
Dewa bingung dengan ancaman Livy baru saja. memangnya apa yang akan dia lakukan di sini. apa mungkin Livy mencurigainya akan mengambil sesuatu di perusahaan ini. namun lebih baik ia menurut saja. dan memilih menunggu Livy di kantin saja.
“Sekar, aku pergi dulu.” Pamit Dewa pada sekrataris Raffael yang ternyata teman Dewa.
“Iya, Wa. Senang bertemu denganmu lagi.” Sekar bicara dengan tersenyum pada Dewa.
Livy yang masih berada di sana semakin tidak suka melihat interaksi antara Dewa dan Sekar. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba seperti ini. kemarin sudah dibuat nyaman dengan pria itu. dan hari ini dibuat kesal. Livy pun akhirnya meninggalkan Dewa dengan perasaan kesal. Sementara Dewa langsung memakai lift khusus karyawan untuk mencari keberadaan kantin tanpa mempedulikan raut masam Livy.
**
Sepanjang meeting berlangsung sekaligus makan siang bersama kliennya, Livy sama sekali tidak fokus. Sejak tadi dia memikirkan apa yang dilakukan Dewa di sana. Apakah pria itu menghabiskan wantunya bersama Sekar. Apalagi saat jam makan siang seperti ini.
“Vy, kamu bisa serius nggak? Kenapa kamu melamun terus?” bisik Raffael dengan kesal.
Livy pun seketika tersadar. Dia mengangguk sopan pada rekannya. Namun mendapat lirikan tajam dari kakaknya. Beruntungnya meeting siang itu tidak terlalu lama. Raffael mengahndel dengan sangat baik hingga keduanya sudah menemukan kesepakatan untuk melakukan kerjasama.
Kini Raffael sedang dalam perjalanan kembali ke kantor dengan Livy. lagi-lagi Livy melamun memikirkan apa yang dilakukan Dewa di perusahaan saat ini. dan Raffael pun salah sangka. Ia mengira kalau Livy sedang memikirkan suaminya.
“Kalau ada masalah itu diselesaikan, Vy! Tidak dibawa-bawa dan dicampur adukkan dengan pekerjaan.” Celetuk Raffael.
“Apa sih, Kak. Aku nggak ada masalah apa-apa, kok.” Kilah Livy. walau sebenarnya dia sedang ada masalah dengan suaminya. namun perubahan sikapnya hari ini bukan karena Febian. melainkan Dewa.
Raffael pun hanya menghela nafas pelan. Dia juga tidak mau ikut campur terlalu dalam masalah rumah tangga adiknya. Kecuali Livy disakiti oleh suaminya, baru lah ia bertindak.
“Kamu nggak ke rumah? Mama tanyain kamu terus. Nggak kangen sama Ethan dan Kiara?” tanya Raffael mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Kak. Lain kali saja aku ke rumah. salam saja sama orang rumah.” jawab Livy.
Sebenarnya Livy juga sangat merindukan orang tuanya. Namun dia masih sensitif jika kedatangannya ke rumah nanti sang Mama kembali menyinggung masalah momongan.
“Kamu jangan khawatir dengan Mama yang akan membahas masalah anak lagi. aku jamin Mama tidak akan membahas itu lagi jika kamu sengaja tidak ke rumah karena ucapan Mama saat itu.” ucap Raffael seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh adiknya.
“Iya, Kak. Nanti kalau ada waktu luang, aku akan ke sana. Lagian Febian juga belum pulang.”
__ADS_1
**
Raffael dan Livy sudah kembali ke kantor. Livy bernafas lega saat melihat Sekar fokus dengan pekerjaannya. Begitu juga dengan Dewa yang tidak ada di sana.
Livy melanjutkan pekerjaannya lagi dengan serius sampai jam pulang kantor tiba. Wanita itu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena sejak tadi sangat fokus dengan beberapa dokumen penting.
“Aku pulang dulu ya, Vy! Baru saja Jelita mengirim pesan kalau badan Kiara panas.” Pamit Raffael.
“Baiklah, Kak. Semoga cepat sembuh buat Kiara. Nanti aku ke sana menjenguknya.” Sahut Livy dan mulai membereskan pekerjaannya.
“Ok. Santai saja. tunggu suamimu pulang saja. ya sudah, aku pulang dulu!”
Raffael bergegas keluar dari ruangannya. Pria itu tersenyum samar pada Dewa yang sudah standby di sana. Sedangkan Livy belum selesai membereskan pekerjaannya. Tak lama kemudian Livy keluar dari ruangan kakaknya dengan menenteng tas miliknya. Ternyata Dewa sudah menunggunya di sana. Namun tidak sendiri. Melainkan bersama Sekar.
Dewa terlihat ngobrol santai dengan Sekar. Keduanya belum menyadari kalau Livy sedang berdiri di depan pintu dengan perasaan kesal yang sudah di ubun-ubun.
“Kalau mau pacaran bukan di sini tempatnya.” Tegur Livy dengan suara galaknya.
Dewa dan Sekar terkejut. Mereka juga bingung dengan ucapan Livy. namun Sekar lebih memilih amannya. Perempuan itu melipir begitu saja meninggalkan Dewa dan Livy yang sedang dalam mode singa betina.
Kini hanya tinggal Livy dan Dewa saja. Dewa mendadak canggung menghadapi Livy. apalagi dia tidak mengerti dengan ucapan wanita itu baru saja.
“Senang kamu menungguku di sini? kamu bisa santai-santai dan berbuat seenaknya. Apalagi pacaran dengan sekretaris itu.” tuduh Livy berapi-api.
“Apa maksud anda, Nona? Saya tidak mengerti. Saya tidak,-“
Srekk
Bruk
Dewa sangat terkejut saat tiba-tiba Livy mendorongnya ke dinding. Apalagi melihat tatapan Livy yang penuh amarah tertuju padanya. Dewa sama sekali tidak mengerti dengan kemarahan Livy. lagi pula siapa yang pacaran? Apa salah jika ia ngobrol dengan temannya? Apalagi jam pulang kantor telah usai.
Tubuh Livy masih menempel dengan tubuh Dewa yang terpojok di dinding. Tatapannya tajam dengan nafas tersengal. Livy sendiri masih tidak mengerti apa alasan dia marah pada Dewa.
__ADS_1
“Kamu ingat dengan tugasmu kan, Wa?” tanya Livy dengan menunjuk ke arah wajah Dewa.
“Iya, Nona. Saya ingat. yaitu menjaga anda, memastikan anda aman.” Jawab Dewa dengan tenang dan menatap mata lawan bicaranya.
“Kalau kamu ingat, kenapa kamu bekerja seenaknya sendiri?” Livy berbicara masih dengan nada marah dan menunjuk wajah Dewa.
“Maaf, Nona. Saya tidak mengerti sama sekali dengan,-“
“Cukup! Kamu masih terus mengelak dan pura-pura bodoh setelah aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, apa yang kamu lakukan bersama Sekar.”
Nafas Livy masih tersengal. Namun sedetik kemudian dia sadar apa yang telah diucapkan baru saja dan sadar dengan posisinya yang sangat dekat dengan Dewa bahkan tubuh keduanya nyaris menempel.
Arghhhh
Livy benar-benar kesal dengan dirinya sendiri. Dia segera menajuhkan tubuhnya dari Dewa. Namun rupanya Dewa yang kini justru menahan tubuh Livy. ada rasa tidak terima dalam diri Dewa saat Livy berbicara sambil menunjuk mukanya. Namun ia ingat kalau Livy adaah majikannya yang bebas berbuat apa saja.
“Apa yang kamu lakukan, Wa?” tiba-tiba Livy ketakutan saat Dewa menahan tubuhnya dengan memegang pinggangnya.
Dewa kini semakin bingung saat melihat raut wajah Livy yang sudah tidak marah-marah lagi. melainkan sedang ketakutan.
“Maafkan saya, Nona. Tapi saya sama sekali tidak mengerti dengan kemarahan anda baru saja.” ucap Dewa dengan suara yang begitu tenang dan matanya menatap dalam netra Livy.
Livy sangat gugup. Apalagi dia bisa merasakan langsung hembusan nafas Dewa yang menerpa kulit wajahnya.
“Lupakan saja! anggap aku tidak pernah mengatakan itu semua.” Jawab Livy lalu membuang pandangannya ke samping.
Entah keberanian dari mana, tiba-tiba saja Dewa memegang rahang Livy agar wanita itu menoleh padanya. Wajah mereka pun kembali berhadapan. Bahkan kini sangat dekat, hampir tidak berjarak. Kedua pasang mata itu juga saling menatap dalam. Dan kini ujung hidung mereka sudah bersentuhan. Tak lama kemudian Livy merasakan sesuatu yang hangat dan lunak menempel tepat di bibirnya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!