
Raffael menghampiri adiknya yang kini sudah duduk di kursi kerjanya. Raffael sangat kasihan melihat kesedihan Livy. apa lagi yang sedang dialami oleh Livy kalau bukan tentang rumah tangganya. Raffael juga bukan pria bodoh yang tidak tahu kalau rumah tangga adiknya tidak baik-baik saja. meskipun dia tidak tahu pastis umber masalahnya.
“Katakan pada Kakak, siapa yang telah membuatmu sedih?” tanya Raffael yang kini duduk di meja depan Livy.
“Nggak ada, Kak. Aku nggak apa-apa. Ada apa Kak Raffa menemuiku?” jawab Livy berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Jujur saja untuk masalahnya ini Livy tidak ingin berbagi dengan siapapun dulu, termasuk Kakaknya.
Sedangkan Raffael yang sudah tahu bagaimana watak adiknya, dia hanya menghembuskan nafasnya pelan. Livy sejak dulu memang tidak mudah untuk menceritakan tentang masalah yang tengah dihadapinya. Akhirnya Raffael tidak mau memaksa Livy. mungkin kalau keadaan Livy sudah lebih baik, dia akan menanyainya.
“Sebenarnya aku ingin mengatakan tentang kunjungan ke salah satu perusahaan cabang kita yang ada di luar kota. Aku tidak bisa hadir karena bertepatan dengan pembukaan outlet kosmetik salah satu produk terbaru kita. Kalau keadaan kamu seperti ini, lebih baik aku meminta sekretarisku saja yang menggantikannya,-“
“Aku bisa, Kak.” Sahut Livy.
Raffael menatap intens mata adiknya. Kenapa dalam keadaan yang seperti ini justru Livy mau pergi ke luar kota.
“Tidak, Vy. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi.”
“Please, Kak. Kapan jadwalnya? Aku akan mempersiapkan semuanya. Tenang saja, ada Dewa yang akan mengantarku. Jadi Kak Raffa tidak perlu khawatir.”
Raffael kembali menghembuskan nafasnya pelan. Mungkin dengan membiarkan Livy menghadiri kunjungan itu bisa membuat suasana hati Livy membaik. Terlebih ada Dewa yang pasti akan menjaga adiknya.
“Baiklah. Biar nanti dipersiapkan Sekar semuanya. Jangan lupa kamu harus berpamitan pada suami kamu.” Ujar Raffael sebelum keluar dari ruangan adiknya.
**
Livy kini sudah kembali melanjutkan pekerjaannya. Meskipun suasana hatinya masih tidak baik, namun ia berusaha bersikap professional. Apalagi dua hari lagi ia akan pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnis.
Livy menghubungi salah satu orang Papanya yang ia kenal untuk dimintai bantuan mencari informasi tentang keluarga Abyasa. Dia yakin kalau orang-orang Papanya tidak diragukan lagi kemampuannya. Hanya saja Livy meminta mereka agar tutup mulut dari keluarganya. Biarlah dirinya saja nanti yang akan mengatakan secara langsung kepada Mama dan Papanya kalau sudah mendapat hasilnya.
Sampai sore tiba, lebih tepatnya jam pulang kantor, Livy masih sibuk dengan pekerjaannya. Sepertinya wanita itu akan pulang sedikit terlambat dari biasanya. Dewa juga masih standby di sana menunggunya.
“Nona, apa anda membutuhkan sesuatu? Apa hari ini anda akan lembur?” tanya Dewa dengan sopan.
__ADS_1
Meskipun Dewa sudah berulang kali diminta oleh Livy untuk tidak bersikap formal jika sedang berdua, namun Dewa tetap melakukannya. Terlebih saat ini sedang berada di kantor. masih jam kerjanya.
“Nggak ada. Setengah jam lagi pekerjaanku sudah selesai. setelah itu kita pulang.” jawab Livy dengan tatapan fokus ke layar laptopnya.
***
Kini Livy dan Dewa sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. masalah yang sedang dihadapi Livy sedikit teralihkan dengan banyaknya pekerjaan di kantor hari ini.
Beberapa saat kemudian Livy sudah tiba di rumah. bertepatan dengan jam makan malam, Livy menginjakkan kakinya ke dalam rumah. dan samar-samar ia mendengar suara ramai di ruang makan. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk naik ke lantai dua kamarnya demi melihat ruang makan.
Tatapan Livy tertuju pada tiga orang yang sedang menyantap makan malamnya. Siapa lagi kalau bukan Febian, Raina, dan juga Saskia. Meskipun di ruang makan itu yang bicara didominasi oleh Saskia, tetap saja hati Livy sakit melihatnya. Apalagi Febian yang sedang memangku Saskia sambil menyuapi gadis kecil itu.
Livy mengabaikan tatapan datar Febian yang tampak tidak suka dengan Saskia. Dia hanya fokus dengan kebersamaa ketiga orang itu. apakah setiap kali suaminya pergi ke luar negeri, Febian selalu seperti ini. apa mungkin wajah dingin Febian terhadap Raina dan Saskia hanya ia tunjukkan saat di rumah ini saja? kalau di luar negeri apakah mereka saling menyayangi layaknya keluarga bahagia. Mata Livy berkaca-kaca membayangkannya.
“Kak Livy baru pulang?” tanya Raina tiba-tiba.
Febian yang menyadari keberadaan istrinya tak jauh dari ruang makan dan masih mengenakan setelan kerjanya, pria itu segera menurunkan Saskia. Mendekati Livy, berharap istrinya tidak salah paham atas apa yang dilihat baru saja.
“Iya. untuk persiapan perjalanan bisnis ke luar kota. Silakan lanjutkan lagi makannya.” Jawab Livy lalu segera beranjak menaiki lantai dua kamarnya.
Livy ingat dengan ucapan Kakaknya yang menyuruhnya untuk berpamitan pada Febian saat pergi ke luar kota nanti. jadi menurutnya ucapannya baru saja sudah cukup memberi informasi pada Febian mengenai kepergiannya.
“Sayang, apa yang kamu katakan baru saja?” ternyata Febian mengikuti Livy masuk ke kamar.
“Aku hanya bilang kalau aku sibuk persiapan pergi ke luar kota.” Jawab Livy dengan enteng.
“Tidak. Aku tidak mengijinkan. Inilah yang aku tidak suka jika kamu kembali aktif di kantor Papa.”
Livy yang hendak mengambil baju ganti sejenak menatap suaminya dengan sinis. Apalagi setelah apa yang baru saja diucapkan oleh Febian.
“Memangnya selama ini kamu sering ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, aku pernah tidak mengijinkanmu? Bahkan aku juga tidak pernah tahu apakah kegiatan kamu di sana murni untuk urusan pekerjaan?”
__ADS_1
“Apa maksud kamu, Vy? Kenapa kamu jadi pembangkang seperti ini? kamu lupa kalau kamu harus patuh dengan suami kamu, hah?” mendadak emosi Febian meledak-ledak.
“Aku sangat lelah. Lebih baik kamu lanjutkan saja makan malam kamu tadi. Kamu mengijinkan aku atu tidak, aku akan tetap pergi. Karena ini murni tentang pekerjaan. Bukan yang lain.” Sindir Livy lalu segera beranjak meninggalkan Febian yang masih memerah wajahnya.
Febian merasa aneh dengan sikap istrinya hari ini. Namun tidak dipungkiri kalau hatinya semakin kalut karena takut jika Livy mengetahui semua masa lalunya.
“Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Aku sudah menutup rapat skandal itu dan tidak ada satu orang pun yang tahu.” Gumam Febian dengan wajah piasnya.
Usai mandi, Livy baru turun ke ruang makan. Dia akan malam sendirian. Itu lebih baik seperti ini daripada harus bergabung dengan penghuni rumah lainnya.
Livy menyelesaikan makan malamnya cukup singkat. Setelah itu ia akan masuk ke kamar untuk beristirahat. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara tangis Saskia dari kamar tamu. Livy tidak berniat untuk tanya alasan Saskia menangis. Karena ia sudah melihat Raina keluar kamar sambil menggendong gadis kecil itu.
“Kenapa, Na?” Akhirnya Livy bertanya.
“Badan Saskia demam, Kak. Biasanya akan turun panasnya kalau digendong atau dipeluk oleh Kak Bian.” Jawab Raina keceplosan.
“Maksudku jika Kak Bian sedang ke luar negeri dan bertepatan dengan Saskia sakit.” Lanjut Raina menyadari kesalahannya.
Livy semakin yakin kalau ada yang tidak beres antara Febian dan Raina. Beberapa detik kemudian dia menemukan ide.
“Sini coba aku yang menggendongnya. Kalau dia masih rewel, aku akan memberikannya pada Febian.” ucap Livy meraih Saskia dari gendongan Raina.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1