
Narz menatap Lisia dengan tatapan tajam.
Kalia bingung, dia tidak tahu apa pun tentang sufours.
Narz memperhatikan Lisia, dari penampilannya, Lisia masih kecil, sepertinya dia baru saja bergabung dengan sufours. Kemungkinan, Lisia tidak ada hubungannya dengan kematian Axena.
"Kau hanyalah anak-anak, tapi... anak-anak atau orang dewasa, semua anggota sufours adalah ancaman bagi kami. Maaf saja, tapi kau harus mati." Ucap Narz serius.
Lisia memegang pedang itu.
Narz mengerutkan kening, dia bingung kenapa Lisia memegang pedang itu.
Tiba-tiba, pedang itu hancur berkeping-keping. Narz segera melepas pedang itu dan mundur. Dia waspada pada Lisia.
Lisia menyeringai, "Kau adalah ketua organisasi black bukan? Namamu kalau tidak salah adalah Narz."
Narz terkejut, 'Dari mana dia mengetahui namaku?'
Lisia mengeluarkan belati, lalu dengan cepat berada di depan Narz dan menusuknya menggunakan pedang itu.
"Karena sebentar lagi kau akan mati, maka aku akan memperkenalkan diriku. Aku adalah salah satu ketua sufours, Arlisia." Lisia tersenyum, seakan mengejek Narz.
Kalia yang berada di sebelah Narz terkejut, dia segera mengeluarkan pedangnya dan menyerang Lisia.
Lisia menghindari pedang itu, lalu dia dengan cepat berada di belakang Kalia dan menusuk Kalia menggunakan belati yang sama.
"Kalia!"
Narz merasakan sakit yang luar biasa, dia berteriak kesakitan.
"Sebelum menyusun rencana ini, aku telah mencari tahu banyak hal tentang kalian. Aku tahu, di kelompok kalian, hanya Alaya yang memiliki ketahanan kuat pada racun." Ucap Lisia.
"Oh, Axena juga, tapi dia telah mati 4 tahun yang lalu." lanjut Lisia.
Narz menatap Lisia, "D-dari mana... kau mengetahui... semua.. itu?" Dia mencoba menahan rasa sakitnya akibat racun.
Lisia hanya tersenyum, senyumnya menjawab pertanyaan Narz.
"Apa orang yang membunuh Axena, adalah kau?" Tanya Narz.
Narz dan Kalia terjatuh di tanah, mereka pingsan sebelum mendengar jawaban dari Lisia.
"Kurang tepat." Ucap Lisia setelah Narz dan Kalia pingsan.
***
Dari jauh, seorang gadis berambut merah yang merupakan bawahan Azarka melihat kejadian itu.
Dirinya yang sebelumnya berniat untuk membunuh Lisia, kemudian menjadi ragu.
__ADS_1
Akara tiba-tiba berada di depannya. Akara menatap dirinya dengan tatapan dingin.
Gadis berambut merah itu segera menyerang Akara menggunakan sihir.
Akara menghindari serangan itu dengan sangat mudah.
Gadis berambut merah itu gemetar ketakutan, dia bisa merasakan tekanan yang sangat kuat dari gadis di depannya.
Akara melapisi tangannya menggunakan sihir dan memukul gadis itu dengan kuat. Akara lalu menggunakan sihirnya dan membakar gadis itu.
Setelahnya, Akara menghampiri Lisia.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Akara.
"Tinggalkan saja mereka di sini, warga akan menemukan mereka." Ucap Lisia.
Lisia menyimpan pedangnya kembali. Dia dan Akara pergi dari sana, meninggalkan Kalia dan Fal yang terkena racun.
Sebelum itu, Lisia menaruh surat di saku pakaian Kalia.
***
Seperti yang dikatakan Lisia, warga menemukan Kalia dan Fal. Mereka membawa Kalia dan Fal ke rumah sakit dan kabar itu sampai ke Fal, Alaya dan Rin.
Mereka bertiga segera pergi ke rumah sakit.
Dokter memberikan surat yang ditaruh Lisia di saku pakaian Kalia.
Bagaimana kondisi Kalia dan Narz? Astaga, kenapa aku bertanya lagi? Pastinya mereka sedang dalam kondisi kritis saat ini.
Aku memiliki penawar racun, jika kalian menginginkannya, maka datanglah ke bangunan tua yang berada di sebelah selatan kota ini.
Oh iya, yang boleh datang hanya Rin saja. Jika ada orang yang datang selain Rin, jangan salahkan aku jika dia mati.
Rin merobek surat itu.
"Kenapa kau merobeknya!" Alaya memarahi Rin.
"Aku akan datang ke sana." Rin berbalik.
"Sekarang?" Tanya Alaya.
"Lalu kapan? Kondisi mereka sangat parah! Lagipula, di surat itu tidak disebutkan waktunya, hanya ada tempatnya saja." Ucap Rin lalu pergi dari sana.
"Ternyata dia bisa pintar juga.." Gumam Alaya.
"Tapi tetap saja aku khawatir..." Alaya teringat saat dia menemukan mayat Axena, dia tidak ingin itu juga terjadi pada Rin.
***
__ADS_1
Di bangunan tua itu, Lisia dan Akara sedang menunggu Rin.
"Sekarang, katakan padaku apa rencanamu." Ucap Akara. Dia tidak mengerti dengan rencana Lisia.
"Azarka, orang itu bukanlah orang yang akan menunjukkan keberadaannya sejelas itu untuk orang yang dianggapnya sebagai alat biasa. Singkatnya, dia menginginkan salah satu dari anggota organisasi black, lebih tepatnya kekuatannya." Ucap Lisia.
"Lalu kau pikir orang itu adalah Rin?" Tanya Akara.
"Berbeda dari penampilanmu, ternyata kau orangnya cepat tanggap juga." Ucap Lisia.
Akara kesal karena ucapan Lisia, "Kau pikir aku bodoh?"
"Bukankah begitu?" Tanya Lisia.
"Tapi, kenapa Rin?" Tanya Akara.
"Lalu siapa? Azarka tidak mungkin menjadikan Narz ketua kelompok jika orang itu adalah Narz. Kalia dan Fal juga tidak mungkin, mereka baru bergabung dengan organisasi black 6 tahun yang lalu, sementara organisasi black sudah ada sejak 8 tahun yang lalu. Jadi yang tersisa hanya Rin dan Alaya. Mengenai Alaya, aku tidak bisa merasakan bakat apa pun darinya. Jadi yang tersisa hanya...."
Pintu bangunan tua itu terbuka, Rin masuk ke bangunan tua itu.
"...Rin." Ucap Lisia.
Rin menatap tajam Lisia, "Di mana penawar racunnya?" Tanya Rin.
Lisia tersenyum, "Tidak ada."
"Kau!" Rin membakar sekitarnya, api itu menjalar ke tempat Lisia, Akara segera menghindari api itu sementara Lisia masih diam di tempatnya.
"Tenanglah, kau ingin membakar seluruh kota ini?" Lisia berusaha menenangkan Rin yang marah.
Lisia mengeluarkan sebuah botol kecil lalu menunjukkan botol itu pada Rin, "Aku hanya bercanda, ini penawar racunnya." Lisia tersenyum.
Rin bergerak dengan cepat, dia tiba-tiba berada di depan Lisia dan mengambil penawar racun itu.
Rin tersenyum puas saat melihat botol itu berada di tangannya, tapi botol itu tiba-tiba berubah menjadi abu. Senyum Rin menghilang, digantikan dengan ekspresi marah, dia menatap Lisia dengan tatapan tajam.
Lisia menunjukkan botol itu yang masih berada di tangannya, "Biar pun kau berhasil mengambilnya, tapi botol penawar racun itu hanya satu. Sementara ada 2 orang yang terkena racun." Lisia tersenyum.
"Apa yang kau inginkan?!" Tanya Rin.
"Bergabunglah denganku." Ucap Lisia.
***
Di tempat lain, tampak Azarka yang sedang memperhatikan Lisia dan Rin dari sebuah layar.
"Dia telah mengetahui rencanaku ya.." Gumam Azarka.
"Bahkan salah satu bawahanku juga telah dibunuh olehnya." Azarka menyeringai, "Tapi, mengetahui rencanaku belum tentu bisa menggagalkannya."
__ADS_1
Bersambung...