Main Hati

Main Hati
Eps 9 ~ Memilih Mengalah


__ADS_3

Livy kini sudah berada di dalam kamar. sampai saat ini degupan jantungnya masih menggila. Apalagi tatapan mata Dewa baru saja masih terngiang jelas dalam benaknya. Tak ingin terlalu lama membayangkan kejadian tadi, Livy langsung memejamkan matanya. sebelum sang suami masuk dan melihatnya masih belum tidur.


Benar saja, saat Livy baru saja memperbaiki posisi tidurnya, Febian masuk ke kamar. terdengar suara pria itu menguap. Sepertinya sangat lelah. Lalu Febian mengganti bajunya dulu sebelum bergabung tidur dengan Livy.


Keesokan paginya, Livy masih pulas dalam tidurnya. Dengan lengan Febian yang memeluk erat perutnya membuat Livy enggan bangun dari tidurnya. Begitu juga dengan Febian.


Nggghhhh…


Terdengar lenguhan pelan dari bibir Livy. wanita itu sudah bangun namun masih enggan beranjak. Masih menikmati waktu minggu paginya bersama sang suami. karena bisana jam seperti ini dia sudah sibuk di dapur menyiapkan menu sarapan untuk sang suami tercinta.


“Sayang, maukah melakukannya pagi ini?” Bisik Febian pelan tepat di telinga Livy.


Livy pun segera memperbaiki posisi tidurnya menghadap suaminya. dia kira Febian masih tidur dan bermimpi. Ternyata pria itu sudah terjaga dan kini sedang tersenyum menatap wajah cantik natural istrinya.


“Kenapa pakai tanya segala sih, Bi?”


“Siapa tahu pagi ini kamu sedang tidak mood. Ehm, karena siang nanti aku harus pergi ke kantor pusat.” Ucap Febian dengan nada pelan, takut jika membuat istrinya keberatan.


Livy pun mengerti dengan maksud suaminya. pria itu meminta jatah bercinta sebelum pergi meninggalkan dirinya. Pergi ke kantor pusat yang berada di luar negeri jelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Baiklah. Sebagai seorang istri yang berbakti pada suaminya, akhirnya Livy menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kalau pagi ini dia siap melayani sang suami. sebelum ditinggal pergi jauh.


Betapa bodohhnya Livy, di tengah-tengah kegiatan percintaannya pagi ini bersama suami. kenapa tiba-tiba muncul bayangan Dewa. Apakah karena efek kejadian semalam. Atau mungkin otaknya yang sedang tidak beres. Untung saja dia tidak menyebut nama Dewa di akhir pelepasannya.


“Terima kasih, Sayang!” ucap Febian lalu memberikan kecupan singkat pada kening istrinya yang sudah tergolek lemah di atas ranjang.


***


Pukul sepuluh siang Livy baru saja selesai menyiapkan beberapa baju yang akan dibawa oleh suaminya. wanita itu taampak murung. Walaupun tadi pagi baru saja mendapatkan suntikan vitamin dari sang suami.


Livy sendiri sebenarnya sudah lelah dan bosan dengan kehidupannya yang monoton seperti ini. hampir tiap bulan Febian pasti bepergian ke luar negeri. bahkan bulan ini saja sudah terhitung dua kali. Kalau bukan untuk urusan pekerjaan, pasti Livy akan ikut. Dulu di awal-awal pernikahannya, dia pernah ikut dan berencana akan menghabiskan liburan di sana sembari suaminya melakukan perjalanan bisnis. Namun kenyataannya, dia terus berada di rumah tak ada kegiatan apapun. Febian sangat sibuk.


Andai saja di saat ditingal bepergian seperti ini ada anak kecil yang menemani kesendiariannya, pasti dia tidak akan segalau ini.

__ADS_1


Cklek


Febian masuk ke kamar melihat istrinya sedang melamun. Pria itu menghampiri Livy dan memeluknya dengan erat. Febian sebenarnya berat meninggalkan sang istri. Tapi tuntutan pekerjaan lah yang membuatnya mau tidak mau harus meninggalkan sang istri.


“Sayang, aku janji tidak akan lama. Secepatnya aku akan pulang.” gumam Febian sambil menciumi pipi Livy.


“Ehm, iya nggak apa-apa. Ya sudah, apa kamu sudah selesai? aku sudah menyiapkan semuanya.” Sahut Livy mengalihkan pembicaraan.


Febian mengangguk, lalu ia menarik kopernya dan membawanya turun.


Livy akan mengantar Febian ke bandara. Tentunya diantar oleh Dewa. Hanya saja Livy lupa memberitahu pria itu untuk mengantarnya ke bandara, karena hari minggu seperti ini adalah hari libur Dewa.


Febian membawa kopernya ke depan. Pria itu juga sedang sibuk dengan gedgetnya. Sedangkan Livy ke belakang menuju kamar Dewa. Berharap bodyguardnya itu ada di rumah.


“Bik, apa Dewa hari ini keluar?” tanya Livy pada Bi Ratih.


“Tidak, Non. Saya tadi lihat Dewa masuk ke kamarnya setelah olahraga di halaman belakang.”


Livy mengerutkan keningnya saat merasa tangannya sedang menyentuh sesuatu yang keras namun bukan pintu. Sedetik kemudian dia memekik saat menyadari tangannya sedang menyentuh perut sixpacs Dewa. Namun bukannya menurunkan tangannya, Livy justru seperti masih menikmatinya. Sedangkan Dewa sendiri juga dibuat bingung campur grogi.


“Ehm, Nona!” Dewa memundurkan badannya agar tangan Livy tidak menyentuhnya lagi.


“Maaf.. maaf! Aku.. aku tadi, tadi hanya ingin memanggilmu.” Ucap Livy dengan gugup lalu membuang pandangannya.


Dewa yang baru saja selesai mandi, pria itu masih bertelanjang dada hendak keluar kamar mengambil ponselnya yang tertinggal di halaman belakang rumah waktu olahraga tadi. dia juga tidak akan menyangka kalau majikannya akan datang dan melakukan hal seperti ini.


Dewa pun segera masuk ke dalam kamar dan menyahut kaos oblongnya dan memakainya dengan cepat. Rasanya tidak sopan jika bicara dengan majikannya dengan bertelannjang dada seperti ini.


“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Dewa setelah keduanya lebih tenang.


“Antar ke bandara sekarang juga. aku tunggu di depan.” Ucap Livy lalu segera meninggalkan Dewa.

__ADS_1


**


Kini Dewa sudah duduk di jog kemudi. Ia pikir akan mengantar Livy saja ke bandara. Ternyata ada Febian juga. alhasil Livy yang biasa duduk di depan harus duduk di belakang bersama suaminya. karena memang seharusnya begitu. Tapi kenapa Dewa merasa nyaman kalau Livy duduk di sampingnya.


Dewa diam saja mengemudikan mobil menuju bandara. Dia juga tidak peduli dengan pembicaraan dua majikannya itu.


Sementara Livy dan Febian yang duduk bersanding di belakang, mereka hanya sesekali berbicara. karena Febian sendiri juga tampak sibuk dengan gadgetnya. Entah sepenting apa pekerjaan pria itu, sampai mengabaikan istrinya yang tengah duduk di sampingnya.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikemudikan Dewa memasuki halaman parkir bandara. Livy menatap wajah suaminya yang baru saja melakukan panggilan dengan salah satu rekan kerjanya.


“Bi!” lirih Livy dengan ragu.


“Ada apa, hem? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan saat aku pergi nanti? kamu mau apa, Sayang?” tanya Febian sambil mengusap pucuk kepala istrinya.


“Aku ingin, setelah kepulangan kamu nanti kita program hamil.” Jawab Livy dengan suara lirih dan sedikit takut.


Benar saja, Febian langsung mengubah raut mukanya. Pria itu tampak marah mendengar ucapan istrinya mengenai anak.


“Bukankah sudah aku katakan, kalau aku tidak ingin memiliki anak terlebih dulu! Kenapa kamu jadi seperti ini, Vy? Apa kamu sudah mulai bosan dengan perhatianku selama ini?” ucap Febian dengan suara yang sudah naik satu oktaf.


“Maaf, maafkan aku. sudah, ya? Aku tidak akan membahas ini lagi.” ujar Livy memilih mengalah. Karena dia benar-benar takut dengan kemarahan Febian. Apalagi ada Dewa yang melihat pertengkaran itu.


“Jangan ulangi ucapan itu lagi!” Febian yang masih kesal langsung keluar dari mobil tanpa menunggu Dewa membukakan pintu.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2