi black?" Tanya Lisia.

__ADS_1


Fal terkejut, dia menatap Lisia. Dia memang tidak pernah mengetahui tentang orang yang disebut 'tuan' oleh Narz. Dia telah mencoba mencaritahu, tetapi tidak mendapat jawaban sampai sekarang.


"Bagaimana kalau aku memberitahumu tentang tuanmu itu? Sebagai gantinya, aku akan memberimu 1 pertanyaan, dan kau harus menjawabnya." Ucap Lisia tersenyum.


"Kalau aku menolak?" Fal terlihat tidak tertarik sama sekali dengan tawaran Lisia.


'Tidak mempan ya.' Batin Lisia.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertukar pertanyaan?" Ucap Lisia.


"Bertukar pertanyaan?" Fal mengerutkan keningnya.


"Kau boleh bertanya 3 hal kepadaku, dan aku akan bertanya 3 hal kepadamu. Kau pasti ingin bertanya banyak hal padaku bukan?" Ucap Lisia.


Fal terdiam sejenak, dia tampak memikirkan tawaran Lisia.


Fal menoleh, dia melihat kepala sekolah Magic Academy dan Kaisar kekaisaran Arkailian yang berdiri tak jauh dari sana.


"Kau boleh mengganti pertanyaannya, jika ada pertanyaan yang tidak bisa kau jawab." Ucap Lisia.


"...baiklah." Ucap Fal. Pada akhirnya, dia memilih untuk menerima tawaran Lisia.


"Tapi, bagaimana bila kau berbohong?" Tanya Fal.


"Kau tidak percaya padaku?" Tanya Lisia.


"Tentu saja. Lagipula, kau juga tidak percaya padaku bukan?" Ucap Fal tersenyum.


"Ya, aku tidak percaya padamu." Ucap Lisia.


Lisia melirik kepala sekolah, "Kepala sekolah, bukankah Magic Academy memiliki batu sihir pendeteksi kebohongan?" Tanya Lisia.


Kepala sekolah mendekat, dia mengeluarkan batu sihir. "Jika warna batu ini berubah menjadi warna merah, maka artinya orang yang baru saja berbicara itu berbohong." Ucap kepala sekolah.


"Terima kasih." Lisia tersenyum.


"Silahkan, kau duluan." Ucap Lisia.


"Kenapa kau bisa mengetahui tentang sufours? Padahal, keberadaan sufours dirahasiakan, hanya sedikit orang yang mengetahuinya." Pertanyaan pertama Fal digunakan, kini dia tinggal memiliki 2 pertanyaan lagi.


"Aku mendengar percakapan antara 4 Kaisar." Ucap Lisia.


Batu sihir itu tidak berubah warna, menandakan Lisia tidak berbohong.


"Bagaimana bisa?" Tanya Fal.


"Apa itu pertanyaan keduamu?" Lisia tersenyum.


"Tidak." Ucap Fal.


"Kenapa kau bergabung dengan sufours?" Tanya Fal.


"Aku ingin pertanyaan itu diganti." Ucap Lisia.


Fal sedikit kecewa, padahal dia ingin mengetahui hal itu. Alasan mengapa seorang putri kekaisaran menjadi anggota sufours.


"Aku pikir pertanyaanmu adalah pertanyaan penting, tapi kau hanya menanyakan hal tidak penting." Ucap Lisia.


"Pertanyaan keduaku, kenapa kau bisa baik-baik saja setelah melanggar sumpah?" Tanya Fal.


Biasanya, orang yang melanggar sumpah akan merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya, sehingga tidak bisa bergerak. Lalu, semakin tinggi peraturan yang dilanggar, maka semakin berat pula hukumannya.


Tapi, tadi setelah melanggar sumpah, dia hanya muntah darah sekali.


Kalau sekarang, tidak heran jika Lisia baik-baik saja, karena ada salah satu Kaisar di sini, yang bisa menghentikan hukumannya.


"Karena aku menahan hukuman itu menggunakan sihir. Tidak bisa ditahan selamanya, tapi bisa ditahan untuk beberapa saat." Ucap Lisia.

__ADS_1


Batu sihir tidak berubah warna, menandakan Lisia tidak berbohong.


"Apa kau membunuh teman-temanku, sepenuhnya karena perintah Kaisar? Atau, karena ada hal lain?" Tanya Fal.


Dia selalu penasaran akan hal itu. Dia mendengar dari orang yang menyelamatkannya, kalau Lisia membunuh teman-temannya, bukan karena perintah Kaisar.


Lisia terdiam sejenak, "...aku diperintahkan oleh Kaisar, tapi aku juga memiliki alasan lain." Ucap Lisia.


Batu sihir tidak berubah warna, menandakan Lisia tidak berbohong.


"Apa alasannya?" Tanya Fal.


Lisia tersenyum, "Pertanyaanmu sudah habis, sekarang giliranku." Ucap Lisia.


Fal tidak senang, Lisia mengalihkan pembicaraan.


"Pertanyaan pertama, apa saja informasi yang kau tahu tentang penyelamatmu? Seperti ciri-cirinya, atau yang lain." Ucap Lisia.


"Dia adalah seorang pria. Dari tampilannya, sepertinya dia seusia denganku, tapi dia bilang jika usianya jauh lebih tua dariku. Rambutnya berwarna hitam, dan matanya berwarna emas. Lalu, dia juga sangat misterius, aku bahkan tidak mengetahui namanya. Dia banyak mengetahui tentang Narz, tapi saat aku bertanya bagaimana dia mengetahuinya, dia bilang dia diberitahu oleh seseorang. Lalu, dia juga yang memberiku petunjuk selama ini. Dan juga informasi." Ucap Fal.


Batu sihir tidak berubah warna, menandakan Fal tidak berbohong.


"Hanya itu? Apa kau tidak mengetahui keberadaannya?" Tanya Lisia.


"Apa itu pertanyaan keduamu?" Tanya Fal.


"Tidak." Ucap Lisia.


Jika itu pertanyaan keduanya, dia bisa menebak jawabannya. Pertanyaan itu hanya untuk memastikan saja.


"Apa saja yang dilakukan olehmu dan anggota-anggota organisasi penjahatmu itu?" Tanya Lisia.


"Pembunuhan, perampokan, memanfaatkan penduduk yang tidak bersalah, dan masih banyak lagi. Kalau mau, aku akan memberi daftarnya sebentar." Ucap Fal.


"Baiklah, sebentar tulis semuanya." Ucap Lisia.


"Pertanyaan ketiga, bagaimana kau bisa mengetahui kalau Van menyusup?" Tanya Lisia.


Lisia yakin, Fal juga tidak bisa merasakan aura keberadaan Van, sama seperti dirinya. Tapi, kenapa Fal bisa mengetahui jika Van menyusup?


"Orang yang menyelamatkanku itu yang memberitahu padaku, bahkan termasuk kalau kau berada di sana." Ucap Fal.


Batu sihir tidak berubah warna, menandakan jika Fal tidak berbohong.


"Sekarang pertanyaanmu sudah habis." Ucap Fal.


Lisia tersenyum, "Karena urusanku sudah selesai, aku pergi dulu. Jangan lupa untuk menulis semua daftar kejahatanmu dan organisasimu." Ucap Lisia.


"Nama organisasi penjahat yang aku buat adalah organisasi black two." Ucap Fal.


"Kau mengambil namanya dari organisasi penjahatmu sebelumnya ya." Ucap Lisia.


"Meski begitu, organisasi black dan organisasi black two berbeda. Tidak akan ada yang bisa menggantikan organisasi black." Ucap Fal.


Ucapannya itu bermaksud untuk menyinggung Lisia yang telah menghancurkan organisasinya, tapi Lisia tidak menghiraukannya.


Lisia berdiri, dia berbalik dan berjalan pergi. Saat sampai di depan pintu, dia berhenti.


Lisia menoleh, "Oh iya, jika lukamu tidak segera diobati, kau bisa mati loh." Ucap Lisia tersenyum.


"Aku tahu." Ucap Fal.


Lisia membalasnya dengan senyuman, lalu dia kembali berjalan pergi dari sana.


Kepala sekolah memberikan kertas dan pulpen kepada Fal, "Sekarang tulis semua kejahatanmu di sini." Ucap kepala sekolah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2