
Febian dan Raina sama-sama menoleh ke sumber suara di mana Livy baru saja pulang dari kantor.
“Sayang! Kamu baru pulang? aku juga baru datang.” ujar Febian mendekati istrinya berharap Livy tidak tahu sekaligus tidak mendengar apa yang baru saja ia ucapkan pada Raina. Termasuk sikapnya pada Raina.
Livy menanggapi pertanyaan suaminya dengan datar. Namun ia tidak ingin memperlihatkan keretakan rumah tangganya di depan Raina. Biarlah ini menjadi urusannya dengan Febian tanpa melibatkan orang lain, termasuk Raina. Begitu lah yang ada di benak Livy.
“Iya. Raina, kenapa Saskia menangis?” jawab Livy tatapannya tertuju pada Saskia yang berdiri tak jauh darinya tampak sedang terisak.
Febian dibuat terkejut lagi saat melihat istrinya yabg begitu peduli terhadap Saskia. Ada apa ini sebenarnya? sejak kapan Raina datang?
Sedangkan Raina sendiri tampak bingung sekaligus takut dengan situasi saat ini. Febian juga masih menatapnya penuh amarah.
“Mama mandi dulu ya, Saskia? Setelah ini kita main bersama lalu makan malam.” ujar Livy saat sedang menggendong Saskia, menenangkan bocah itu.
Mata Febian membulat sempurna saat mendengar istrinya memanggilkan Mama pada Saskia. Lagi-lagi Febian menatap tajam pada Raina yang sejak tadi diam.
**
Kini Livy sedang berjalan menuju lantai dua kamarnya. Febian pun mengekor di belakangnya. Tampak senyum tipis terbit dari bibir pria itu kala melihat sang istri akhirnya menempati kamar mereka lagi.
Livy dan Febian sudah masuk kamar. wanita itu meletakkan tasnya lalu segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Grep
Febian tiba-tiba memeluk Livy dari belakang. Pria itu sangat merindukan istrinya yang selama ini bersikap dingin padanya. Febian berharap hari ini istrinya sudah berubah seperti dulu lagi. namun sayangnya itu hanya angan-angannya saja. karena pada kenyataannya hati Livy sudah hampir mati pada sosok suaminya yang sangat egois itu. terlebih dengan sikap Livy yang melepas pelukan suaminya dengan kasar.
“Sayang!” lirih Febian menatap sendu pada istrinya.
Livy tampak acuh dengan suaminya. lalu Febian kembali menahan lengan istrinya. Dia ingin bicara baik-baik dengan Livy sekaligus minta maaf.
__ADS_1
“Sayang, maafkan aku. sampai kapan kamu bersikap seperti ini?”
Livy menatap suaminya dan tersenyum sinis. Entahlah, kenapa dengan melihat kedatangan suaminya setelah beberapa hari di luar kota membuat Livy semakin benci dengan Febian. secepat itu kah perasaannya berubah, hanya karena masalah anak. Atau ada hal lain yang mengganjal hatinya. Jawabannya memang iya.
Beberapa hari Raina tinggal di rumahnya, Livy merasa ada yang aneh dengan hatinya. Dia sering melihat Raina diam-diam memperhatikan foto pernikahannya dengan Febian yang terpajang di ruang tengah. Tidak hanya itu saja. Saskia juga setiap malam menangis memanggil-manggil Papanya. Sebenarnya apa yang terjadi.
“Lupakan saja semuanya, Bi! Jangan lagi bahas masalah anak jika kamu memang tidak menginginkannya dariku.” Ucap Livy.
“Maksud kamu apa? Please jangan bahas ini lagi! aku sangat mencintaimu, Vy. Aku benar-benar tidak ingin ada pihak ketiga diantara hubungan kita ini, salah satunya anak.” Ucap Febian yang lagi-lagi membuat Livy muak.
“Ok, suka-suka kamu! Dan perlu kamu ingat, aku kembali di kamar ini bukan berarti kita bisa tidur seranjang lagi.” ucap Livy lalu segera masuk ke kamar mandi.
Livy langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Pekerjaan kantor hari ini cukup membuatnya pusing, kini ditambah lagi dengan kepulangan suaminya.
Livy memang sengaja tidak membahas lagi perihal hubungan rumah tangganya dengan Febian. namun juga sudah tidak memberikan hatinya lagi pada pria egois seperti Febian. Livy saat ini sedang mencari sesuatu yang tidak ia ketahui yang mungkin saja sedang dirahasiakan oleh suaminya. termasuk dengan Raina. Entahlah, apakah memang hubungan antara Febian dan Raina hanya sebatas kakak adik. Atau ada hal lain. Apalagi tadi ia sempat melihat Febian bicara dengan Raina dengan Bahasa tubuh yang aneh.
Saat Livy sedang berada di dalam kamar mandi, Febian pun langsung keluar kamar untuk menemui Raina. Dia ingin bertanya langsung pada adik angkatnya itu tentang alasan apa yang membuatnya datang ke sini.
“Aku ingin bicara denganmu!” bisik Febian tepat di telinga Raina yang tengah sibuk membuat susu.
“Kak,-“
Belum sempat Raina melayangkan protesnya, Febian sudah menarik paksa adiknya menuju halaman belakang rumah. setibanya di sana, Febian menghempaskan Raina hingga wanita itu terduduk di kursi panjang berbahan besi yang ada di halaman belakang rumah.
“Apa maksud kamu datang ke sini, hah? Apa kamu sengaja ingin menghancurkan rumah tanggaku?” tanya Febian dengan nada berapi-api.
“Aku sengaja datang ke sini dan akan tinggal menetap di sini karena Saskia.” Jawab Raina.
“Apa maksud kamu memakai alasan anak sialan itu, hah?”
__ADS_1
“Cukup, Kak! Jaga bicara kamu! Saskia itu adalah darah dagingmu.”
“Sejak dulu aku tidak mengharapkan anak itu. aku sudah memintamu untuk menggugurkan dia tapi kamu, Mama dan Papa tidak memperbolehkannya. Harusnya sekarang kamu harus terima resikonya, tanpa harus mengusikku.”
Raina menggelengkan kepalanya. Air matanya luruh begitu saja mendengar ucapan kasar kakak angkatnya yang sejak dulu sangat menyayanginya.
“Aku tidak mau tahu alasan apapun lagi. kamu harus secepatnya angkat kaki dari rumah ini.”
“Kalau Kak Bian mengusirku, lebih baik Kak Biaan bicara langsung pada Mama dan Papa. Lagi pula Kak Livy sama sekali tidak keberatan aku tinggal di sini. justru dia sangat menyayangi Saskia.”
“Oh, kamu memanfaatkan situasi ini ternyata. Tunggu saja, aku akan membuat kamu segera angkat kaki dari sini bersama anak sialan itu.” jawab Febian dan bergegas meninggalkan Raina.
“Silakan saja! sebelum aku pergi, aku akan mengatakan semuanya pada Kak Livy.” Ancam Raina membuat langkah Febian terhenti.
Febian semakin murka melihat Raina. Dia juga tidak ingin hal itu terjadi. Apalagi sampai ia harus kehilangan istrinya. Tanpa mengatakan apapun, Febian bergegas meninggalkan Raina yang sedang terduduk sedih di kursi itu.
Raina terpaksa mengancam Febian seperti itu hanya karena ia tidak ingin anaknya hidup menderita. Dia hanya berharap Febian mau menerima kehadiran Saskia sebagai anak kandungnya. Setelah itu ia akan pergi jauh dari kehidupan keluarga Abyasa yang sudah membesarkannya dan juga memberikan kasih sayang yang tulus.
Tanpa Raina dan Febian sadari, sejak tadi ada seseorang yang menyaksikan secara langsung pertengkaran yang terjadi antara kakak beradik itu. siapa lagi kalau bukan Dewa. Dewa sangat terkejut mendengar apa yang ia dengar baru saja. Saskia anak Febian. sebenarnya ada hubungan apa antara Febian dan adik angkatnya itu.
“Apakah Livy harus tahu semua ini?” gumam Dewa.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!