
Sesampainya di bandara, Livy mencoba menenangkan suaminya yang masih terlihat marah gara-gara ucapannya tadi. jujur saja ini adalah pertama kalinya Livy melihat kemarahan Febian. Selama ini pria itu memang selalu hangat padanya.
Sedangkan Dewa sendiri yang berjalan di belakang majikannya membawa koper Febian hanya diam saja. dia juga merasa tidak enak karena secara tidak langsung mendengar peretengkaran majikannya.
Kini Livy sudah berdiri di gate keberangkatan. Dia memeluk erat suaminya yang masih menunjukkan wajah mendungnya. Febian hanya membalas pelukan itu tanpa mengucap sepatah kata pun.
“Hati-hati ya, Bi! Kabari aku kalau sudah sampai.” Ucap Livy setelah mengurai pelukannya.
Febian memaksakan senyum dan mengangguk kecil. Dia mengecup kening istrinya sebelum melakukan check in. Pria itu hanya melambaikan tangan lalu menarik kopernya meninggalkan Livy.
Setelah memastikan suaminya berangkat, Livy pun segara meminta Dewa untuk mengabtarnya pulang. masih dengan wajah sendu, Livy duduk di samping Dewa. Dewa sendiri juga bingung. Apa pantas jika dia mencoba menghibur Livy. karena dia juga tidak tega melihat Livy bersedih seperti itu. apalagi mendengar secara langsung pertengakaran wanita itu dengan suaminya.
Dewa pun tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Berharap perasaan Livy sedikit lebih tenang. Namun tiba-tiba saja ia mendengar isakan lirih dari arah samping. Mencoba melirik sebentar, ternyata Livy sedang mengusap air matanya dengan tatapan tertuju ke luar jendela.
“Nona, apa anda baik-baik saja?” akhirnya Dewa memberanikan diri bertanya pada Livy. dia juga sangat khawatir dengan wanita itu.
“Bawa aku kemana saja, Wa! Aku ingin menenangkan diri.” Jawab Livy dengan suara masih terisak.
Dewa hanya mengangguk. Dia memutar balik mobilnya mencari tempat yang paling nyaman untuk menenangkan diri. Tempat apa lagi kalau bukan pantai. Berdasarkan penelitian ilmiah, pantai disebut-sebut sangat baik untuk otak karena membuat perasaan dan pikiran menjadi bahagia, tenang, dan kembali bersemangat.
Kebetulan kawasan pantai sangat dekat dengan bandara. Jadi belum terlalu jauh arah jalan yang akan Dewa tuju. Livy sendiri pasrah, kemana Dewa akan membawanya pergi. Karena saat ini dia benar-benar butuh ruang dan waktu untuk menenangkan hatinya yang sedang kalut.
Sesampainya di pantai, Livy segera turun saat Dewa sudah membukakan pintu untuknya. Livy melepas sepatunya dan memilih bertelanjaang kaki untuk menikmati sentuhan pasir putih secara langsung.
Deburan ombak dengan riakan air yang menyentuh kaki Livy, membuat wanita itu merasa lebih tenang. Selama ini memang dia tidak pernah datang ke tempat seperti ini. hidupnya memang benar-benar monoton, dan hanya dipenuhi oleh Febian. Namun sayangnya hari ini dia merasa kecewa dengan suaminya. apakah boleh Livy curiga terhadap suaminya sendiri. Apa hanya karena tidak ingin kehilangan cintanya, pria itu tidak menginginkan anak dari pernikahannya. Apa ada alasan tersendiri yang tidak ia tahu.
Kalaupun Febian mau menganut paham Childfree, bukankah itu harus ada kesepakatan antar kedua belah pihak. Yaitu suami dan istri. Dan alasannya pun juga harus masuk akal. Tapi itu semua bagi Livy tidak masuk akal.
__ADS_1
Selama ini Livy sudah cukup tahu tentang sosok suaminya. selama mengenal Febian, baik sebelum maupun sesudah menikah, Febian adalah pria yang sangat baik dan tidak ada tanda-tanda ke arah selingkuh. Hanya saja sejak dulu Mama dan Kakaknya kurang suka dengan sifat Febian yang sedikit arogan. Lalu, apa hanya alasan simple itu yang membuat Febian tidak menginginkan anak dari pernikahannya.
Livy duduk di tepi pantai dengan air mata yang sudah mengering karena diterpa oleh angin pantai yang semilir. Tapi hatinya tetap kecewa. Mencari solusi pun dia tidak bisa.
“Nona teriak saja jika ingin berteriak. Biar suasana hati anda lebih tenang.” Ujar Dewa yang sejak tadi berdiri di belakang Livy.
Livy menoleh ke arah Dewa. Dia membenarkan ucapan Dewa. Apalagi suasana pantai yang sedang sepi. Karena pantai itu belum terlalu banyak yang menjamah. Hanya penduduk sekitar saja yang terlihat berkeliaran di sana.
Livy berdiri dan berjalan mendekati ombak yang akan datang. wanita itu merentangkan kedua tangannya lalu berteriak sekuat tenaga untuk melepas semua beban yang selama ini ada dalam hatinya.
Livy sudah tidak mempedulikan orang sekitar, termasuk Dewa. Dia terus berteriak berharap setelah ini ia menemukan kedamaian dalam hidupnya. Atau lebih tepatnya bisa ikhlas dengan jalan hidupnya yang sampai kapanpun dia tidak memiliki harapan menjadi seorang Ibu.
Dengan suara yang masih berteriak-teriak, tanpa sadar air mata Livy berjatuhan begitu saja. hatinya juga sakit mengingat perjalanan rumah tangganya selama ini. hingga membuatnya tergugu dalam tangis. Livy tidak menyadari kalau ia semakin melangkah ke depan mendekati ombak yang semakin besar.
Dewa buru-buru berlari menyelamatkan Livy saat ombak tinggi akan menerjang wanita itu. Apakah Livy memang berniat untuk bunuh diri. Sebesar apa sebenarnya beban wanita itu.
Dewa berhasil menarik Livy menjauh dan berlari. Namun tetap saja keduanya sempat terseret ombak. Livy pun masih tergugu dalam tangisnya dengan tangan memeluk erat tubuh Dewa.
“Nona, apa anda berniat bunuh diri?” Kesal Dewa setelah berhasil membawa Livy menepi.
Nafas Dewa masih tersengal. Dia juga sangat takut. Jika dia tadi tidak berhasil menyelamatkan Livy, pasti hidupnya setelah ini akan mendekam di balik jeruji besi.
Bukannya menjawab, Livy justru semakin kencang menangis. Suasana hatinya benar-benar tidak baik. Dewa pun sangat iba melihatnya. Tanpa berpikir panjang, dia menarik Livy ke dalam pelukannya.
“Maafkan saya, Nona!” sesal Dewa yang sudah bicara kasar pada Livy.
Livy hanya mengangguk kecil dengan tangis yang masih terdengar dalam pelukan Dewa. Dewa pun membiarkannya saja. tubuhnya pun masih terkena sapuan ombak.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Dewa sudah tidak mendengar lagi isakan Livy. lalu ia mencoba mengurai pelukannya, ternyata wanita itu tertidur dengan mata yang masih sembab.
Dewa pun akhirnya menggendong Livy dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dia merebahkan Livy di jog depan mobil. Sementara ia keluar dan membiarkan wanita itu pulas dalam tidurnya. Baju Livy yang basah pun sudah perlahan mengering.
Entah berapa lama Livy tertidur. Saat dia bangun, dia melihat langit sudah berganti warna. Matahari juga hendak kembali ke peraduannya. Lalu tatapan Livy mencari keberadaan seseorang yang tadi sudah menyelamatkannya dari ombak besar yang hendak menghantamnya.
Livy keluar dari mobil. Melihat Dewa sedang menghisap rokoknya sambil duduk di sebuah gubuk milik warga sekitar.
“Wa!” panggil Livy dengan keadaan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Nona sudah bangun? Maaf, saya tidak,-“
“Terima kasih. Terima kasih kamu sudah menyelamatkan aku dari ombak tadi.” sahut Livy.
“Hidup hanya sekali, Nona! Bukan saya mau menggurui anda. tapi alangkah baiknya jika anda melakukan banyak hal positif daripada merenungi kehidupan anda yang menurut anda sangat menyedihkan. Ehm, ini air kelapa untuk anda. pasti tenaga anda sudah terkuras banyak tadi.” ujar Dewa dengan memberikan sebuah kelapa muda lengkap dengan sedotannya di sana.
Livy menerimanya dengan tersenyum hangat pada Dewa. Dan kini jantung Dewa yang dibuat tidak aman akibat melihat senyum manis dari majikannya itu.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1