
[Pertandingan selanjutnya Arlisia Erisla de Arrilla dari kelas 1.A vs Aria Kania de Erlin dari kelas 1.A!]
Lisia dan Aria masuk ke arena dari arah berlawanan.
[Mulai!]
Aria bergerak dengan cepat dan menyerang Lisia. Lisia menghindari serangan Aria, 'Aria tidak hanya mengandalkan kekuatan, tetapi juga kecepatan.'
Lisia melapisi tangannya menggunakan sihir lalu memukul Aria.
Aria melapisi tangannya menggunakan sihir dan menahan pukulan Lisia.
Lisia menjauh dari Aria. Begitu pula dengan Aria, dia juga menjauh dari Lisia.
'Saat melihat aku ingin menyerang, dia bergerak dengan cepat dan menahan kekuatanku. Jika aku tidak mengimbangi kecepatannya, maka kecepatannya itu akan menjadi masalah.' Lisia mulai menyusun strategi untuk mengalahkan Aria.
'Lisia, dia adalah lawan yang kuat. Rumor memgenai kekuatannya pun sudah menyebar sampai ke kekaisaran Erlin. Aku harus berhati-hati.' Batin Aria waspada.
Aria bergerak dengan cepat dan berada tepat di depan Lisia. Lisia memukul Aria menggunakan tangannya yang dilapisi sihir.
Tubuh Aria menghilang menjadi debu.
Ya, itu adalah sihir bayangan.
Aria yang asli muncul dari bawah tanah tepat di belakang Lisia.
Aria yang asli telah memegang pedang di tangannya dan mencoba menyerang Lisia.
Lisia tersenyum, pedang Aria tertahan oleh sebuah tembok tak kasat mata. Itu adalah sihir pelindung milik Lisia.
Tepat setalah Lisia berbalik, sihir pelindungnya pecah. Serangan Aria sedikit lagi mengenai Lisia, tetapi Lisia bergerak dengan cepat dan berada tepat di sebelah Aria.
Di tangan Lisia, muncul sebuah pedang. Lisia menyerang Aria, tetapi Aria dengan cepat memahan serangan Lisia.
"Strategi yang bagus, tetapi sayang sekali, keberadaanmu masih bisa aku rasakan." Ucap Lisia.
"Sejak awal, aku sudah menduga kalau tidak akan semudah itu untuk mengalahkanmu." Baik nada bicara maupun wajah Aria datar. Dia tidak bereaksi apa-apa.
***
Hain tersenyum, 'Lisia tidak akan semudah itu untuk dikalahkan.'
'Jika tidak dapat mengimbangi kecepatannya, maka akan sulit untuk mengalahkan Aria.' Zen menatap Aria yang berada di arena.
***
"Aku terkesan dia bisa menghadapinya dengan tenang." Ucap Axel yang menyaksikan pertandingan itu dari jauh.
"Itu karena Putri tetap berpikiran tenang." Ucap Rill.
"Justru karena itu. Kenapa dia bisa tenang-tenang saja?" Ucap Ain.
"Karena panik tidak akan menyelesaikan masalah." Rill mengucapkannya tanpa menatap ke arah Ain dan masih fokus menatap ke arena.
Cain menatap Rill yang menatap ke arena. Dia tersenyum jahil, "Rill, dari dulu aku selalu berpikir ini aneh."
Rill tidak membalas perkataan Cain, dia tetap melihat ke arena.
"Saat itu, kau ikut keluar akademi untuk berjalan-jalan, padahal kau itu pemalas, kenapa malah ikut? Lalu, kau juga mengikuti Lisia. Jangan-jangan..." Cain memberhentikan ucapannya, lalu menatap Rill dengan tatapan jahilnya.
Rill mengerutkan keningnya mendengar ucapan Cain.
"Astaga~ ternyata seperti itu ya, Rill." Axel menatap Rill dengan tatapan jahil.
"Sekarang aku mengerti." Ain mengangguk-anggukkan kepalanya.
Rill memilih untuk tidak mempedulikannya. Jika dia membantah, maka dia akan dituduh menyembunyikannya.
__ADS_1
***
Lisia menjauh dari Aria.
Aria memanfaatkan kesempatan itu, dia meningkatkan kecepatannya dan menyerang Lisia.
Lisia menahan serangan Aria, tepat sebelum serangan Aria mengenai dirinya.
Lisia telah meningkatkan kecepatannya menggunakan sihir cahaya tingkat S.
Aria dan Lisia saling menyerang menggunakan pedangnya.
Mereka sangat cepat, sehingga para penonton tidak bisa melihat pertarungan itu dengan jelas.
Lantai arena mulai hancur karena pertarungan Aria dan Lisia.
***
"Pertarungannya semakin seru, kira-kira siapa yang akan menang?" Ucap Zerian, dia mulai bersemangat menyaksikannya.
"Mungkin adikmu, aku dengar dia memiliki kekuatan yang kuat." Ucap Acle.
Zerian tampak berpikir, "Lisia memang kuat sih, tapi kita tidak tahu kekuatan lawannya bukan? Bisa saja dia belum menggunakan seluruh kekuatannya."
"Setidaknya percayalah pada adikmu." Ucap Acle.
Zerian menatap Acle dengan tatapan horor, "Kau Acle bukan? Apa kau kerasukan? Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal bijak seperti itu?"
Acle mendadak kesal karena ucapan Zerian, "Tidak!"
"Lisia akan menang."
Zerian dan Acle menoleh saat mendengar suara itu.
Orang yang mengucapkannya adalah Irisa. Dia baru saja tiba di tempat penonton dan tanpa sengaja dia mendengar percakapan Zerian dan Acle.
Irisa menatap Zerian, lalu dia duduk di sebelah Zerian.
"Aku tidak memiliki hak untuk melarangmu duduk di sini." Ucap Zerian tersenyum.
Suasana mereka tiba-tiba menjadi canggung setelah kedatangan Irisa.
Lagipula, itu adalah tujuan Irisa. Karena sedari tadi Zerian dan Acle sangat ribut.
***
Kembali ke arena, di mana Lisia dan Aria masih bertarung saat ini.
'Jika seperti ini terus, pemenangnya tidak akan terlihat.' Batin Lisia.
Lisia menyimpan kembali pedangnya. Dia menahan serangan Irisa menggunakan tangannya yang telah dilapisi sihir.
Lisia segera menjauh dari Aria.
Lisia mengeluarkan pedang Hearly kembali.
Dia menatap tajam Aria, 'Sekarang, saatnya untuk serius.'
Aria juga mulai serius saat melihat ekspresi Lisia.
Lisia bergerak dengan cepat dan berada di depan Aria.
Aria menghindari serangan Lisia.
Lisia meningkatkan kecepatannya dan terus menyerang Aria. Semakin lama, kecepatan Lisia terus menambah.
Aria semakin kesulitan menahan serangan Lisia. Tetapi, dia juga ikut menambah kecepatannya agar masih bisa menahan serangan Lisia.
__ADS_1
"Aku terkesan kau bisa bertahan sejauh ini, Aria." Ucap Lisia.
"Jangan meremehkanku." Ucap Aria.
Kecepatan Aria bertambah, dia menusuk perut Lisia dan Lisia terkena serangan itu.
"Lisia!"
"Arlisia!"
"Putri!"
Beberapa orang meneriaki nama Lisia.
Tubuh Lisia berubah menjadi pecahan es. Itu bukanlah tubuh asli Lisia, melainkan sihir bayangan.
Beberapa orang menghela napas lega saat mengetahuinya.
Lisia yang asli berada jauh di depan Aria.
Lisia mengangkat pedangnya ke atas dan menutup matanya.
Lisia membuka matanya, bersamaan dengan itu dia menyerang menggunakan pedangnya dan berhasil mengenai Aria.
"Aria!"
Beberapa orang meneriaki nama Aria.
Aria telah pingsan saat ini.
Lisia menyimpan kembali pedang Hearly.
[Pemenangnya, Arlisia Erisla de Arrilla dari kelas 1.A!]
Tepat setelah itu, para penonton bersorak
Tim medis masuk ke arena dan membawa Aria pergi ke ruang pengobatan menggunakan tandu.
Lisia juga pergi dari arena.
Perlahan, arena yang hancur kembali seperti semula.
***
"Rill, kau terlihat sangat khawatir saat melihat Lisia tertusuk tadi." Ejek Cain.
"Lalu setelah mengetahui itu hanya bayangan, kau bernafas lega." Ejek Ain.
"Jujur saja, kau benar-benar menyukai Lisia bukan?" Ejek Axel.
Rill tidak mempedulikan ejekan dari ketiga temannya itu. Lagipula, mereka akan semakin mengejeknya jika Rill membalas perkataan mereka.
***
Irisa bernafas lega, 'Kau berhasil menang, Lisia.' Batinnya.
"Adikmu benar-benar hebat, Zerian. Tidak seperti kakaknya yang payah." Ejek Acle.
Zerian mendadak menjadi kesal karena ejekan Acle.
Suasana canggung diantara mereka tadi telah menghilang.
***
'Aku sempat berpikir kalau kau tidak berniat untuk ikut di turnamen ini. Tapi sepertinya, itu tidak benar, Arlisia.' Batin kepala sekolah.
***
__ADS_1
'Hebat.' Batin Hain.
Bersambung...