
Meskipun Livy masih ragu atas informasi yang diberikan oleh Dewa sebelum ia membuktikannya, namun ia tidak bisa membenci Saskia. Justru di sini Saskia lah yang menjadi korban. Livy sangat iba melihat nasib gadis kecil yang sedang dalam gendongannya ini.
Mungkin karena Livy memnag sangat mendambakan seorang anak. Terlebih sejak dulu ia selalu care terhadap anak kecil, jadi ia tidak perlu memberikan Saskia pada suaminya. yang belum tentu Febian mau menenangkan Saskia.
Kini Saskia sudah tidur dalam gendongan Livy. demamnya sedikit turun. Anak itu juga tampak mengeluarkan keringat. Setelah itu Livy memberikannya pada Raina.
“Sudah tidur, Kak?” tanya Raina.
“Sudah. Demamnya juga sudah turun sepertinya. Coba nanti kamu ukur lagi dengan thermometer.”
“Baik, Kak. Aku akan mengucapkan terima kasih pada Kak Bian besok saja. memang seperti ini kalau Saskia demam.” Ucap Raina dan lagi-lagi semakin membuat Livy heran sekaligus sangat yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka darinya.
Livy hanya menganggukkan kepalanya setelah memindah Saskia ke gendongan Raina. Setelah itu Raina membawanya masuk ke dalam kamar.
“Kamu nggak perlu mengucapkan terima kasih pada Febian. karena sejak tadi aku lah yang menenangkan Saskia.” Ucapan Livy membuat Raina menghentikan langkahnya. Betapa terkejutnya dia ternyata yang menenangkan Saskia adalah Livy, bukan Febian.
“Maaf, Kak. Aku, tidak,-“
“Sudah, lebih baik kamu juga segera tidur. Mumpung Saskia juga sudah pulas tidurnya.” Sahut Livy lalu segera beranjak meninggalkan Raina yang masih belum hilang keterkejutannya.
***
Keesokan paginya, seperti biasa Livy sudah siap berangkat ke kantor. biasanya ia akan sarapan dulu. Namun kali ini tidak. Livy meminta Bi Ratih untuk menyiapkan bekal yang akan ia bawa ke kantor. sementara Febia sudah berada di meja makan bersama Raina yang juga sudah rapi.
Livy tidak tahu juga tidak mau tahu tentang Raina yang sudah bekerja di perusahaan suaminya. begitu juga dengan Saskia yang dibawa ikut bekerja atau tinggal di rumah bersama Bi Ratih.
“Kak Livy nggak sarapan dulu?” Raina menghentikan langkah Livy yang baru saja keluar dari dapur dengan menenteng paper bag berisi bekal makanan.
“Oh, kalian lanjutkan saja makannya. Ini aku sudah membawa bekal, karena hari ini aku buru-buru sekali.” Jawab Livy segera berlalu.
Raina kembali duduk. Namun kini Febian yang justru berdiri meengejar istrinya. Pria itu terlihat snagat marah terhadap istrinya yang sama sekali sudah tidak menganggap keberadaannya. Meskipun kondisi rumah tangganya tidak baik-baik saja, setidaknya tidak ditunjukkan pada Raina.
“Vy, kenapa kamu bersikap seperti itu? aku ini suami kamu. Masih punya adab kan kalau di depan suami harus bersikap seperti apa?” tanya Febian dengan geram.
“Masih. Kalaupun menurut kamu aku sudah tidak memiliki adab, bukankah kamu sendiri yang mengajarinya secara tidak langsung?”
__ADS_1
“Apa maksud kamu? Semakin ke sini sikap kamu sama sekali tidak mencerminkan sebagai seorang istri.”
“Memangnya kamu juga mencerminkan dirimu sebagai seorang suami yang baik?” Livy sama sekali tidak takut dengan tatapan tajam Febian.
“Jangan memancing emosiku! Dan jangan sangkut pautkan tentang anak atas masalah ini. ini sama sekali tidak ada hubungannya.”
“Terserah kamu! Aku sudah muak. Aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat denganmu pagi-pagi seperti ini.”
“Vy, aku belum selesai bicara.” Cegah Febian dengan mencengkeram lengan Livy.
Livy meringis merasakan cengkeraman tangan Febian membuatnya kesakitan. Namun sepertinya pria itu tidak peduli sama sekali.
“Lepaskan, Bi! Kamu menyakitiku!” Teriak Livy. dan tentu saja didengar oleh seluru penghuni rumah termasuk Dewa.
Dewa hendak berlari menolong Livy, namun Febian sudah lebih dulu melepas tangannya yang telah menyakiti Livy.
“Maafkan aku, Vy! Aku tidak bermaksud menyakitimu.” Lirih Febian lalu berusaha meraih Livy dan memeluknya.
“Aku benci denganmu! Ceraikan aku sekarang juga!” teriak Livy hingga wanita itu merosot ke lantai dengan air mata yang berlinang.
***
Kini Livy sudah berada di dalam mobil bersama Dewa. Mata Livy masih sembab akibat tangisnya. Dia benar-benar rapuh dan rasanya sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Febian.
Memang sangat sulit jika dia harus mengakhiri hubungannya dengan Febian, namun dari Febian sendiri tidak menghendakinya. Mungkin Livy harus bersabar dulu sampai ia menemukan bukti-bukti kuat yang bisa memperlancar perpisahannya dengan Febian.
“Ke rumah sakit dulu, Wa!” ujar Livy yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
“Apa tangan kamu masih sakit?” Tanya Dewa, karena ia pikir Livy memintanya untuk mengantar ke rumah sakit untuk memeriksakan tangannya akibat ulah Febian tadi.
“Tidak.” Jawab Livy singkat.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit. Livy meminta Dewa untuk menunggunya di luar. Sementara Livy segera masuk untuk menemui temannya sebentar.
Tak lama kemudian Livy sudah masuk kembali ke mobil. Meminta Dewa melajukan mobilnya ke kantor. Dewa tidak ingin tahu banyak ada apa Livy ke rumah sakit. Dan siapa yang ia temui di sana. Bagaimana pun juga Dewa harus tetap menjaga privasi majikannya. Walau pada kenyatannya hubungan mereka sangat dekat bukan sekadar hubungan majikan dan bawahanya.
__ADS_1
***
Semenjak pertengkarannya dengan Febian kemarin, Livy sudah tidak lagi melihat keberadaan suaminya di rumah. sampai tidur pun Livy juga melihat kondisi tempat tidurnya masih rapi. Itu tandanya Febian sama sekali tidak pulang. tapi dia juga tidak ingin tahu kemana pria itu pergi.
Pagi ini Livy sudah siap untuk pergi ke luar kota. Dia menuruni tangga dengan menarik koper yang berisi beberapa pakaiannya. Namun tiba-tiba saja ia melihat Febian yang sepertinya baru pulang dengan wajah yang kusut dan masih mengenakan setelan kerjanya.
“Sayang, maafkan aku! maafkan atas sikap kasarku kemarin.” Lirih Febian menghampiri istrinya.
“Kumohon, Vy! Jangan pergi!” tambahnya dengan suara lemah.
Livy sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan suaminya. apalagi jadwal keberangkatannya sudah sangat mepet. Akhirnya ia mengabaikan Febian begitu saja.
Febian menatap nanar kepergian istrinya. Hatinya benar-benar hancur melihat wanita yang sangat ia cintai bersikap dingin seperti ini.
“Kak, jangan lemah seperti ini! lebih baik Kak Bian bicara jujur dengan Kak Livy tentang semua ini. sebelum Kak Livy tahu sendiri.” Ucap Raina yang tidak tega melihat kesedihan Febian.
“Kamu jangan ikut campur! Semua ini gara-gara kamu. Pergi kamu dari sini!” bentak Febian.
“Aku akan pergi dari rumah ini, asal Kak Bian mau jujur dengan istri Kak Bian,-“
“Kamu jangan mengaturku! Aku sudah muak denganmu dan,-“
“Aku akan pergi tapi tidak dengan Saskia. Dia sangat membutuhkanmu, Kak. Aku sangat yakin kalau Kak Livy akan menerima Saskia setelah kamu jujur tentang semuanya.” Ucap Raina lalu segera pergi meninggalkan Febian dengan rasa sesak di dadanya.
Mungkin memang lebih baik seperti ini. Raina sudah tidak mempedulikan lagi perasaannya terhadap Febian. yang terpenting saat ini adalah Saskia.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1