
“Wa, kenapa kamu belum datang jam segini?” ucap seseorang dari balik teleponnya saat menyadari bodyguardnya tak kunjung datang saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.
Memang Mario akan datang ke kantor agak siang. Namun bukan berarti Dewa juga datang siang ke apartemennya. walau unit apartemennya bersebelahan juga.
Mario juga sedikit kesal pada Dewa yang hari ini berbuat seenaknya sendiri. Apa mungkin karena pria itu sudah berhasil membuatnya berubah, jadi Dewa akan berbuat seenaknya sendiri.
“Wa! Kamu dengar apa tidak?” tanya Mario sekali lagi karena sejak tadi tidak mendengar jawaban dari Dewa. Padahal panggilannya tersambung.
“Maafkan saya, Tuan…”
Mario terkejut saat mendengar suara lemah Dewa. Apa yang terjadi dengan pria itu. padahal semalam Dewa baik-baik saja. apa Dewa sedang sakit, makanya tidak datang ke unit apartemennya.
“Kamu kenapa, Wa?” tanya Mario.
Namun belum sempat Dewa menjawab, ponselnya sudah mati. Dewa kembali menutup matanya dengan tubuh yang menggigil dan keingat dingin membasai tubuhnya.
Mario segera berlari keluar menuju unit apartemen Dewa. Pria itu sudah mengetahui kode akses masuk ke unit apartemen bodyguardnya, jadi ia lebih cepat mengetahui keadaan Dewa.
Cklek
Mario sudah masuk ke kamar Dewa. Di sana tampak Dewa menggigil dengan wajah pucat berkeringat. Mario pun segera membawa Dewa ke rumah sakit.
“Sabar, Wa! Sebentar lagi sampai rumah sakit.” Ucap Mario sambil mengemudikan mobilnya.
Beberapa saat kemudian Mario sudah tiba di rumah sakit. Dewa segera mendapat pertolongan. Beruntungnya tidak ada hal serius dengan kesehatan Dewa. Mungkin karena kelelahan saja dan kurang istirahat yang menyebabkan Dewa mengalami demam tinggi dan kekurangan cairan. Keadaanya juga masih dalam pengaruh obat. Dan dokter menyarankan untuk rawat inap sampai keadaannya benar-benar pulih.
Mario bernafas lega setelah mematikan keadaan Dewa membaik. Dia menatap pria yang usianya sepantaran dengannya dengan tatapan iba. Menurut Mario, Dewa adalah sosok pria yang tangguh dengan pembawaannya yang cukup tenang. Bahkan semenjak kehadiran dia, Mario merasakan banyak perubahan yang lebih baik pada dirinya.
__ADS_1
“Liv…Livy… aku merindukanmu.” Gumam Dewa dengan mata masih terpejam.
Mario samar-samar mendengarnya. Pria itu menajamkan pendengarannya sambil mendekati brankar Dewa. Dan Dewa masih mengucapkan kalimat yang sama. Entah siapa yang dimaksud oleh Dewa, Mario tidak tahu. Namun sepertinya ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh Dewa selama ini. apakah nama yang disebut tadi adalah nama kekasihnya? Tapi kenapa mendengar nama Livy, Mario juga sepertinya tidak asing dengan nama itu.
“Livy kan adiknya Raffael. Tapi tidak mungkin Livy itu yang dimaksud. Apalagi Livy sudah menikah.” gumam Mario.
Mungkin setelah Dewa bangun nanti, Mario akan menanyakannya secara langsung. siapa tahu dia bisa membantu.
**
Siang itu akhirnya Mario pergi ke kantor tanpa Dewa. Dia membiarkan Dewa beristirahat di rumah sakit. Karena memang selama ini Mario tidak begitu memperhatikan jadwal Dewa yang hampir seharian penuh bersamanya.
Mario yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ia mendapat pesan dari Papanya, Chiko. Saat ini Papanya sudah kembali lagi ke perusahaan pusat. Dan Chiko meminta Mario untuk kembali lagi menangani perusahaan pusat.
Mario sejenak terdiam. Dia masih ingat kalau tujuannya datang ke perusahaan cabang yang saat ini ia pegang karena ingin melupakan masa lalunya. Namun, kini ia sudah lebih baik, apa itu artinya ia akan kembali lagi ke sana?
Mario teringat dengan ucapan Dewa beberapa waktu yang lalu. Kalau ingin bertemu dengan anaknya, setidaknya sudah harus berubah lebih baik. Dan memang benar yang dikatakan oleh Dewa. Mario juga ingin bertemu dengan anaknya sekaligus ingin meminta maaf pada sahabatnya.
***
Tepat dua bulan setelah permintaan Chiko pada Mario untuk kembali ke prusahaan pusat, baru hari ini Mario akhirnya bisa pindah. Tentunya dia ingin menyelesaikan beberapa pekerjaannya dulu. Selain itu dia berusaha membuju Dewa untuk ikut pindah.
Pasalnya setelah mendapat kabar kepindahannya, Dewa saat itu tiba-tiba meminta resign. Jelas Mario tidak mengabulkannya. Karena ia sudah sangat cocok dengan Dewa. Bahkan ia berencana akan menjadikan Dewa asisten pribadinya saat di perusahaan pusat.
Dengan berbagai alasan pun Mario tetap menolaknya. Mario juga lupa tidak menanyakan tentang nama perempuan yang sempat disebut dalam mimpi Dewa saat sedang sakit waktu itu. mungkin dia sudah lupa.
Dewa pun terpaksa harus ikut pindah kemana Mario pergi. Padahal dia berusaha untuk tidak lagi datang ke kota itu. kota yang menyimpan banyak kenangan dan masih belum bisa ia lupakan sampai saat ini. namun, jika ia resign, akan sangat sulit mendapatkan pekerjaan baru lagi.
__ADS_1
Dan kini kedua pria itu sedang dalam perjalanan udara. Baik Dewa maupun Mario sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing. Jika Mario memikirkan cara untuk meminta maaf pada keluarga Raffael, sedangkan Dewa memikirkan bagaimana jika nanti ia dipertemukan kembali dengan wanita yang sampai saat ini masih ia cintai. Parahnya lagi bagaimana jika nanti ia melihat Livy sudah hidup bahagia dengan suaminya.
Beberapa saat setelah menempuh perjalanan udara, Mario segera menuju sebuah apartemen miliknya. Apartemen itu akan ditempati oleh Dewa. Sedangkan ia akan tinggal bersama orang tuanya.
“Tuan, apa ini tidak terlalu berlebihan?” tanya Dewa saat sudah masuk ke unit apartemen Mario yang sangat mewah menurutnya.
“Tidak, Wa. Ini bukan apa-apa dari apa yang sudah kamu lakuan padaku selama ini. kamu istirahatlah dulu. Mungkin lusa baru kamu bisa aktif bekerja. Nanti akan ada surprise buat kamu di hari pertama kamu bekerja.” Ucap Mario membuat Dewa bingung.
“Sudah, jangan dipikirkan dulu. Lebih baik kamu nikmati waktumu dulu di sini.” lanjut Mario, setelah itu segera pergi meninggalkan Dewa.
“Oh iya, Wa. Besok antar aku ke panti asuhan ya?” ucap Mario ternyata pria itu belum benar-benar pergi.
Dewa hanya menganggukkan kepalanya saja. terserah keinginan majikan lah. Padahal baru saja Mario bilang kalau Dewa baru aktif bekerja lusa. Tapi Mario sudah memberikan tugas besok.
“Tenang saja. hanya mengantar saja! jadi masih santai. Kebetulan aku sudah lama tidak datang ke panti asuhan itu. jadi, mumpung aku baru datang, aku menyempatkan diri dulu untuk pergi ke sana. Ya sudah, selamat istirahat.”
“Hati-hati, Tuan.”
Usai kepergian Mario, Dewa merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Dia seperti menjadi orang kaya dengan tinggal di apartemen mewah seperti ini. pria itu berandai-andai kalau saja saat ini ia hidup bersama wanita yang dicintainya, pasti hidupnya akan sangat bahagia.
Dewa membuka ponselnya. Ia membaca pesan dari Mamanya. Pria itu mengulas senyum saat melihat foto Mamanya yang tengah sibuk dengan beberapa tanaman bunga yang menjadi sumber penghasilannya. Mamanya juga mengatakan selalu mendoakan dirinya, kemanapun ia berpindah tempat kerja. Karena memang Dewa sudah berpamitan pada Mamanya kalau ia akan pindah ke luar kota yang agak jauh. Dewa juga berjanji akan pulang kalau ada waktu luang.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!