
Seharian Dewa mengurus anaknya, lantaran sang istri masih sakit. Bahkan sampai esok harinya, keadaan Livy juga masih belum baikan. Alhasil Dewa terpaksa meminta ijin untuk masuk kerja hari ini.
Dewa bingung, mau mengantar istrinya periksa ke rumah sakit, namun bagaimana dengan Calvin. Tak ada pilihan lain kecuali menghubungi mertuanya. beruntungnya Mama Abi sangat pengertian dan sama sekali tidak keberatan untuk menunggui cucunya selama Livy periksa ke rumah sakit.
Mama Abi kini sudah tiba di apartemen anaknya. wanita paruh baya itu sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Terakhir betemu kemarin Livy terlihat baik-baik saja. tapi kini sangat pucat.
“Ma, maaf sampai merepotkan Mama.”
“Sudahlah, Wa. Mama sama sekali tidak keberatan. Cepat kalian ke rumah sakit, jangan khawatir masalah Calvin.”
“Terima ksih, Ma!”
Dewa menuntun pelan istrinya menuju basemen. Livy sebenarnya sudah tidak tahan dengan rasa pusing yang mendera saat ini.
Bruukk
“Sayang!!” dewa dengan cepat menangkap tubuh istrinya saat mereka sedang berada dalam lift karena tiba-tiba Livy jatuh pingsan.
Akhirnya Dewa menggendong sang istri. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan Dewa segara mempercepat langkahnya menuju basement.
Dewa sungguh sangat khawatir dengan keadaan istrinya.dia takut jika terjadi sesuatu dengan istrinya. Apalagi saat di dalam mobil, keadaan Livy yang masih pingsan, badannya kembali demam.
Sesampainya di rumah sakit, Livy segera mendapatkan pertolongan. Dewa sendiri mengikuti petugas rumah sakit yang kini tengah membawa istrinya masuk ke ruang IGD.
Cukup lama Dewa menunggu hasil pemeriksaan istrinya. Hingga akhirnya seoran dokter keluar dari ruangan IGD itu dan menyampaikan pada Dewa kalau Livy harus menjalani perawatan inap lantaran HBnya sangat rendah, hingga menyebabkan beberapa gejala, yang dikhawatirkan akan semakin memperburuk keadaan pasien jika tidak mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Dewa menurut saja apa yang terbaik buat istrinya. Namun dari dasar lubuk hatinya, dia sungguh merasa bersalah pada Livy yang selama ini tengah mengurus anaknya seorang diri. Mengingat selama ini istrinya terbiasa hidup berkecukupan, tanpa kurang suatu apapun. Meskipun dirinya mampu, namun tetap saja bagi Dewa terasa kurang.
Kini Dewa sudah duduk di pinggir brankar perawatan Livy. wanita itu sudah siuman dan sudah terpasang selang infus di tangannya.
__ADS_1
“Sayang, maafkan aku. kamu seperti ini karena kelelahan merawat Calvin sendirian.”
“Jangan bilang seperti itu, Mas. semua ibu di dunia ini tidak ada yang namanya lelah dalam merawat dan membimbing anak-anaknya. sudah waktunya saja aku sakit. Lalu bagaimana dengan Calvin? Apa Mama nggak kasih kabar, dia nangis atau tidak?” livy mengalihkan pembicaraannya agar Dewa tidak merasa bersalah.
Dewa seketika ingat dengan Calvin yang saat ini bersama Omanya. Bagaimana jika anak itu rewel. Apalagi stok ASI istrinya sangat terbatas.
“Kamu tunggu di sini dulu ya? Biar aku hubungi Mama.”
Benar saja apa yang dikhawatirkan Dewa terjadi. Sejak tadi Calvin sangat rewel dan stok ASInya sudah habis. Mengingat Livy yang tidak bekerja dan fokus dengan anaknya, jadi ia sangat jarang memompa ASInya. Jadi hanya beberapa kantong saja yang ia sediakan.
Mama Abi memang sengaja tidak memberitahu pada Dewa. karena ia pikir Livy hanya periksa sebentar. Nmaun ternyata Livy harus menjalani rawat inap.
“Bagaimana kalau diberi susu formula saja, Ma?” tanya Dewa memberi solusi pada Mama Abi.
“…..”
“Terima kasih banyak, Ma. Dewa minta maaf karena telah merepotkan Mama.” pungkasnya sebelum panggilan itu berakhir.
Kini Dewa tampak termenung di sofa ruang tunggu istrinya. Pria itu tampak berpikir mengenai kehidupan rumah tangganya. Jelas dia masih dibayangi rasa bersalah akan sikapnya pada sang istri yang telah mengurus buah hatinya seorang diri.
Setelah berpikir, akhirnya Dewa sudah mendapatkan keputusan. Apalagi baru saja ia menghubungi seseorang.
**
Selama empat hari dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Livy sudah diperbolehkan pulang. namun kali ini Dewa mengajak istrinya pulang ke rumah mertuanya, karena selama ini Calvin berada di sana.
“Sayang, kamu beneran sudah sehat?” tanya Dewa saat mereka hendak pulang setelah menebus beberapa obat.
“Sudah, Mas. obatku hanya satu, yaitu Calvin. Aku sangat merindukannya.”
__ADS_1
“Sabar, ya! Ini kita mau pulang.”
Livy tampak sumringah. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya. apalagi kemarin sempat melakukan panggilan video, bayi itu tampak sedang meminum susu dari botol dotnya. Ya, akhirnya Calvin terpaksa diberi susu formula karena keadaan. Meskipun kakak iparnya juga masih menyusi, namun Calvin tidak mau.
Kini Dewa dan Livy sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah Papa Reno. Namun tiba-tiba saja Dewa membelokkan mobilnya ke sebuah kompleks perumahan sederhana di mana letaknya tidak jauh dari rumah orang tua Livy.
“Mas, kenapa kita ke sini? kamu mau bertemu dengan siapa?” tanya Livy bingung.
Dewa hanya mengulas senyum saja tanpa berniat menjawab pertanyaan istrinya. Tak lama kemudian mobil Dewa berhenti di depan sebuah perumahan yang tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar.
“Sayang, ayo keluar!” ajak Dewa setelah membukakan pintu mobil untuk istrinya.
“Mas, ini rumah siapa?” tanya Livy sangat penasaran. Apalagi Livy sangat suka dengan rumah itu. halamannya yang luas, dengan ditumbuhi tanaman hijau yang sangat menyegarkan mata.
Dewa menggandeng istrinya menuju pintu utama rumah tersebut. Lalu ia membukanya dengan kunci yang baru saja ia ambil dari sakunya.
“Apa kamu suka dengan rumah ini, Sayang?” tanya Dewa setelah mereka berdua masuk.
“Suka. Tapi ini rumah siapa, Mas?”
“Sayang, mulai hari ini kita akan tinggal di sini. di rumah baru kita.” Ujar Dewa sambil memegang kedua tangan istrinya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!