
Identitas Kalia saat ini sedang diperiksa. Zen melihat mayat Kalia, dia tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Kalia.
Entah kenapa, dia merasakan firasat buruk.
Zen melihat mayat Kalia, dia menyentuh mayat itu. Zen terkejut 'Ini bukanlah tubuh aslinya!' Pikir Zen.
***
Di sebuah tempat, tampak selir kelima sedang berbicara dengan seorang pria yang memakai topeng.
"Bagaimana?" Tanya selir kelima pada pria tersebut.
"Seperti yang anda perintahkan, nyonya. Anak buah saya telah melawan pangeran kedua, meski dia dan pangeran kedua sama-sama tidak menggunakan kekuatan aslinya, dia bisa merasakan kalau kekuatan pangeran kedua sangat hebat. Karena itu, saya telah menyusun rencana agar anda bisa menyingkirkan pangeran kedua, beserta ibunya." Ucap pria bertopeng tersebut.
"Kalau begitu, gunakan rencana itu untuk menyingkirkan ibu dan anak itu." Perintah selir kedua.
"Baik, nyonya." Ucap pria bertopeng.
Di balik topengnya, pria itu menyeringai. Dia melihat selir kelima 'Sangat mudah untuk dibodohi.' Pikirnya.
***
Malam harinya
"Bagaimana keadaan di istana?" Tanya pria bertopeng tersebut pada anak buahnya.
Kalia menggunakan sihirnya untuk memantau keadaan istana dari jauh "Para penjaga menjaga istana dengan ketat, meski sudah malam tapi mereka tidak lelah." Ucap Kalia.
"Itu wajar, karena mereka adalah penjaga istana, pasti mereka telah terlatih." Ucap pria bertopeng.
"Jadi, kapan kita menyerang?" Tanya Kalia.
"Sekarang." Ucap pria bertopeng.
Kalia tersenyum, dia menggunakan sihirnya untuk menciptakan banyak bayangan dan menyerang istana.
Para penjaga melindungi istana, mereka bertarung dengan para bayangan Kalia.
Sementara itu, Kalia dan pria bertopeng itu pergi ke istana selir pertama.
***
Zen segera terbangun saat mendengar keributan. Dia keluar dari kamarnya dan bergegas pergi keluar istana.
Di luar istana, dia bertemu dengan seorang pria yang memakai topeng dan gadis yang ditemuinya kemarin, Kalia.
'Kalia! Lalu di sampingnya itu, pasti tuannya!' Pikir Zen.
Zen mengeluarkan pedangnya, dia menyerang pria bertopeng yang merupakan tuan Kalia. Kalia mengeluarkan pedangnya juga dan menahan serangan Zen.
Kalia menatap tajam Zen "Lama tidak bertemu, Zen." Sapa Kalia.
Zen mengangkat pedangnya dan kembali menyerang Kalia "Kita baru bertemu kemarin." Zen membalas dengan dingin.
__ADS_1
"Jadi yang aku lawan kemarin itu adalah bayangan, pantas saja dia mengatakan kalau dia tidak akan bisa menang melawanku." Ucap Zen.
"Kau telah menyadarinya ya, padahal aku menggunakan sihir bayangan peringkat S loh." Ucap Kalia tersenyum.
Dari tatapan Kalia, dia bisa merasakan kalau Kalia meremehkannya.
Zen memperkuat pedangnya menggunakan sihir lalu menyerang Kalia.
Sementara itu, pria bertopeng tersebut telah pergi tanpa disadari oleh Zen dan Kalia.
***
Ales yang mendengar keributan segera bangun dari tidurnya. Dia bergegas untuk melindungi Evia.
Ales berlari dan pergi ke kamar Evia, sesampainya di sana, seorang pria bertopeng berada di depan pintu kamar Evia.
Ales mengeluarkan pedangnya dan menyerang pria bertopeng itu. Pria bertopeng itu menghindari serangan Ales.
Ales menatap tajam pria bertopeng tersebut. Ales menyerang pria bertopeng itu, pria bertopeng itu menahan serangan Ales menggunakan satu jari.
Pria bertopeng itu lalu menendang Ales sampai dia terbentur di pintu kamar Evia.
***
Evia terbangun mendengar suara keributan di depan pintu kamarnya.
"Musuh?" Evia waspada.
Evia bangun, dia mengambil jubah lalu memakainya.
Evia membuka pintu kamarnya, dia melihat Ales yang sedang sedang bertarung dengan seorang pria bertopeng.
Evia terkejut melihat keadaan Ales, dia terluka.
"Ales!" Ucap Evia.
Ales menoleh "Yang Mulia! Tetaplah di dalam kamar anda!" Ucap Ales.
Pria bertopeng itu mengambil kesempatan itu dan menyerang Ales.
Evia yang melihat itu lalu berteleportasi ke depan Ales dan menahan serangan pria bertopeng itu menggunakan sihir pelindung.
Evia tidak terlalu mahir dalam sihir penyerang, tapi dia mahir dalam menggunakan sihir pelindung. Sebagai ganti dari sihir penyerangnya, dia bisa menggunakan pedang.
Evia menatap pria bertopeng yang berada di depannya 'Dia kuat! Aku tidak boleh gegabah!' Pikir Evia.
Evia melihat Ales, Ales terluka cukup parah. Dalam keadaan seperti ini, Evia tidak mungkin mengandalkan Ales untuk melindunginya.
Evia kembali melihat ke pria bertopeng itu, dia terkejut saat melihat orang bertopeng itu sudah berada tepat di depannya.
Pria bertopeng itu menendang Evia membuatnya terbentur di tembok 'Aku lengah!' Batin Evia.
"Evia!" Ales meneriaki nama Evia, dia berusaha berdiri, tapi tidak bisa.
__ADS_1
Evia berusaha menggunakan sihir penyembuhnya untuk menyembuhkan dirinya, tapi entah kenapa sihir penyembuhannya tidak berfungsi.
'Eh? Tidak bisa? Kenapa?' Pikir Evia.
Pria bertopeng itu mendekati Evia "Percuma saja, kau tidak akan bisa mengalahkanku." Ucap pria bertopeng itu.
"Evia!" Ales berusaha berdiri, tapi dia terjatuh kembali.
Pria bertopeng itu mengeluarkan pedangnya dan menusuk jantung Evia.
"Evia!" Teriak Ales.
***
'Ibu?!' Batin Zen.
Zen berhenti menyerang Kalia, dia melihat ke arah dimana kamar ibunya berada. Dia merasakan firasat buruk mengenai ibunya.
Zen pergi meninggalkan Kalia 'Semoga ibu baik-baik saja!' Harapnya.
Kalia tidak menghentikan Zen, dia mengembalikan pedangnya lalu pergi ke tempat dimana tuannya berada.
***
"Tidak... Evia..." Tubuh Ales gemetar, dia melihat kematian orang yang dicintainya dengan mata kepalanya sendiri.
Ales berusaha berdiri, tapi dia terjatuh lagi. Dia menatap pria bertopeng itu dengan penuh kebencian.
Pria bertopeng itu mendekati Ales "Kau ingin membunuhku? Aku tahu aku yang membunuh Evia, tapi aku hanyalah seorang pembunuh bayaran. Pastinya, aku disuruh oleh seseorang bukan? Apa kau ingin tahu siapa orang sebenarnya dibalik semua ini?" Pria bertopeng itu berusaha memprovokasi Ales.
'Yang ingin membunuh Evia, siapa?' Batin Ales. Dia termakan ucapan pria bertopeng itu.
Pria bertopeng itu tersenyum "Apa kau ingin menghidupkan kembali Evia?"
Ales menatap pria bertopeng itu, di matanya terlihat harapan.
"Kalau begitu, ikutlah denganku." Pria bertopeng itu mengulurkan tangannya pada Ales.
Ales menerimanya, dia menatap tajam pria bertopeng itu "Jika kau berbohong, maka aku akan membunuhmu!"
"Silahkan." Ucap pria bertopeng itu tersenyum 'Itupun bila kau bisa' Lanjutnya dalam hati.
***
Zen telah sampai di depan kamar ibunya, yang didapatinya saat ini adalah ibunya yang telah tak bernyawa.
"Ibu..." Tangan Zen gemetaran, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Penjaga! Penjaga!" Zen memanggil penjaga.
Tak lama, para penjaga datang.
"Ada apa, Pangera–" Ucapan penjaga itu berhenti saat melihat selir pertama yang telah tak bernyawa.
__ADS_1
"Nyonya?"
Bersambung...