
Sudah lebih dari dua bulan Dewa berdiam diri di rumah. beberapa lamaran pekerjaan sudah ia buat dan disebar luaskan ke beberapa perusahaan yang membutuhkan tenaganya. namun tak satu pun yang sedang membutuhkan tenaganya. Dan selama itu pula, Dewa sama sekali tidak bisa melupakan semua kenangan yang pernah ia ukir bersama Livy. entah bagaimana kabar wanita itu saat ini. mungkin saja Livy sudah hidup bahagia dengan suaminya karena batal bercerai.
Drt drt drt
Tiba-tiba saja Dewa mendapat pesan dari nomor asing. Pesan itu berisi bahwa lamarannya diterima. Dan Dewa diminta untuk datang secepatnya ke perusahaan itu untuk melakukan interview.
Ada seulas senyum terbit dari bibir Dewa. Dengan memiliki pekerjaan baru, mungkin sedikit demi sedikit ia bisa melupakan Livy.
Alamat keberadaan perusahaan yang baru saja mengirim pesan pada Dewa berada di luar kota. Hanya saja tidak jauh dari tempat tinggalnya sekarang. namun dia akan tetap tinggal di san ajika memang sudah diterima.
Dewa segera bersiap. Dia hanya mengambil beberapa baju ganti saja dan dimasukkan ke dalam tasnya. Dan hari ini juga ia akan pergi.
“Mau kemana kamu, Wa?”
Dewa menghentikan langkahnya saat mendengar suara Mamanya. Kemudian ia berbalik badan menatap mamanyan yang tampak sendu.
“Dewa mau bekerja.” Jawabnya singkat.
“Apa kamu mau bekerja jauh lagi, Wa? Apa kamu mau meninggalkan Mama lagi? apa kamu masih membenci Mama?” tanya Liana.
Dewa membuang mukanya. Jujur saja dia sangat lemah jika melihat wanita menangis. Apalagi Mamanya sendiri. Kemarin-kemarin memang dia jarang sekali berinteraksi dengan Mamanya. Dan kini, ia melihat Mamanya yang tengah bersedih, tentu saja sebagai seorang anak, dia tidak tega.
“Mama tahu kalau Mama bukanlah seorang Ibu yang baik untuk kamu, Wa. Tapi apakah kamu tidak bisa memaafkan Mama sedikitpun? Bagaimana caranya Mama menebus kesalahan ini, Wa?” ucap Liana dengan menundukkan kepala.
Dewa juga manusia biasa. Apalagi terhadap wanita yang telah melahirkannya, tidak mungkin sejahat itu dirinya. Meskipun kesalahan Mamanya dulu masih ingat jelas dalam benaknya. Akhirnya ia mendekati Mamanya, dan memeluknya dengan erat.
Tentu saja tangis Liana langsung pecah saat bisa merasakan kembali pelukan anaknya. anak yang sudah lama ia sia-siakan hanya demi kepuasan duniawi.
__ADS_1
“Dewa sudah memaafkan Mama. sekarang ijinkan Dewa pergi untuk bekerja, Ma. Dewa butuh pekerjaan untuk menyambung hidup. Dewa juga janji akan pulang dan mengunjungi Mama.” ucap Dewa setelah tangis Mamanya mereda.
Sebenarnya Liana masih belum rela jika harus ditinggal Dewa pergi lagi. apalagi hubungannya baru saja membaik. Namun apa boleh buat, Dewa juga membutuhkan pekerjaan. Selama ini dia juga hidup hanya dari usaha kecil-kecilan yang ia geluti. Dan hasilnya juga tidak seberapa.
“Kamu janji ya, Wa? Janji tidak akan meninggalkan Mama lagi.”
Dewa hanya mengangguk samar. Kini hatinya lebih lega dibandingkan sebelumnya. Karena memaafkan itu hal yang paling sulit dilakukan oleh manusia kalau tidak mau menurunkan egonya.
***
Perjalanan Dewa ke kota dimana ia harus melakukan interview tidak membutuhkan waktu lama. Hanya tiga puluh menit saja sudah sampai dengan menggunakan kendaraan umum. Dan kini Dewa sudah sampai di perusahaan besar yang kemungkinan besar akan menjadi sumber penghasilannya. Mau bekerja sebagai apapun akan dia jalani.
Kini Dewa sudah duduk di depan ruang HRD. Kebetulan jam makan siang baru saja selesai. namun bukannya ia disuruh masuk ke ruangan HRD, ia justru disuruh langsung menemui direktur utama perusahaan itu. Dewa pun menurut saja, dan segera menuju lantai tujuh.
Sesampainya di lantai tujuh, Dewa sudah diarahkan salah satu karyawan dimana ruangan direktur utama berada. Dan di sana tampak seorang pria paruh baya sedang menunggunya.
Pria itu sudah membaca CV Dewa. Kebetulan memang sedang membutuhkan seorang bodyguard untuk mengawal anaknya. Dewa mendadak cemas. Padahal dia berharap tidak ingin menjadi bodyguard lagi. apalagi jika harus mengawal anak dari direktur utama perusahaan ini.
Dewa semakin tidak nyaman. Apalagi kedatangannya tidak melakukan interview. Direktur utama perusahaan itu seolah sudah pasti akan memakai jasanya, yaitu sebagai bodyguard anaknya. mau menolak namun ia juga butuh uang.
“Meskipun anak saya laki-laki, dan usianya sepantaran dengan kamu, tapi anak saya sangat membutuhkan seorang seorang bodyguard. Dia sering sekali tidak pulang dan selalu menghabiskan malamnya dengan mabuk-mabukan. Semua itu karena masa lalunya. Jadi, apakah kamu bersedia menjadi bodyguard anak saya?”
Dewa pun bernafas lega karena ternyata majikan yang akan dia kawal adalah seorang laki-laki. Jadi aman-aman saja menurutnya.
“Saya bersedia, Tuan.” Jawab Dewa dengan mantap sambil mengulurkan tangannya.
***
__ADS_1
Sementara itu Livy kini menjalani kehamilannya dengan bahagia. Karena ia mendapat dukungan dari kedua orang tua, serta kakak dan kakak iparnya. Apalagi Jelita, sang kakak ipar juga sedang hamil. Jadi Livy merasa memiliki teman untuk berbagi pengalaman mengenai kehamilannya.
Reno dan Abi menutup segala informasi mengenai Livy, termasuk juga kehamilannya. Livy juga sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi ke perusahaan. Dia ingin fokus dengan janin yang saat ini sedang tumbuh di rahimnya.
Jika ditanya apakah Livy sudah melupakan sosok pria yang menjadi ayah biologis janinnya? Tentu saja tidak. Sampai saat ini dia tidak bisa sama sekali melupakan sosok Dewa. Juga tidak ada perasaan dendam atau benci pada pria itu.
Mungkin setelah melakukan hubungan terlarang waktu itu Dewa tidak merasa akan membuat Livy hamil. Yang pria itu tahu kalau rumah tangga Livy retak karena Febian tidak memiliki anak. Jadi dia beranggapan Livy lah yang memasang alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilannya.
Livy pun berharap semoga Dewa yang entah sekarang tinggal di mana, hidupnya baik-baik saja. jika memang Tuhan menjadikan dirinya dan Dewa berjodoh, suatu saat nanti pasti akan dipertemukan kembali. Apalagi Livy juga tahu kalau Dewa tidak mencintainya. Karena kedekatannya dulu mungkin hanya rasa nyaman saja.
***
Sore ini Livy tampak sedang malas-malasan di kamarnya. Hari ini si calon buah hatinya benar-benar membuatnya lemas tak berdaya. Biasanya hanya setiap pagi saja ia akan mual-mual. Nyatanya sampai siang hari menjelang makan siang, perutnya terus bergejolak.
Cklek
Jelita masuk ke kamar Livy dengan membawa salad buah. Livy yang sejak tadi siang tidak keluar kamar, seketika itu air liurnya seperti menetes saat melihat salad buah yang dibawa oleh kakak iparnya.
“Nih, makan dulu Vy! Siapa tahu perutmu lebih enakan. Kata Mama sejak tadi kamu nggak keluar kamar.” ujar Jelita sambil menyodorkan salad buah itu.
Livy menerimanya dengan antusias. Dia segera menyantap makanan itu beberapa sendok, karena memang sudah tidak tahan ingin menikmatinya. Namun, setelah salad buah itu masuk ke mulutnya beberapa sendok, Livy langsung menutup mulutnya dan segera berlari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!