
Livy tidak langsung mengiyakan ucapan Dewa. Namun dia segera menuju halaman belakang. Mungkin maksud Livy dia mau bicara dengan Dewa tapi tidak di tempat itu juga. apalagi ada Bi Ratih yang masih ada di dapur. Daripada pembantunya itu berpikiran buruk tentangnya dan Dewa.
Kini livy sudah duduk di kursi panjang yang ada di halaman belakang. Sedangkan Dewa memilih berdiri di belakang Livy.
“Nona, maafkan saya. maafkan atas kelancangan saya tadi. hari ini juga saya akan mengundurkan diri dari pekerjaan ini.” ucap Dewa dengan wajah tertunduk.
Ya, Dewa sudah memikirkan matang-matang mengenai keputusannya ini. dia sudah bertekat untuk keluar dari pekerjaan ini setelah menyadari atas kelancangannya yang sudah berani mencium Livy. tidak hanya itu saja. Dewa juga merasa ada yang aneh dengan hatinya. Dia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Termasuk jatuh cinta pada istri orang. Jadi, menurutnya keluar dari pekerjaan ini adalah keputusan yang paling tepat.
“Sampai kapanpun kamu tidak bisa keluar dari pekerjaan ini. lupakan saja kejadian tadi. tidak perlu merasa bersalah.” Jawab Livy dengan suara datar. Dewa pun sangat tidak menyangka dengan jawaban wanita itu.
“Aku rasa tidak ada hal penting lagi yang dibicarakan. Bekerjalah seperti yang seharusnya.” Lanjut Livy sebelum masuk ke rumah.
Setelah kepergian Livy, Dewa terduduk lemas di kursi yang diduduki Livy tadi. meskipun ia tadi sudah memantapkan hatinya untuk keluar dari pekerjaannya ini, dan setelah mendapat penolakan langsung dari Livy, entah kenapa hatinya juga lega. Kenapa dia juga merasa tidak ingin jauh dari Livy?
Dewa masih ingat dengan jelas tentang pertengkaran kecil antara Livy dan Febian saat di bandara tempo hari. Alasan sepasang suami istri itu sampai bertengkar adalah karena anak. Dewa pun akhirnya tahu kalau selama ini hidup Livy sangat tidak baik-baik saja. walaupun di luar dia terlihat sangat mesra dengan suaminya, namun rupanya Febian lah yang tidak menginginkan hadirnya seorang anak dalam pernikahan.
“Pasangan yang aneh.” Gumam Dewa sambil menggelengkan kepalanya.
***
Seperti yang diminta oleh Livy pada kakaknya. Mulai hari ini Livy akan aktif kembali datang ke kantor. Raffael sudah menyiapkan ruangan khusus untuk adiknya.
Dan selama beberapa hari pergi ke kantor dan menempati ruangan barunya, Dewa sama sekali tidak diijinkan oleh Livy menunggu di luar ruangannya. Dengan alasan sebagai seorang bodyguard, Livy meminta Dewa masuk ke ruangannya. Menunggu di sana, daripada di luar.
Raffael benar-benar heran dengan Livy yang meminta Dewa menunggunya di dalam ruangan. Walau alasan Livy logis, tapi Raffael tetap saja merasa aneh dengan adiknya. Tapi dia tidak ingin berasumsi buruk. Bisa saja Febian juga yang menyuruhnya. Apalagi adik iparnya itu sangat posesif dengan Livy.
Dewa yang tugasnya hanya berdiri di ruangan Livy, memastikan wanita aman dari bahaya, lama kelamaan dia juga betah berlama-lama di ruangan itu. apalagi bisa melihat wajah Livy yang sedang serius dengan pekerjaannya, membuat hati Dewa ikut menghangat.
__ADS_1
Saat ini Livy sedang berbicara dengan Febian melalui sambungan telepon. Beberapa waktu yang lalu Febian mengatakan akan menjemput istrinya untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan, namun nyatanya hari ini seharusnya Febian pulang tapi batal. Akhirnya Febian meminta sang istri datang dengan diantar oleh Dewa. Mau tidak mau, dengan hati yang sedikit dongkol, Livy mengiyakan permintaan sang suami. dan keberangkatannya juga hari ini.
“Wa, persiapkan diri kamu, nanti sore kita pergi ke negara X.” ucap Livy setelah mengakhiri panggilannya dengan sang suami.
“Baik, Nona.” Jawab Dewa sambil menganggukkan kepalanya.
***
Sementara itu Febian yang baru saja menghubungi istrinya, ia kembali ke ruang tunggu di salah satu ruang perawatan di sebuah rumah sakit. Harusnya hari ini dia pulang menjemput sang istri, namun ternyata ada hal yang mendesaknya untuk membatalkan kepulangannya.
Cklek
Seorang wanita paruh baya keluar dari ruang perawatan itu sambil menatap nanar pada putranya. Kemudian wanita itu ikut duduk di samping Febian sambil mengusap lembut punggung putranya.
“Maafkan Mama yang harus menahan kepulanganmu, Bian! Mama tidak tega jika melihat Saskia terus menangis mencari kamu.” Ucap Nyonya Abyasa dengan sendu.
“Bian capek, Ma. Besok Livy akan datang.” ucap Febian dan segera beranjak meninggalkan Mamanya.
“Oh iya. saat acara ulang tahun perusahaan nanti, Bian harap Saskia tidak ikut hadir di sana, kecuali kalau Mama memang sengaja ingin menghancurkan rumah tanggaku.” Lanjutnya dengan suara datar tertuju pada Mamanya.
“Bian, jaga ucapan kamu! Bagaimana pun juga Saskia itu adalah,-“
“Cukup, Ma! Jangan lanjutkan kalimat Mama itu. aku muak mendengarnya.” Potong Febian lalu pria itu segera pergi meninggalkan sang Mama yang tertunduk sedih.
Sementara itu seseorang yang sedang berdiri di balik pintu ruang perawatan anak, tampak menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah setelah mendengar dengan jelas tentang apa yang baru saja diucapkan oleh Febian. wanita itu tadi hendak keluar untuk membeli sesuatu, namun langkahnya terhenti saat tak sengaja mendengar perdebatan Febian dengan Mamanya. Sialnya lagi yang menjadi sumber perdebatan itu adalah seorang anak kecil yang sedang terbaring di atas brankar.
Wanita itu langsung mengusap air matanya saat melihat Mamanya hendak masuk kembali ke ruang perawatan itu.
__ADS_1
***
Sementara itu saat ini Livy sudah berada di bandara bersama Dewa. Sepulang dari kantor tadi Livy pulang ke rumahnya sebentar untuk mempersiapkan beberapa keperluannya selama berada di rumah mertuanya.
Ya, kedua mertua Livy selama ini memang tinggal di luar negeri. lebih tepatnya setelah pernikahan Febian dan Livy dulu. Dengan alasan mengurus kantor pusat, akhirnya mereka memilih tinggal di sana, sedangkan kantor cabangnya diserahkan pada Febian.
Kini Livy dan Dewa sudah berada di pesawat. Mereka duduk berdampingan. Posisi yang membuat Dewa sangat tidak nyaman. Namun sangat nyaman untuk Livy. Dewa hanya menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan apa yang sedang dilakukan Livy saat ini. padahal wanita itu sedang mencuri pandang pada Dewa yang terlihat tidak begitu nyaman.
“Wa, kamu baik-baik saja?” tanya Livy tersenyum ke arah pria itu.
“Ehm, saya baik-baik saja Nona.”
“Apa kamu gugup duduk dekat denganku?” tanya Livy yang entah apa maksudnya.
“Tidak, Nona. Saya tidak gugup. Bukankah memang tugas saya harus memastikan anda tetap aman. Termasuk harus duduk seperti ini.” jawab Dewa dengan tenang.
“Oh begitu ya. Aku kira kamu gugup dan khawatir jika aku main hati denganmu.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1