Main Hati

Main Hati
Eps 20 ~ Tidak Pernah Akur


__ADS_3

Dewa semakin memperdalam ciumannya. Terlebih ciuman itu ia lakukan sebagai bentuk rasa kekesalannya pada Livy yang mengumbar kemesraan dengan suaminya tadi. sedangkan Livy pun tidak peduli dengan ciuman Dewa yang semakin lama semakin menuntut. Toh pada kenyataannya dia juga sangat menikmatinya.


Dewa kini tidak lagi menekan pinggang Livy. pria itu mulai mere mas kedua pantat sintal Livy. hingga tanpa sadar ia mengangkat pinggang Livy sampai posisi Livy bak koala yang kakinya mengamit pada pinnggang Dewa.


“Cukup Nona!!” nafas Dewa tersengal saat melepas paksa ciuman panas itu.


Entah kenapa Livy merasa kecewa saat Dewa melepas ciuman itu. ciuman yang sudah membuatnya candu harus berakhir dengan paksa.


“Bukankah sudah aku katakan padamu, Wa. Jangan panggil Nona jika kita sedang berdua.” Ujar Livy mengalihkan rasa kecewanya.


“Maaf. Lebih baik kita segera keluar dari sini, Vy. Sebelum suamimu tahu.” Jawab Dewa.


“Baiklah. Aku akan keluar lebih dulu. Dan jangan marah lagi denganku, Ok?” ucap Livy lalu tubuhnya berjinjit mencium bibir Dewa sekilas.


Dewa mengusap bibirnya yang masih basah setelah Livy keluar dari toilet. Pria itu menghembuskan nafasnya pelan lalu tatapannya tertuju pada sesuatu yang ada di bawah sana yang masih bereaksi setelah kegilaan yang ia lakukan bersama Livy baru saja.


“Come on, Boy! Jangan berulah di sini kamu!” Gumam Dewa frustasi.


Sementara itu Livy bernafas lega saat kembali ke tempat duduknya ia melihat Febian masih tidur. Dia pun segera ikut tidur di samping tempat duduk suaminya. dan tak lama kemudian Dewa datang.


Livy memejampkan matanya sambil mengulas senyum saat merasakan kehadiran Dewa. Dewa sendiri hanya menggelengkan kepalanya, juga merasa gemas dengan sikap Livy.


***


Hari-hari setelah kepulangan Febian dari luar negeri, kehidupan Livy dan Febian berjalan seperti biasa. Hanya saja Livy sekarang lebih disibukkan dengan pekerjaan kantor. apalagi semenjak ia sudah aktif kembali di perusahaan Papanya.


Febian sebenarnya tidak suka dan hendak protes saat Livy memutuskan untuk aktif ke kantor lagi. Namun dia juga tidak ingin terlalu mengekang istrinya. Jelas Livy akan sangat bosan jika seharian di rumah tanpa dirinya. Febian juga tidak ingin Livy pergi darinya jika ia terlalu membatasi ruang gerak istrinya.


Saat ini Livy dan Febian sedang menikmati sarapannya sebelum pergi ke kantor. Febian tampak murung karena beberapa hari ini ia tidak mendapat jatah dari sang istri lantaran Livy sedang kedatangan tamu bulanannya.


“Sayang, nanti berangkatnya sama aku saja. kebetulan pagi ini aku agak santai.” Ujar Febian saat sedang menikmati makanannya.


“Ehm, baiklah.” Jawab Livy singkat. Tidak mungkin juga dia menolak ajakan suaminya dan lebih memilih berangkat diantar Dewa.

__ADS_1


Usai menyelesaikan sarapannya, Livy dan Febian berjalan menuju halaman rumah dimana mobil Febian terparkir di sana. Seperti biasa, Dewa sudah standby di luar siap mengantar Livy pergi ke kantor.


“Wa, pagi ini kamu free. Aku akan berangkat ke kantor bersama istriku. untuk pulangnya nanti aku hubungi kamu kalau misalnya aku ada meeting penting. Jadi kamu yang menjemput istriku.” ucap Febian memberitahu.


“Baik, Tuan.”


Livy menatap sekilas pada Dewa yang masih berdiri di samping mobilnya sebelum ia ke mobil suaminya. pria itu hanya mengangguk sopan layaknya bawahan pada atasannya.


Kini Livy sedang dalam perjalanan ke kantor. kali ini Febian ikut mengantar Livy masuk ke dalam ruangannya. Pria itu ingin melihat sendiri ruang kerja istrinya, karena baru kali ini ia sempat datang.


“Tumben Vy bodyguard kamu ganti?’ tanya Raffael yang kebetulan juga baru datang dan hendak masuk ke lift yang sama dengan Livy.


“Apa salah jika aku yang mengantar istriku ke kantor?” tanya Febian dengan tatapan tak ramah pada Raffael.


Raffael hanya mengendikkan bahunya acuh. Dia juga malas bertemu dengan adik iparnya yang arogan itu. padahal dulu saat Livy mau menikah dengan Febian, Raffael perlahan sudah luluh dengan sikap Febian yang mulai menghangat. Namun ternyata itu hanya sebentar. Karena sikap Febian sudah kembali ke mode awal menurutnya.


Livy hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kakak dan suaminya yang tidak pernah akur. Dia juga bingung menyikapinya. Apalagi jika menasehati suaminya, justru akan membuat Febian tersinggung.


“Lalu kalau kamu tidak diantar Dewa, itu artinya bodyguard kamu nganggur dong, Vy?” tanya Raffael.


“Wah sayang sekali. Coba kamu bilang ke dia, mau nggak ikut bekeja denganku. Lagian kamu sudah diantar jemput suami kamu.”


“Tidak, Kak. Jangan!” sahut Livy spontan.


“Mak…maksudku tidak bisa. Karena tidak setiap hari suamiku mengantar seperti ini. bukan begitu, Bi?” lanjut Livy tak ingin mendapat tatapan curiga dari kakak dan juga suaminya.


Febian pun bernafas lega setelah mendengar ucapan istrinya. Dan memang kenyataannya benar seperti itu. dia juga tidak ingin setiap hari bertemu dengan kakak iparnya yang sejak dulu tidak pernah bersikap ramah padanya.


“Iya, benar.” Jawab Febian.


Ting


Lift terbuka mereka bertiga segera keluar dan menuju ruang kerja masing-masing. Namun Raffael sempat mengatakan sesuatu sebelum ia masuk lebih dulu ke ruang kerjanya.

__ADS_1


“Oh iya, Vy, kapan kamu pulang? Mama sering menanyakan kamu. Ethan dan Kiara juga kangen sama tantenya.” Ujar Raffael.


“Iya, Kak. Weekend nanti kita akan pulang.” jawab Livy tanpa menunggu persetujuan suaminya.


Febian hanya mengantar istrinya sebentar. Pria itu cukup lega melihat ruang kerja istrinya yang sangat nyaman. Setelah itu ia berpamitan pergi ke kantornya.


***


Sementara itu Dewa yang pagi ini tidak ada kegiatan apapun, ia memilih menyibukkan diri di halaman belakang. Pria itu mengambil mesin pemotong rumput untuk membersihak halaman belakang yang mulai ditumbuhi rumput liar.


Bi Ratih datang dengan membawakan minuman untuk Dewa. Wanita paruh baya yang sudah lama bekerja sebagai pembantu Febian itu juga tampak senang melihat kinerja Dewa. Karena Dewa bisa melakukan pekerjaan apapaun. Termasuk memotong rumput. Karena biasanya Bi Ratih akan memanggil seseorang untuk memotong rumput liar di halaman belakang.


“Terima kasih, Bik!” ucap Dewa seteleh minum teh buatan Bi Ratih.


“Sama-sama. Beruntung sekali Tuan Febian memperkerjakan kamu di sini, Wa. Kamu ternyata serba bisa.” Puji Bi Ratih.


“Biasa saja, Bik. Karena tuntutan hiduplah yang membuatku harus bekerja keras seperti ini.” jawab Dewa.


“Apa kamu nggak ingin hidup berkeluarga, Wa? Menurut Bibi, usia kamu sudah cukup matang. Ya, biar lebih semangat bekerja jika ada seseorang yang menjadi tujuan hidup kamu.” Tutur Bi Ratih memberi nasehat.


“Nanti lah, Bik. Aku belum memikirkan ke sana. Aku masih menikmati kesendirianku.” Seloroh Dewa dengan santai.


“Bibi doakan semoga kamu segera ketemu jodoh ya, Wa. Biar nggak lirik-lirik istri orang.” Ucap Bi Ratih ambigu.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


 


__ADS_2