
Seorang pria tampak diam termenung di pinggir kolam renang rumahnya. Pria itu menghisap rokoknya dengan tatapan kosong. Karena hatinya juga sedang kosong setelah beberapa waktu yang lalu sempat ada yang menyinggahinya. Namun kini hanya kepingan kenangan yang tertinggal.
Semenjak kepulangannya, Dewa sama sekali tidak mempunyai kegiatan. Kesehariannya hanya berdiam diri di rumah. kalau bosan, dia akan pergi ke luar rumah. rumah besar peninggalan kakek neneknya yang ia tempati sekarang bersama Mamanya, sama sekali tidak bisa membuatnya nyaman. Maka dari itulah, sejak dulu Dewa hampir tidak pernah pulang ke rumah ini.
Kesehatan Mamanya yang katanya akhir-akhir ini sedang kurang baik, tidak membuat Dewa khawatir sama sekali. Bahkan saat kepulangannya ke rumah ini, Liana juga tidak bertegur sapa pada anaknya. mungkin karena kesalahan masa lalunya terhadap anaknya yang membuat wanita paruh baya itu merasa malu dan tidak pantas dianggap sebagai Ibu yang baik buat anaknya.
Dewa sebenarnya terlahir dari keluarga yang berada. Sejak masih kecil, dia tidak pernah kekurangan apapun dalam hal materi. Hanya kasih sayang lah yang tidak pernah ia dapatkan dari kedua orang tuanya.
Tuan Bisma, yang tak lain Papa Dewa dulu adalah salah satu pegawai di pemerintahan. Gaji besar yang diterima membuatnya masih kurang puas. Akhirnya Tuan Bisma mempunyai bisnis sampingan di bidang ekspor impor. Kekayaannya pun semakin melimpah. Sedangkan Nyonya Liana yang terus dikucur uang dari suaminya, wanita itu sampai melalaikan tugasnya sebagai seorang Ibu. Liana seringkali menghambur-hamburkan uangnya dengan teman sosialitanya, termasuk jalan-jalan ke luar negeri. sedangkan Dewa diserahkan sama pembantunya.
Hingga suatu ketika, Tuan Bisma mendapat masalah besar dari bisnisnya. Bahkan pekerjaan utamanya juga mendapat masalah besar. Tuan Bisma terbukti korupsi triliunan rupiah. Bisnisnya juga hancur karena kecurangan salah satu rekan bisnisnya. Hingga dalam sekejap harta kepemilikan Tuan Bisma lenyap karena disita. Begitu juga dengan pria itu yang langsung mendapatkan hukuman berat. Entah berapa lama mendekam di penjara, saat itu Dewa sama sekali tidak ingin mau tahu. Beruntungnya saat itu Dewa sudah menyelesaikan kuliahnya. Setelah itu ia memutuskan untuk pergi dari rumah bersama pembantunya.
**
“Wa, Mama sudah memasak makanan kesukaan kamu. Apa kamu nggak makan?” Nyonya Liana menghampiri Dewa yang tengah duduk di pinggir kolam.
“Dewa nggak lapar.” Jawabnya dengan singkat, lalu membuang puntung rokoknya dan bersiap pergi dari rumahnya.
Nyonya Liana hanya memegangi dadanya. Menatap nanar kepergian anaknya yang sudah lama ia rindukan. Tapi semua ini memang salahnya.
Sedangkan Dewa keluar rumah berjalan kaki menuju tempat yang biasa ia datangai jika sedang suntuk seperti ini. yaitu di lereng pegunungan dengan udara yang sangat sejuk.
Dewa akui kalau kehidupannya tidak baik-baik saja sejak memutuskan pergi meninggalkan Livy. meskipun dalam hati sangat ingin tahu kabar wanita itu. tapi dia selalu memperingatkan dirinya untuk tidak ikut campur lagi dalam masalah Livy dan suaminya. bahkan dia berharap rumah tangga Livy dan Febian masih bisa diselamatkan.
Dewa berpikir sejenak. Kalau kesehariannya seperti ini, tidak ada sesuatu yang dikerjakan, lama-lama dia akan stress karena terus memikirkan Livy. wanita yang tidak mungkin ia gapai. Maka dari itu secepatnya ia harus mencari pekerjaan.
__ADS_1
***
Sedangkan Raina dan Saskia yang kini sudah tinggal di sebuah panti asuhan, sedikit membuat kehidupannya tenang dibandingkan sebelumnya. Raina sangat bersyukur saat itu bisa bertemu dengan Dewa yang telah memberikan alamat panti asuhan ini. karena Saskia juga terlihat sangat senang bisa tinggal di panti ini. pemilik panti ini juga sangat baik padanya.
Bu Tina, pemilik panti ini selalu memperlakukan Saskia dengan baik. Apalagi Raina mengatakan kalau ia mendapat alamat panti ini dari Dewa. Karena ternyata Bu Tina adalah mantan pembantu rumah tangga kedua orang tua Dewa.
Keseharian Raina di panti asuhan itu membantu Bu Tina dan beberapa pengasuh lainnya merawat anak-anak panti yang usianya masih di bawah lima tahun. Mengingat dirinya yang memang berasal dari panti, justru membuat hati Raina sangat peduli dengan anak-anak yang kurang kasih sayang dari orang tua.
Selama tinggal di panti asuhan, Raina juga tidak memberitahun keberadaannya pada orang tua angkatnya yang sangat mengkhawatirkan keadaannya. Raina memang sudah bertekat untuk pergi dari kehidupan keluarga Abyasa. Termasuk melupakan cintanya pada Febian. Raina juga sadar kalau sampai kapan pun Febian akan terus membencinya. Jadi, keputusannya ini sudah sangat tepat.
***
Waktu bergulir begitu cepat. Seminggu sudah berlalu dari waktu yang ditentukan oleh hakim mengenai kelanjutan sidang perceraian Livy dan Febian. dan sekarang lah sidang itu akan dilanjutkan. Sekaligus akan berakhir.
Kini Livy dan Febian sudah berada di ruang sidang dengan didampingi keluarga masing-masing. Livy sudah tidak peduli lagi dengan ketidak respek an mertuanya saat bertemu tadi. karena Nyonya Abyasa seperti sudah illfeel dengan Livy dengan kabar perselingkuhan itu. tapi menurut Livy itu lebih baik.
Sidang pun dimulai. Febian seperti biasa. Melalui pengacaranya, pria itu tetap ingin mempertahankan Livy sebagai istrinya. Dia juga sudah menyangga beberapa bukti tentang perselingkuhannya waktu itu.
Kini dari pihak Livy diminta untuk memberikan bukti, atau lebih tepatnya menguatkan bukti yang didapat oleh Raffael. Dan tak lama setelah itu ada tiga orang saksi yang tiba-tiba masuk ke ruang sidang dan memang sengaja dihadirkan oleh Raffael.
Mata Febian seketika membulat terkejut saat melihat seorang laki-laki dan dua orang wanita masuk ke dalam ruang sidang. Pria itu menggelengkan kepalanya dengan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Ketiga orang itu pun dimintai untuk memberikan kesaksian secara bergantian. Suasana tampak hening mendengar ucapan dari seorang pria yang bernama Nelson.
Nelson adalah rekan bisnis Febian yang saat itu menjebak Febian dengan memberikan obat perang sang ke dalam minumannya. Pria itu juga adalah kakak dari mantan kekasih Febian yang juga ikut hadir sebagai saksi selanjutnya.
__ADS_1
“Saya memang sengaja ingin menjebak Febian karena rasa sakit hati saya melihat Sheina, adik saya dicampakkan oleh Febian saat sedang mengandung. Bahkan Febian sempat mengancam Sheina, kalau tidak menggugurkan kandungannya, pria itu akan membunuh adik saya.” ujar Nelson.
Febian meradang. Dia sangat marah dengan tuduhan itu. mau mengelak juga tapi banyak bukti yang semakin memperkuat. Tapi hal itu terjadi sebelum Febian dan Livy menikah.
Berikutnya saksi kedua yang tak lain adalah dari Sheina. Wanita itu hanya membenarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya sekaligus memberikan fakta mencengangkan kalau Febian adalah seorang penjahat kela min. dan hal itu dikuatkan lagi dengan saksi terkahir yang tak lain adalah Brenda. Wanita yang selalu memuaskan Febian selama pria itu bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis.
Jadi selama perjalanan bisnisnya ke luar negeri, Febian tidak murni untuk bekerja. Menemui Saskia pun hanya sebentar, karena disuruh oleh kedua oarng tuanya. Selebihnya, ia selalu menghabiskan waktunya dengan Brenda.
“Kurang ajarrr! Dibayar berapa kamu sama baj**an itu?” teriak Febian sambil menunjuk ke arah Raffael.
Suasana ruang persidangan pun seketika memanas. Brenda bahkan sampai memberikan bukti rekaman videonya saat sedang menghabiskan malam bersama Febian. hanya saja video itu diblur. Cukup didengarkan perkataan Febian saja.
“Kamu sangat menggoda sekali, Sayang! Kamu sangat berbeda dengan istriku,-“
“Cukup!!!” teriak Livy yang tidak sanggup lagi mendengar kelanjutan ucapan Febian.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1