Main Hati

Main Hati
Eps 25 ~ Terpaksa Berbohong


__ADS_3

Dewa terpaksa berbohong pada Febian. dia membalas pesan itu dan mengatakan kalau Livy hanya sedang menyendiri di tepian danau. Sedangkan dirinya diminta untuk menunggu di dalam mobil.


“Lebih baik kita pulang sekarang!” ajak Dewa kemudian.


Livy masih diam. dia masih merasa bersalah pada Dewa. Kenapa sikap tenang Dewa membuatnya semakin tidak nyaman. Kenapa Livy merasa kalau setelah ini Dewa pasti akan pergi meninggalkannya.


“Wa, apa kamu tidak percaya kalau aku mencintaimu?” tanya Livy tiba-tiba.


Dewa hanya mengulas senyum mendengarnya. “Percaya. Aku percaya, Vy. Kamu adalah wanita yang sangat baik yang pernah aku temui. Jadi, maafkan aku kalau aku memintamu untuk membuang perasaanmu padaku. ada Febian yang sangat mencintaimu. Jalani rumah tanggamu dengan baik seperti semula. Anak bukanlah alasan pertengkaran kalian. dicintai itu jauh lebih baik daripada mencintai, Vy.”


Livy menggelengkan kepalanya. Kenapa dia terjebak dengan perasaan seperti ini. mana yang harus ia pilih. Mempertahankan Febian, pria yang mencintainya namun sangat egois. Atau Dewa pria yang membuatnya sangat nyaman, namun pasti Dewa akan dicap sebagai pria perebut istri orang.


Livy benar-benar pusing dan juga lelah dengan situasi yang tengah ia hadai saat ini. sama halnya dengan Febian. tidak menemukan solusi.


***


Semenjak pertengkarannya dengan Febian waktu itu, Livy benar-benar memutuskan tidur terpisah dengan suaminya. biarlah hubungan rumah tangganya tidak sehat seperti ini. toh selama seminggu ini Febian yang pernah mengatakan meminta waktu, sampai sekarang pun tidak juga mengatakan apapun pada Livy. dia justru menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Livy pun tidak terlalu memikirkannya lagi. asal setiap hari dia bisa bersama Dewa, sudah cukup membuatnya bahagia. Meskipun masih ada rasa bersalah karena secara tidak langsung menyakiti hati pria itu.


**


Saat ini Livy sedang sarapan bersama suaminya. keduanya saling diam menikmati mebu sarapannya pagi ini. karena memang sejak saat itu hubungan mereka berdua tidak baik-baik saja. Febian yang tidak berusaha jujur dengan masa lalunya pada Livy, namun tidak ingin membiarkan wanita itu pergi, sekalipun Livy meminta cerai. Sedangkan Livy sendiri tidak terlalu memikirkannya lagi. lebih baik fokus mencari kebahagiaannya sendiri karena memang Febian tidak bisa memberikan semua itu.


“Sayang, hari ini aku akan ke luar kota untuk beberapa hari.” Ucap Febian di tengah-tengah kegiatan makannya.


“Hmm.” Jawab Livy dengan datar.


Febian sangat sakit mendengar jawaban istrinya yang seperti itu. padahal dulu Livy tidak seperti ini. wanita itu pasti akan menyiapkan beberapa keperluannya selama perjalanan bisnisnya nanti. biarlah seperti ini dulu. Asal Livy masih miliknya selamanya.


Usai menghabiskan sarapannya, Febian mengambil beberapa keperluannya selama perjalanan ke luar kota nanti. begitu juga dengan Livy yang mengambil tasnya siap berangkat ke kantor.

__ADS_1


Febian lebih dulu keluar rumah. dia memasukkan koperbya ke dalam mobil. Lalu ia menghampiri Dewa yang tampak sedang menunggu Livy untuk berangkat ke kantor.


“Wa, beberapa hari ke depan aku pergi ke luar kota. Aku titip Livy. kalau ada apa-apa hubungi aku.” ucap Febian dengan wajah tertunduk lesu.


Dewa yang pura-pura tidak tahu permasalahan yang sedang dihadapi oleh majikannya hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Bagaimana pun juga dia bekerja dengan Febian. dan pria itu juga yang menggajinya.


“Saya akan melaksanakan sesuai perintah anda, Tuan.” Lanjut Dewa.


Setelah itu Febian masuk ke dalam mobil siap berangkat ke luar kota. Pria itu bahkan tidak berpamitan lagi pada Livy. karena percuma saja. Livy masih bersikap dingin padanya.


Sebenarnya Livy melihat interaksi suaminya dengan Dewa. Dia membiarkannya saja dan menunggu sampai Febian berangkat. Baru ia akan keluar rumah. entahlah, Livy juga sudah malas dengan keadaan ini. bahkan niat awalnya yang ingin mencari rahasia yang sepertinya disimpan oleh suaminya kini mendadak malas.


“Selamat pagi, Nona!” sapa Dewa menyambut Livy yang sudah siap berangkat ke kantor.


Livy hanya melirik malas pada Dewa. Sudah berulangkali dia mengatakan pada Dewa untuk tidak memanggilnya Nona kalau sedang berdua saja. sedangkan Dewa sendiri langsung membukakan pintu mobil dan siap mengantar majikannya.


“Aku tidak ingin berangkat ke kantor pagi ini.” ucap Livy tiba-tiba.


Dewa bingung. Karena perjalanannya ke kantor majikannya hampir sampai. Livy juga bilangnya sangat mendadak. Dewa pun terpaksa menepikan mobilnya sejenak.


Dewa menghembuskan nafasnya pelan. Suka-suka lah, namanya juga sultan. Mau datang ke kantor atau tidak sama sekali tidak ada pengaruhnya. Tidak ada yang bisa memecatnya.


“Kalau saya tidak mau, bagaimana Nona?” tanya Dewa.


“Apa kamu sudah bosan bekerja denganku? Apa kamu mau aku pec,-“


“Mau.” Sahut Dewa dengan cepat. Karena menurutnya itu lebih baik. Daripada ia harus dibuat ikut masuk ke dalam masalah rumah tangga Livy dan Febian.


“Cepat jalan! Kemana saja kamu membawaku pergi. Dan sampai kapanpun kamu tidak akan bisa keluar dari pekerjaan ini.” Kesal Livy lalu membuang pandangannya ke sisi jendela.


Dewa pun kembali melajukan mobilnya menuruti keinginan sang Nyonya besar. Livy mengatakan kemana saja. apa mau jika wanita itu dia bawa pergi jauh dari suaminya agar dia bisa memiliki Livy seutuhnya. Dewa menggelengkan kepalanya. Meskipun Livy mau, dia yang justru tidak berani mengambil resikonya.

__ADS_1


“Kenapa kamu, Wa?” Livy melihat Dewa yang tampak aneh.


“Nggak apa-apa, Nona.”


“Wa!!” Kesal Livy saat lagi-lagi Dewa memanggilnya Nona.


“Maaf, Vy. Baiklah. Hari ini aku akan mengajakmu jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi.” Ujar Dewa kemudian.


Dewa membawa Livy ke suatu tempat di wilayah perbukitan sedikit jauh dari tempat tinggal Livy. udara yang sangat sejuk membuat Livy seketika merasa tenang. Dewa pun sangat lega melihat senyum Livy yang akhir-akhir ini sangat jarang ia lihat.


Dewa turun dari mobil. Saat ini ia sedang berhenti di lereng pegunungan dimana di sana ada beberapa gazebo kecil yang memang disediakan untuk orang-orang yang ingin menikmati pemandangan sekitar.


“Minumlah!” Dewa memberikan sebotol minuman kaleng pada Livy yang sedang duduk di atas kap mobilnya.


“Terima kasih, Wa. Kamu pintar sekali mencari tempat sebagus ini. apa kamu sering datang ke sini sebelumnya? Aku saja tidak pernah tahu ada tempat sebagus ini.” ucap Livy dengan takjub.


“Iya. aku dulu sering ke sini.” jawab Dewa dengan tatapan kosong lurus ke depan seolah sedang mengenang masa lalunya yang tanpa seorang pun tahu.


Tapi kenapa Livy sangat sakit mendengar jawaban Dewa. Apa Dewa dulu sering datang ke sini bersama kekasihnya? Tatapan Dewa saat ini saja seolah membenarkan dugaan itu.


“Aku mau pulang saja!” ucap Livy tiba-tiba dan segera turun dari kap mobilnya.


Sayangnya Dewa dengan cepat menahan langkah Livy. pria itu langsung menarik Livy ke dalam pelukannya.


“Biarlah seperti ini! dan jangan pulang dulu!” ucap Dewa sambil mengirup aroma rambut Livy.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2