
Kini Livy sudah berada di dalam mobil bersama Dewa. Mata Livy masih sembab usai menangis tadi. Dewa juga masih megkhawatirkannya.
“Apa anda baik-baik saja, Nona?”
“Iya. jalan sekarang!” seru Livy lalu membuang pandangannya ke luar jendela.
Dewa pun menurut. Melajukan mobil menuju salah satu pusat perbelanjaan dimana Livy akan shopping.
Tak ada percakapan sama sekali diantara keduanya. Dewa sendiri sebenarnya masih khawatir dengan Livy pasca melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Livy sedang menangis tadi. entahlah, mungkin karena tugas dan tanggung jawabnya lah yang membuat Dewa mengkhawatirkan keadaan majikannya. Siapa tahu suami Livy mengetahuinya, dan pria itu akan bertanya padanya. Mau dijawab seperti apa. Apalagi Livy melarangnya untuk mengatakan pada Febian kedatangannya ke panti asuhan.
“Ingat, Wa. Jangan sekali-kali mengatakan pada Febian kalau hari ini kamu mengantarku ke panti asuhan.”
“Baik, Nona!”
Setelah itu ada lagi percakapan diantara keduanya. Hingga sampai mobil yang dikemudikan Dewa memasuki basement mall.
Dewa buru-buru keluar dari mobil untuk membukakan pintu. Setelah itu dia diminta Livy untuk ikut masuk ke dalam mall.
Sebelumnya jika Livy sedang shopping ataupun pergi kemana saja dan diantar oleh Pak Dirman, Pak Dirman hanya diminta untuk menunggu di dalam mobil saja. kecuali Livy sendiri yang meminta Pak Dirman ikut, mungkin untuk membawakan barang bawaannya.
Lalu dengan Dewa, pria itu jelas tugasnya tidak sama dengan Pak Dirman. Karena memang tugas seorang bodyguard adalah selalu mengikuti kemana majikannya pergi. Keselamatan Livy adalah tanggung jawab Dewa sepenuhnya.
Kini Livy sudah berada di stand pakaian. Dia memilih beberapa baju. Perlu diingat, salah satu hobbi Livy adalah shopping. Pantas saja wanita dua puluh lima tahun itu selalu tampil modis dan stylis. Bahkan Dewa saja sempat mengira kalau Livy masih single.
Tidak banyak memang baju yang dibeli oleh Livy. sedangkan Dewa yang berjalan mengekor di belakangnya mendapat tugas membawakan keranjang pakaian. Setelah itu Livy menuju stand baju khusus pria.
Livy memilih beberapa kemeja lengan pendek dan juga dengan celananya. Hanya saja saat sedang memilih pakaian itu, Livy sesekali melihat postur tubuh Dewa. Apa mungkin Livy membelikan baju untuk suaminya, namun postur tubuh Dewa yang digunakan sebagai acuan. Padahal dua pria itu memiliki postur tubuh yang berbeda. Lebih berisi Dewa dibandingkan Febian. Lalu, buat siapa baju itu.
Kini Livy sudah mengantri di kasir. Dewa meletakkan semua baju-baju itu di atas meja kasir, lalu Livy mengeluarkan kartu saktinya.
__ADS_1
Usai berbelanja, Livy singgah dulu di salah satu restaurant mall untuk makan siang. Mungkin karena kelelahan, jadi dia perlu mengisi tenaganya dulu. Sedangkan Dewa berdiri di belakang Livy saat wanita itu sedang memilih beberapa menu makanan.
“Kamu mau makan apa, Wa?” tanya Livy dengan pandangan masih tertuju pada buku menu.
Dewa yang sedang berdiri di belakang Livy pun sempat bingung dengan pertanyaan majikannya. Apa mungkin Livy akan mengajaknya makan siang bersama. Tapi rasanya itu sangat tidak sopan.
“Wa? Kamu makan apa?” tanya Livy lagi dengan posisi badan menoleh ke belakang.
“Tidak usah, Nona. Nanti saja saya makannya.” Tolak Dewa dengan halus.
Livy hanya mendengus. Kemudian dia memesan makanan dna memberikan pada pelayan restaurant. Tapi dia meminta untuk dibungkus saja, tidak dimakan di sini.
Kini Livy sydah keluar mall dengan menenteng paper bag berisi makanan. Sebenarnya Dewa sudah memintanya untuk dibawakan, tapi ditolak oleh Livy.
“Kita ke taman kota saja, Wa. Hari ini aku nggak jadi ke spa.” Tutur Livy pada Dewa sebelum Dewa menjalankan mobilnya.
Kini Dewa sudah menghentikan mobil di parkiran taman kota yang cukup terik di siang seperti ini. tapi di sana ada beberapa tempat teduh yang memang sering digunakan beberapa orang untuk mencari angin segar di sana.
Tanpa mereka berdua sadari, taman itu adalah tempat favorit Livy dan Dewa. Livy juga sering menghabiskan waktunya di taman ini sekadar mencari angin segar. Tapi tidak dengan Dewa. Pria itu sengaja pergi ke taman ini untuk mengusir kejenuhannya setelah sekian lama menjadi pengangguran.
Tempo hari saat Livy tidak sengaja menabrak Livy juga sedang berada di taman ini. sayangnya Livy saat itu tidak melihat siapa orang yang ditabrak.
Livy duduk di salah satu kursi taman yang cukup sejuk karena berada di bawah pohon rindang. Setelah itu dia mengambil box makanan yang ia beli tadi.
“Duduklah, Wa! Ini makanan kamu. Aku yakin kamu juga sudah lapar.” Ucap Livy memberikan box makanan pada Dewa.
“Tapi, Nona. Nona Livy saja yang makan dulu.” Sekalilagi Dewa menolak dengan halus.
“Sudah, jangan menolak lagi. lagian di sini tidak ada orang yang tahu kalau kamu sopir pribadiku. Sudah cepat makan! Perut lapar saja masih mementingkan gengsi.” Gerutu Livy di akhir kalimat.
__ADS_1
Mata Dewa sempat membulat sempurna saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Livy. tapi tidak mungkin juga dia protes. Akhirnya mau tidak mau dia ikut duduk di depan Livy sambil menikmati makan siangnya.
Keduanya fokus dengan makanan masing-masing. Livy juga terlihat santai dan menikmati makanannya. Sedangkan Dewa, justru pria itu menikmati makannya sambil sesekali mencuri pandang pada Livy yang terlihat sangat cantik dalam jarak yang cukup dekat seperti sekarang ini.
“Kamu sudah lama tinggal di kota ini, Wa?” tanya Livy sambil menikmati makannya.
“Iya, Nona. Kurang lebih selama tujuh tahun saya tinggal di kota ini.”
Memang saat Livy membaca CV Dewa kemarin, di sana tertera kalau Dewa bukan asli warga kota ini. dia seorang pendatang. Tapi pengalaman pria itu cukup banyak pada pekerjaannya.
“Aku harap kamu betah bekerja denganku. Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan kamu bilang saja. kamu bisa bilang langsung padaku atau suamiku. Nggak perlu sungkan-sungkan.” Ujar Livy.
Dewa hanya mengangguk samar. Ternyata wanita di hadapannya itu sangat peduli. Karena awal pertama kali Dewa melihatnya, Livy terkesan seperti wanita yang sedikit sombong. Dan ternyata semuanya salah. Apalagi saat pertama kali melihat Livy menangis, Dewa seolah mengerti kalau wanita itu sedang memendam sesuatu yang tak banyak orang tahu. Termasuk suaminya sendiri.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu sambil makan siang di taman itu, akhirnya Livy memutuskan untuk pulang. Dewa pun siap siaga dengan tugasnya.
“Paper bag yag berwarna coklat itu berisi baju-baju untuk kamu, Wa.” Ucap Livy saat keduanya sudah dalam perjalanan pulang.
“Jangan menolak! Kamu sangat membutuhkan baju-baju itu. aku lihat kamu tadi hanya membawa tas kecil. Pasti baju kamu Cuma sedikit.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1