Main Hati

Main Hati
Eps 22 ~ Menjaga Rahasia


__ADS_3

Dewa yang sejatinya tidak mengerti maksud kemarahan Livy yang berbalut tangis itu membiarkan saja wanita itu memeluknya sambil memukuli dadanya. Biarlah Livy seperti itu kalau hatinya merasa lega setelah melakukannya.


Beberapa saat kemudian Livy sudah menghentikan aksinya. Wanita itu menatap Dewa dengan pipi yang masih basah dengan air mata. Sedangkan Dewa memilih menjauhi Livy untuk meletakkan paper bag berisi makanan yang sudah dipesan oleh Livy tadi.


Setelah meletakkan makanan itu di atas meja kerja Livy, Dewa berbalik badan. Dan lagi-lagi Livy kembali memeluknya.


“Katakan padaku, Wa! Apa kamu suka dengan Sekar? Kenapa kalian sangat dekat?”


Dewa mengurai pelukan Livy. pria itu sungguh tidak mengerti dengan sikap Livy yang tiba-tiba posesif seperti ini.


“Livy, kenapa kamu semarah itu saat aku bicara dengan Sekar?” tanya Dewa dengan tenang sambil menatap dalam mata wanita itu.


“Kenapa kamu bilang? Aku tidak suka melihat kamu dekat dengan wanita lain. Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku sangat nyaman dekat denganmu, Wa. Jadi itulah alasan aku tidak suka melihat kamu dekat dengan sekar.” Jawab Livy.


“Nyaman? Kalau hanya membuatmu nyaman, apa harus ada larangan buatku untuk dekat dengan wanita lain?” tanya Dewa sengaja ingin meminta penjelasan pada Livy.


“Kenapa kamu nggak ngerti sama sekali sih, Wa. Aku mencintaimu.” Jawab Livy dengan entengnya tanpa mempedulikan raut wajah Dewa yang terkejut.


Dewa menggelengkan kepalanya pelan. Ini tidak boleh terjadi. Kenapa Livy mengungkapkan rasa cinta terhadapnya. Apa wanita itu sudah tidak mencintai suaminya lagi? meskipun demikian, tetap saja ini adalah sebuah kesalahan besar.


“Livy, dengarkan aku! aku tidak masalah jika kamu merasa nyaman saat bersamaku. Tapi kumohon, jangan mencintaiku! Ingatlah status kamu. Kamu itu sudah,-“


“Iya aku sudah mempunyai suami. tapi apa salah jika perasaan ini muncul begitu saja. terlebih dengan kehidupan rumah tanggaku yang selama ini sedikit merenggang. Apa aku salah, Wa jika mencintaimu? Apa kamu tidak percaya dengan perasaanku ini?”


Dewa terdiam dengan tatapan masih tertuju pada mata Livy. memang dia tidak melihat adanya kebohongan lewat sorot mata indah Livy. meskipun tanpa dia sadari, Dewa juga diam-diam mencintai Livy. tapi rasanya itu sangat sulit jika mereka bersatu.


Livey membuang muka lalu kembali terisak saat melihat keterdiaman Dewa yang menurutnya kalau pria itu menolak cintanya. Apa mungkin dirinya yang terlalu murahan. Sampai mengungkapkan cinta pada seorang pria dimana statusnya sudah bersuami.

__ADS_1


Dewa tidak tega melihat kesedihan Livy. dia menarik Livy ke dalam pelukannya. Mungkin lebih baik menurut saja dengan kemauan Livy asal wanita itu tidak bersedih lagi.


“Maafkan aku, Vy. Kamu tidak salah mau mencintai siapapun. Baiklah, mulai sekarang aku akan menjaga jarak dengan wanita manapun.” Ujar Dewa.


Livy menyunggingkan senyumnya saat mendengar jawaban Dewa. Hatinya merasa lega. Itu artinya Dewa menerima cintanya. Biarlah pria itu menganggapnya sebagai pelarian. Namun pada kenyataannya memang Livy benar-benar sudah jatuh cinta pada sosok Dewa, bodyguardnya.


Setelah keadaan sudah cukup tenang, Dewa mengurai pelukannya. Dia mengusap lembut bekas air mata yang masih membasahi pipi Livy.


“Mulai sekarang, aku tidak ingin melihat ada air mata yang keluar dari mata indah ini. apa kamu mengerti?” ucap Dewa dan diangguki oleh Livy.


Mereka berdua saling tersenyum. Hati keduanya juga sama-sama sedang berbunga-bunga. Hingga tanpa sadar kedua bibir itu saling menempel dan mulai memagut dengan lembut. Livy menutup matanya menikmati ciuman yang Dewa berikan. Ciuman yang sangat menentramkan hatiny yang tak pernah ia dapat dari suaminya. ciuman yang awalnya lembut itu perlahan berubah semakin menuntut. Hingga akhirnya.


Cklek


“Oh astaga!!!” seru seseorang dengan terkejut saat tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kerja Livy.


Jelita, kakak ipar Livy masih berdiri di depan pintu. Merasa apa yang dilihatnya baru saja hanyalah sebuah mimpi. Namun ternyata tidak.


“Vy?” lirih Jelita dengan menatap bergantian pada Livy dan juga seorang pria tampan yang Jelita sendiri tidak mengenalnya.


Livy yang sudah ketangkap basah oleh kakak iparnya sendiri, akhirnya mau tidak mau menjelaskan pada Jelita. dia menatap pada Dewa dan memberi kode pada pria itu untuk keluar dari ruangannya dulu. Dewa pun mengangguk paham.


**


Kini di ruangan kerja Livy hanya ada Livy dan juga Jelita. keduanya sama-sama terdiam. Namun Livy dengan mata yang sudah berkaca-kaca setelah menjelaskan semuanya pada kakak iparnya. Menjelaskan tentang awal mula kedekatannya dengan Dewa, bodyguardnya hingga menceritakan tentang kehidupan rumah tangganya bersama Febian selama ini.


“Itulah Kak penyebab selama ini aku dan Febian tidak memiliki momongan. Dia lah yang tidak menginginkan seorang anak dalam pernikahan ini. sedangkan aku sangat mendambakannya.”

__ADS_1


“Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik, Vy? Lalu apa dengan masalah itu kamu mencari pelarian pada Dewa?”


Livy menggelengkan kepalanya. Mungkin semua orang kalau tahu kedekatannya dengan Dewa akan berpikiran sama dengan Jelita. karena memang awalnya Livy sudah dibuat nyaman dengan kehadiran Dewa di tengah-tengah masalah rumah tangganya. Namun yang sebenarnya, dia sudah jatuh cinta pada pria itu.


“Sudah, Kak. Aku pernah membicarakan hal ini pada Febian. tapi dia tetap pada pendiriannya. Dengan alasan tidak ingin cintaku terbagi jika suatu saat nanti mempunyai anak. Aneh bukan sikap Febian itu?”


Jelita membenarkan ucapan adik iparnya. Memang baru kali ini ia mendengar ada seorang suami yang tidak menginginkan seorang anak dari pernikahannya. Namun jika Livy sampai main hati dari pernikahannya itu, kenapa Jelita sangat takut. Takut terjadi hal buruk pada Livy.


“Tapi kamu dekat dengan Dewa b ukan berarti ingin mempunyai anak dari dia kan, Vy?” tanya Jelita penuh selidik.


“Ya nggak lah, Kak. Kalaupun memang hubunganku harus berakhir dengan Febian, aku menginginkan anak dari Dewa tentunya harus dalam ikatan pernikahan.” Jawab Livy cukup tenang. Walau pada kenyataannya ia sendiri ragu dengan jawaban itu. pasalnya selama dekat dengan Dewa dan dari beberapa adegan ciuman yang ia lakukan bersama pria itu, jujur saja Livy hampir dibuat khilaf.


Jelita cukup lega mendengar jawaban Livy. dengan melihat Dewa sekilas tadi ia juga bisa menilai kalau Dewa adalah pria baik. Meskipun beberapa persen hatinya meragu kalau suatu saat nanti akan terjadi sesuatu antara Livy dan Dewa.


“Tapi aku berharap hubungan kamu dan Febian segera membaik dan menemui solusi terbaik, Vy.”


“Entahlah, Kak. Dan aku mohon pada Kak Lita untuk menjaga rahasia ini dari siapapun termasuk Kak Raffa.”


Jelita menghembuskan nafasnya pelan. Lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Jujur saja dia sangat tidak mendukung perselingkuhan. Namun mendengar cerita rumah tangga Livy, kenapa dia juga ikut merasakan sakit.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2