Main Hati

Main Hati
Eps 23 ~ Bersikap Dingin


__ADS_3

Weekend tiba. Seperti yang diucapkan Livy tempo hari kalau hari ini ia akan berkunjung ke rumah orang tuanya. Tentunya bersama sang suami.


Febian sejak tadi tampak murung saat melihat istrinya tengah bersiap-siap untuk pergi. Karena memang Livy meminta untuk menginap sehari di rumah orang tuanya.


“Bi, kamu kenapa sih sejak tadi kelihatan nggak bersemangat seperti itu?” tanya Livy menghampiri suaminya yang sedang berdiri di balkon kamarnya.


“Nggak apa-apa, Sayang. Aku hanya sedikit pusing dengan pekerjaan. Apa sudah siap?” jawab Febian.


“Sudah. Ayo kita berangkat! Aku sudah nggak sabar ingin bertemu dengan dua keponakanku yang lucu.” Jawab Livy dengan mata berbinar.


Febian tidak mempedulikan ucapan istrinya yang membahas tentang dua keponakannya. Sedangkan Livy yang melihatnya semakin penasaran pada Febian. kenapa suaminya itu terkesan tidak suka dengan anak kecil. Apa itu alasan Febian tidak menginginkan seorang anak dari pernikahannya.


Livy melepas gandengan tangan Febian saat mereka berdua sudah keluar rumah dan bertepatan di sana ada Dewa yang sedang mencuci mobil Livy. sedangkan Dewa sendiri hanya mengangguk ramah menyapa dua majikannya.


“Biar aku yang bawa tasnya, Bi!” ucap Livy tak ingin membuat suaminya curiga kalau dirinya sedang menjaga hatinya untuk pria lain.


Kini Febian dan Livy sudah berada di dalam mobil Febian mulai melajukan mobilnya menuju kediaman mertuanya. selama dalam perjalanan Livy banyak membicarakan tentang dua keponakannya yang sudah lama sangat ia rindukan. Dan lagi-lagi Febian menanggapinya dengan datar. Memang selama ini Livy jarang sekali mengamati rekasi suaminya jika membahas tentang anak kecil. Dan baru kali ini Livy melihat reaksi Febian yang sesungguhnya.


Livy akhirnya memilih diam karena tidak mendapat tanggapan apapun dari suaminya saat membicarakan Ethan dan Kiara. Mungkin setelah ini ia akan mencari tahu tentang alasan Febian yang terkesan tidak suka dengan sosok anak kecil yang mungkin saja membuat pria itu tidak menginginkan seorang anak.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah megah milik kedua orang tua Livy. kedatangan Livy dan Febian tentunya disambut hangat oleh Abi dan Reno. Khususnya Abi yang sudah lama merindukan anak perempuannya itu. terlebih saat terakhir mereka bertemu dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Febian juga bersikap ramah pada kedua mertuanya. di ruang keluarga mereka semua berkumpul. Raffael dan Jelita beserta dua anaknya juga ada di sana. Livy lah yang paling heboh sendiri, karena dia sejak tadi tak henti-hentinya menjaili Ethan dan juga mencium-cium pipi gembul Kiara.


Febian sendiri tampak terlibat obrolan dengan Reno membahas tentang pekerjaan. Juga bertanya tentang kabar besannya. Sedangkan Jelita yang sejak tadi melihat interaksi Livy dan suaminya tampak sangat aneh. Terlebih pada Febian yang seperti sengaja menghindar dari celotehan anak-anaknya.


Malam harinya setelah makan malam bersama keluarganya, Livy masih menikmati waktunya bersama kedua keponakannya. Sedangkan Febian berada di teras rumah sedang menerima panggilan dari seseorang. Bukan menerima tepatnya. Tapi menolak beberapa kali saat orang itu terus menghubunginya. Wajah Febian sangat masam. Dia kemudian menon aktifkan ponselnya lalu masuk ke daam rumah.


Febian bilang pada istrinya akan istirahat lebih dulu karena kurang enak badan. Dan membiarkan Livy sibuk bercengkrama dengan keluarganya.

__ADS_1


“Kamu temani suami kamu sana, Vy! Febian sepertinya butuh kamu.” Ucap Abi.


Livy yang masih asyik dengan Ethan terpaksa mengiyakan ucapan Mamanya. Dia beranjak kemudian menyusul suaminya masuk ke dalam kamar.


“Kamu sakit, Bi?” tanya Livy sudah bergabung di atas ranjang bersama Febian.


Febian yang sejak tadi posisinya membelakangi, kini berbalik badan. Hatinya sangat tenang melihat wajah teduh istrinya. Setelah itu Febian menarik Livy ke dalam pelukannya. Kenapa dia sangat takut sekali kehilangan Livy. bagaimana jika suatu saat nanti Livy mengetahui kebohongannya selama ini, lalu wanita itu meninggalkannya.


Livy yang berada dalam pelukan Febian merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya malam ini. pelukan yang ia rasakan sangat berbeda dari biasanya.


“Ada apa, Bi?” tanya Livy.


“Nggak ada apa-apa, Sayang. Aku hanya ingin seperti ini. aku sangat merindukanmu, Sayang.” Jawab Febian semakin mengeratkan pelukannya.


Livy pun ikut membalas pelukan itu walau hatinya terasa sangat hambar. Entahlah, kenapa malam ini dia justru merindukan Dewa yang sedang di rumah sendirian.


Febian mengurai pelukannya. Kemudian pria itu menatap bibir merah muda istrinya yang sudah lama ia rindukan. Tak lama kemudian Febian mendaratkan bibirnya di sana. Menciumnya dengan lembut, mereguk kenikmatan yang selalu membuatnya candu.


Livy segera mendorong tubuh suaminya dengan kasar setelah Febian memakaikan alat pengaman dan siap melesatkannya.


“Sayang?” tanya Febian dengan tatapan bingung bercampur dengan hasarratnya yang sudah berada di ubun-ubun.


Mata Livy merah menatap suaminya. dia sudah muak dengan keadaan ini. dia merasa seperti seorang pela cur yang sedang malayani pelanggannya saat sedang berhubungan badan dan menggunakan pengaman.


Tanpa menjawab, Livy mengambil bajunya yang berserakan di lantai dan berlari masuk ke kamar mandi.


Brakkk


Livy membanting pintu kamar mandi dengan kasar. Dia segera menyalakan kran shower dan terduduk di bawah sana sambil menangis tersedu.

__ADS_1


Sementara itu Febian hanya mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat reaksi kemarahan istrinya. Pria itu mengenakan celananya dan segera menyusul istrinya.


“Sayang, apa yang kamu lakukan?” teriak Febian menghampiri istrinya yang sedang terduduk dengan guyuran air dalam keadaan masih telan jang.


“Pergi kamu! Aku bukan jal***g yang membeimu kepuasan dengan alat pengaman.” Teriak Livy namun suaranya sudah melemah.


Febian tidak bisa berkata-kata. Pria itu ikut basah-basahan sambil memeluk istrinya yang sedang terisak.


“Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku!” lirih Febian masih mendekap tubuh Livy.


Livy tidak menyahut. Tubuhnya sudah melemah. Bahkan saat Febian sudah menggendongnya membawa masuk ke dalam kamar, Livy tidak menolaknya.


***


Keesokan paginya Livy terbangun lebih dulu. Dia melihat suaminya masih tidur memeluknya dari belakang. Dia ingat semalam Febian lah yang memakaikan baju untuknya. Entah kenapa tidak ada rasa terenyuh sedikitpun dengan perlakuan suaminya yang seperti itu. terlebih Febian tidak mengatakan apapun kecuali hanya meminta maaf.


“Kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Febian terkejut saat merasakan pelukannya kosong.


“Aku mau pulang sekarang!” ujar Livy dengan datar dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Biarlah Livy bersikap dingin seperti ini pada suaminya. dia hanya ingin tahu sebesar apa upaya Febian mengenai permasalahannya selama ini.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2