Main Hati

Main Hati
Eps 58 ~ Minum Susu


__ADS_3

Ciuman itu terlepas begitu saja saat mendengar suara seseorang berada di ruang tengah. Livy dan Dewa sama-sama terkejut saat melihat keberadaan Raffael di sana.


“Kak Raffa kok ada di rumah?” tanya Livy heran namun dengan perasaan yang masih gugup karena kepergok sedang berciuman dengan Dewa.


Bukannya menjawab, Raffa justru tersenyum ke arah adik dan calon adik iparnya.


“Tahan dong, Wa! Kalian belum sah. Setelah ini puas-puasin deh.” Ucap Raffael.


Livy semakin malu dengan ejekan kakaknya. Tapi tidak dengan Dewa. Pria itu tampak biasa saja dan merasa hal itu sangat wajar. Apalagi dia pria dewasa. Tentunya Raffael juga pernah mengalami hal yang sama.


“Ya sudah lanjutkan! Asal jangan kelewat batas.” Ucap Raffael dan beranjak pergi meninggalkan kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu. tapi sedetik kemudian Raffael menghentikan langkahnya.


“Ah iya, aku baru ingat kalau kamu masih nifas ya Vy? Jadi aman. Setidaknya sampai empat puluh hari Dewa baru bisa berbuat kelewat batas.” Ucap Raffa dengan menahan senyum saat melihat wajah bingung Dewa.


Livy tidak menimpali ucapan kakaknya. Dia mendengar suara rengekan kecil Calvin, lalu mengambilnya. Karena bayi itu pasti bangun karena haus.


Livy sudah duduk menggendong Calvin dan hendak memberikan ASI. Livy sudah memakai kain penutup yang aman saat memberikan Calvin ASI di samping Dewa. Jadi Dewa tidak dag dig dug lagi seperti kemarin. Namun Dewa masih memikirkan ucapan Raffael baru saja. tentang apa maksudnya empat puluh hari lagi.


“Sayang, apa maksud ucapan Raffa tadi? nifas? Menunggu sampai empat puluh hari lagi?” tanya Dewa penasaran.


Livy yang sedang fokus memberi ASI pada Calvin terkejut dengan pertanyaan Dewa. Benarkah pria itu tidak mengerti tentang masa nifas wanita yang baru saja melahirkan.


“Kamu benar-benar nggak tahu tentang masa nifas, Mas?” tanya Livy memastikan dan mendapat jawaban gelengan kepala dari Dewa.


“Nifas itu adalah darah yang keluar dari rahim setelah melalui proses melahirkan, Mas. Dan selama itu pula tidak diperbolehkan untuk melakukan hubungan suami istri.”


“Lalu kenapa aku harus menunggu sampai empat puluh hari, Sayang?”


“Ya memang masa nifasnya sampai empat puluh hari. Bisa lebih dari dari itu. tergantung kondisi dari masing-masing wanita.”

__ADS_1


Dewa benar-benar terkejut. Sungguh dia memang tidak mengerti dengan hal-hal seperti ini. yang dia tahu dan pernah dengar hanya datang bulan saja. selebihnya tidak tahu sama sekali. Lalu jika masa nifas Livy sampai empat puluh hari atau lebih, itu artinya setelah menikah nanti masa nifasnya belum selesai.


Livy menahan tawa saat melihat wajah Dewa yang terlihat aneh namun terkesan kecewa. Wajar saja kalau dia menikah dengan seorang perjaka. Meskipun usia Dewa lebih matang darinya, Livy masih memaklumi kalau Dewa sangat awam mengenai hal itu.


“Mas? Kenapa melamun sih? Nih gendong Calvin dulu! Dari tadi kamu belum aku buatkan minum. Mau minum apa?” ucap Livy sambil memberikan Calvin.


“Minum susu.” Jawab Dewa reflek.


Livy langsung memukul pelan lengan Dewa. Bisa-bisanya pria itu berpikiran mesyyum.


“Apa sih, Sayang! Aku memang suka minum susu. Ditambah es batu kalau bisa.” Jawab Dewa tampak biasa saja. kini justru Livy yang malu sendiri.


“Jangan-jangan kamu yang berpikiran aneh-aneh ya? Hei boy, apa kamu mengijinkan Papa untuk berbagi susu?”


Livy tak lagi menimpali ucapan Dewa. dia segera menuju dapur untuk membuatkan minuman sesuai yang Dewa minta. Karena memang Livy tidak tahu kalau calon suaminya itu suka sekali minum susu dingin.


***


Selama menunggu hari pernikahannya, Dewa juga masih bekerja seperti biasa. Dia tetap bersikap professional. Karena pekerjaan Mario di kantor juga sangat padat.


Seperti sekarang ini. hari pernikahan Dewa tinggal empat hari lagi. dan Dewa juga masih bekerja. Mario akan memberikannya cuti dua hari sebelum hari H. dan Dewa tidak mempermasaahkannya.


“Wa!” panggil Mario saat keduanya sedang berada di ruang kerja Mario.


“Ada apa, Tuan?” jawab Dewa yang bersikap hormat pada atasannya. Meskipun Mario sudah menganggapnya sebagai sahabat.


“Jangan formal dong, Wa. Aku ingin bicara di luar pekerjaan.”


Dewa yang sibuk dengan dokumen di tangannya, kini meletakkannya di atas meja setelah itu mendengarkan Mario.

__ADS_1


“Ehm, apa kamu mengenal Raina?”


Dewa tampak memicingkan matanya pada Mario. Apakah itu artinya Mario sedang melakukan pendekatan pada Raina.


“Tidak terlalu dekat. Dia adik angkat mantan suami Livy. ada apa memangnya? Kamu suka dengannya?” tanya Dewa to do poin.


Mario bingung mau menjawab apa. Akhirnya ia menjawab dengan anggukan kepala. Siapa tahu Dewa bisa membantunya.


“Kalau itu aku sudah tahu. Barangkali ada hal lain yang kamu tahu tentang dia. Jujur saja, Wa aku tertarik dengan wanita itu. ya, meskipun dia seorang janda anak satu. Aku tidak masalah.”


“Dia bukan janda. Dia tidak pernah menikah.”


Mario tidak mengerti dengan ucapan Dewa baru saja. kenapa dia jadi ingat dengan Jelita. apakah masa lalu Raina juga sama seperti Jelita.


“Apa maksud kamu, Wa?”


“Ya, memang Raina tidak pernah menikah. dia korban dari pemerko saan Febian, mantan suami Livy.” Jawab Dewa dan kembali melanjutkan ceritanya tentang Raina lebih detail. Mario benar-benar terkejut. Ternyata masih ada pria yang lebih berengsek darinya. Sungguh malang sekali nasib Raina dan anaknya.


“Kalau kamu serius dengannya, aku akan coba bantu.” Ucap Dewa.


Mario menganggukkan kepalanya dengan sangat yakin. Dia sangat iba melihat Saskia yang tidak mempunyai Ayah di usianya yang sudah tiga tahun. Meskipun dulu ia terlambat mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Jelita, setidaknya dengan menikahi Raina agar Saskia memiliki ayah, sama halnya dia sudah berubah menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2