Magic Academy

Magic Academy
80. Pertandingan keempat (2)


__ADS_3

Lisia, Xava dan Hain masuk ke arena.


Tak lama kemudian, muncul sebuah meja. Di meja itu, terdapat beberapa lembar kertas dengan warna merah, biru dan kuning.


[Silahkan memilih satu warna! Warna yang kalian pilih akan menentukan soal yang kalian dapat! Dan kalian harus memilih warna yang berbeda dengan teman kalian! Jadi, silahkan memilih dengan baik!]


Lisia mengambil kertas warna merah, "Aku akan memilih warna merah." ucapnya kepada Xava dan Hain.


Sedangkan Hain mengambil kertas berwarna biru, "Aku biru."


Xava mengambil kertas berwarna kuning, "Kalau begitu, aku akan memilih warna kuning."


Setelah semua orang memilih warna, sebuah lingkaran sihir besar muncul dan 36 pasang kursi dan meja keluar dari lingkaran sihir itu.


[Silahkan duduk! Kalian bisa duduk di kursi mana pun.]


Para perwakilan akademi memilih tempat duduknya masing-masing.


Tak lama kemudian, para profesor Magic Academy masuk ke arena dan membagikan soal kepada mereka.


Seperti yang dikatakan pembawa acara tadi, soal yang didapat tergantung warna yang dipilih.


Setelah para profesor membagikan soal, mereka pergi dari arena.


[Batas mengerjakan soal adalah 1 jam.]


[Pertandingan keempat.... dimulai!]


Para peserta mulai membaca soal yang mereka dapatkan dan mengerjakannya.


Lisia menuliskan nama dan asal akademinya di kertas jawaban. Kemudian, dia membaca soal yang dia dapat.


'Wah... sepertinya aku kurang beruntung kali ini.' batin Lisia menatap soal-soal itu.


Soal yang dia dapat cukup sulit. Lisia mengerjakan soal itu dari soal yang menurutnya paling mudah diantara soal yang lain.


Sementara perwakilan yang lain, ada yang kesulitan. Tapi ada pula yang mengerjakan soal itu dengan tenang.


[Peserta di baris ke 4, kursi ke 3 dari kanan, menyontek!]


Mendengar perkataan pembawa acara, Lisia menoleh ke sebelah kirinya, dimana orang yang disebutkan itu duduk tepat di sebelah kirinya.


"Aku tidak menyontek!" Orang itu mencoba mengelak.

__ADS_1


Sebuah layar muncul, memperlihatkan kalau orang itu menggunakan sihirnya untuk melihat jawaban perwakilan lain.


[Kau didiskualifikasi, silahkan kembali ke ruang tunggu!]


"Tidak! Aku tidak menyontek! Pasti ada yang salah—" Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, seseorang menggunakan sihir angin untuk membawanya keluar dari arena.


Setelah orang itu pergi, kertas soal dan kertas jawaban orang itu kemudian menghilang perlahan-lahan seperti terbakar, bersama dengan kertas warnanya yang berwarna biru.


Para peserta lain yang melihatnya berkeringat dingin, memikirkan bagaimana jika mereka yang di posisi itu.


Hain menatap Lisia yang berada di sebelah orang yang baru saja didiskualifikasi, dia menghela napas lega karena bukan Lisia yang didiskualifikasi. Saat mendengar mengenai baris ke 4, dia sempat panik karena Lisia duduk di baris itu.


Waktu terus berjalan,


[Peserta baris ke 2, kursi pertama dari kanan, menyontek.]


[Peserta baris ke 5, kursi ke 2 dari kanan, menyontek.]


[Peserta baris ke 2, kursi keempat dari kanan, menyontek.]


Semakin banyak perwakilan akademi yang didiskualifikasi karena ketahuan menyontek.


Lisia membaca soal itu dengan baik, hanya tersisa beberapa nomor untuk dia jawab.


Lisia mengingat sesuatu, dia membaca kembali soal nomor 5 yang belum dijawabnya. Kemudian dia menjawab soal nomor 5 itu berdasarkan apa yang dia ingat.


Lisia kembali mengerjakan soal lain, dengan mengingat apa yang dulu dia pelajari.


Tepat di belakang Lisia, seseorang yang juga memilih warna merah, mencoba menyontek jawaban Lisia.


Lisia menyadari kalau orang itu akan menyontek, "Kau ingin didiskualifikasi ya?" ucap Lisia tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas soalnya.


Orang itu terkejut karena Lisia menyadarinya, "Hah? Kau menuduhku menyontek?!" dia mencoba mengelak.


Lisia melihat orang itu, "Aku tidak menyebutkan kalau itu kau, tapi kau langsung mengelak. Apa itu bisa disebut sebagai pengakuanmu?"


"Kau!" Orang itu menaikkan suaranya, membuat para penonton menatap ke arahnya.


[Peserta baris ke 5, kursi ke 2 dari kanan mencoba menyontek dari peserta baris ke 4, kursi ke 2 dari kanan! Kau didiskualifikasi!]


"Apa-apaan ini?! Aku tidak melakukannya!" Orang itu mencoba mengelak.


Sebuah layar muncul, memperlihatkan kalau orang itu benar-benar ingin menyontek dari Lisia, tetapi Lisia menyadarinya.

__ADS_1


Orang itu terkejut melihat layar itu, "Itu tidak benar!"


Sebuah sihir angin menyeret orang itu untuk keluar dari arena, "Tidak! Ini tidak benar! Aku tidak menyontek!" Orang itu terus memberontak, bahkan mencoba menggunakan sihirnya, tetapi gagal.


Orang itu menatap Lisia dengan tatapan penuh dendam, 'Aku akan membalasmu, perwakilan Magic Academy!'


Lalu, kertas soal dan kertas jawaban orang itu perlahan menghilang bersama dengan kertas warnanya yang berwarna merah.


***


[Waktu habis!]


Pena yang digunakan para perwakilan menghilang, membuat mereka berhenti menulis.


[Nilai dan juara pertandingan keempat ini diumumkan 1 jam lagi! Silahkan beristirahat terlebih dahulu!]


Para perwakilan akademi yang berada di arena maupun ruang tunggu kemudian pergi dari sana. Para penonton juga meninggalkan tempatnya.


"Apa soalnya mudah, Lisia?"


Lisia menoleh dan melihat Hain, "Sulit." ucapnya, "Kalau kau?"


"Sulit juga." ucap Hain.


Xava menghampiri Lisia dan Hain, "Seharusnya aku tidak memilih warna kuning..." ucapnya.


"Apa soalnya sulit?" tanya Lisia.


"Sangat sulit."


***


"Hei, kau!"


Lisia berhenti berjalan saat mendengar sebuah suara dari belakang, dia menoleh dan melihat orang yang tadi menyontek kepadanya, "Kenapa?"


"Beraninya kau membuatku malu!" Orang itu menatap Lisia dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.


"Aku hanya memperingatimu, tapi kau malah berteriak dan membuat dirimu sendiri dipermalukan." ucap Lisia.


"Aku pasti akan membalasmu!" Dia menatap Lisia dengan tatapan penuh dendam, "Namaku Gell Cirze, ingat itu baik-baik!" ucapnya lalu pergi dari sana.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2