
Lagi-lagi Dewa hanya menganggukkan kepalanya. Dia tidak punya pilihan lain, karena tidak boleh menolak. Lalu ia kembali fokus dengan kemudinya.
Perjalanan dari taman kota ke rumah Livy sedikit lebih jauh. Mungkin akan memakan waktu selama dua puluh menit. Belum lagi harus membelah kemacetan jalanan ibu kota. Hal itu membuat Livy mengantuk dan akhirnya wanita itu tertidur.
Dewa melirik ke arah Livy saat tak sengaja mendengar dengkuran halus. Kenapa dia jadi terpesona pada wanita itu. sungguh wajah Livy menurut Dewa sangat enak untuk dipandang. Sayanganya wanita yang tak sengaja pernah ia temui beberapa kali itu sudah mempunyai suami. dan sialnya lagi, wanita itu menjadi majikannya. Mau berharap banyak pun rasanya tidak mungkin. Apalagi dirinya yang hanya seorang upik abu.
Dewa menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir sejauh itu. rasanya dia sudah tidak waras lagi. maklum efek menjadi pengangguran yang cukup lama.
Beberapa saat kemudian Dewa sudah menghentikan mobilnya di halaman rumah Livy. namun sayangnya Livy masih pulas dalam tidurnya. Dewa bingung mau membangunkan majikannya, tapi takut. Masak iya dia mau menggendongnya. Akhirnya ia memilih membangunkan Livy saja karena hanya itu cara yang paling jitu.
“Nona!” Dewa memanggil nama Livy dengan emncondongkan sedikit badannya.
Livy masih belum bereaksi. Lalu Dewa mengguncang sedikit tubuh Livy agar wanita itu bangun. Benar saja, Livy langsung mengerjapkan matanya. namun di luar dugaan, Livy justru bergelayut pada lengan Dewa.
“Aku masih ngantuk, Bi!” ucapnya dengan suara manja lalu menarik lengan Dewa untuk dijadikan bantalan.
Sebelum semua itu terjadi dan membuat jantungnya tidak aman, Dewa segera menyadarkan Livy.
“Nona, saya Dewa. Kita sudah sampai rumah.” ujar Dewa lalu menarik pelan tangannya.
Livy mengucek matanya. tidak ada rasa terkejut sama sekali saat mendengar ucapa Dewa baru saja. dia terlihat biasa saja.
“Oh, sudah sampai ya? Aku kira kamu tadi suamiku, Wa. Ya sudah aku turun dulu. Bawakan kantong bajuku!” ucap Livy lalu keluar dari mobil tanpa menunggu Dewa membukakan pintu untuknya.
Dewa hanya terbengong. Namun tidak lama kemudian ia segera keluar dengan membawa baju belanjaan Livy tadi. juga baju miliknya yang dibelikan oleh Livy.
__ADS_1
***
Tidak terasa sudah dua minggu Dewa bekerja di rumah Febian sebagai sopir pribadi sekaligus bodyguard Livy. pria itu benar-benar menikmati pekerjaannya yang sekarang. kedua majikannya juga sangat baik terhadapnya. Tidak terlalu banyak menuntut. Pekerjaannya juga tidak membuatnya terbebani.
Weekend ini Dewa bebas dari pekerjaannya. Febian memberikan jatah libur pada Dewa saat weekend. Karena selama itu waktu Febian memang full untuk istri tercintanya. Kecuali Febian sedang berada di luar kota atau ke luar negeri, barulah Dewa tidak mendapat jatah libur. Meskipun demikian, pekerjaannya masih dalam kategori santai.
Meskipun dapat jatah libur saat weekend, namun Dewa tidak menggunakan waktu itu untuk hang out. Dia justru memilih tetap di kamarnya saja. tidur, dan main game online. Kalau bosan, dia akan keluar kamar dan duduk di halaman belakang yang kini menjadi tempat ternyamannya semenjak bekerja di rumah Febian.
Berbeda dengan pasangan Febian dan Livy. malam ini mereka baru saja pulang dari acara pesta ulang tahun pernikahan salah satu rekan bisnis Febian. Mereka pulang jam sepuluh malam, lantaran Febian ada panggilan mendadak dari Papanya untuk menyelesaikan pekerjaan penting.
“Sayang, kamu tidurlah dulu. Maaf aku harus ke ruang kerja dan menyelesaikan pekerjaanku. Aku akan menyelesaikannnya dengan cepat.” Ucap Febian.
“Nggak apa-apa, Bi. Aku paham kok. Ya sudah aku ke kamar dulu. Semangat kerjanya!” ucap Livy lalu meninggalkan kecupan singkat di bibir Febian.
Febian sempat terpancing gara-gara kecupan dari istrinya. Namun ia ingat dengan pekerjaannya. Akhirnya dia mengesampingkan kebutuhan biologisnya dulu.
Suasana rumah sangat sepi. Bi Ratih juga pasti sudah tidur. Sedangkan Dewa, pasti pria itu sedang menghabiskan waktu weekendnya di luar. Begitu yang ada dalam benak Livy.
Suasana dapur yang temaram tidak membuat Livy kesusahan untuk membuat susu. Apalagi dia juga menghabiskannya di sana sambil duduk termenung seorang diri. Livy meneguk susu hangat buatannya sambil menatap keremangan suasana dapur. Wanita itu merasa jenuh dengan kehidupannya yang seperti ini. tidak ada susutau hal yang membuatnya semangat dalam menjalani hidup.
Hubungannya dengan sang suami juga terlihat baik-baik saja. namun kenyataannya tidak seperti itu. apalagi akhir-akhir ini Febian terlihat sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya. Terlebih semenjak pria itu menyewa bodyguard untuknya.
Meskipun perlakuan Febian tetap hangat, terutama di atas ranjang, namun jika hati Livy tidak bahagia. Rasanya percuma. Livy bisa memiliki Febian seutuhnya hanya saat weekend saja. apalagi malam ini. di saat weekend masih saja mengurusi pekerjaan. Dan lagi-lagi Livy tidak berupaya untuk mencari solusi. Entahlah. Apakah dia takut kehilangan Febian, hingga memilih pasrah pada keadaan. Atau hal lainnya.
Segelas susu habgat sudah Livy habiskan. Dia segera beranjak dan kembali masuk ke kamarnya. Namun tanpa diduga, saat Livy hendak keluar dari dapur, tiba-tiba sesosok pria bertubuh tegap masuk ke dapur. Alhasil Livy menabrak tubuh pria berbadan kekar itu.
__ADS_1
“Nona, maafkan saya!” ujar Dewa dengan tangan masih menahan pinggang Livy.
Livy terdiam sesaat. Kepalanya mendongak dan tatapannya tertuju pada mata Dewa yang kini juga tengah menatapnya.
Meskipun suasana dapur temaram, tetap saja mereka masih bisa menatap sama lain. Dan hal itu terjadi dalam waktu beberapa menit. Hingga tiba-tiba terdengar derap langkah kaki sedang berjalan menuju dapur. Posisi keduanya yang tidak aman dan menimbulkan kecurigaan bagi orang lain, membuat Dewa dan Livy sama-sama panik.
Livy tahu kalau itu pasti suaminya yang hendak mengambil minuman. Dengan cepat ia menarik Dewa ke balik pintu dapur dan keduanya bersembunyi di sana.
Degupan jantung Livy dan Dewa sama-sama terasa di suasana hening itu. mereka tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun selama Febian masih berada di dapur mengambil air dingin.
Tak lama kemudian Febian keluar dari dapur setelah menghilangkan rasa dahaganya. Namun posisi Dewa dan Livy masih sama. Saling berhadapan dengan tubuh masih menempel. Entah kenapa Livy seperti terhipnotis oleh harum aroma parfum yang dipakai oleh Dewa.
Ehmm
Dewa berdeham tak ingin posisinya disebut telah mengambil kesempatan. Padahal kalau boleh jujur, dia masih ingin berlama-lama dalam posisi itu. sayangnya itu tidak boleh terjadi.
“Maaf, Wa! Ehm, ya su..sudah aku, aku pergi dulu.” Ucap Livy dengan gugup.
Dewa hanya megangguk kecil dan tatapannya masih tertuju pada Livy. Livy pun semakin salah tingkah.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!