Main Hati

Main Hati
Eps 16 ~ Membalas Ciuman


__ADS_3

Kini Dewa sedang duduk di sebuah lobby hotel. Hari ini adalah pesta perayaan ulang tahun perusahaan orang tua Febian. dan Dewa memilih menunggu di lobby hotel saja daripada ikut masuk, karena dia tidak berkepentingan di sana. Dia tadi juga hanya mengantar dua majikannya. Jadi setelah itu dia bebas mau kemana saja. apalagi sudah mendapat ijin dari Febian.


Dewa duduk termenung di sana. Dia masih memikirkan ucapan Livy tempo hari saat sedang dalam pesawat. Kenapa Livy berkata seolah dirinya khawatir kalau wanita itu akan main hati dengannya. walau kenyataannya benar. Dia khawatir hal itu terjadi.


Dewa terkejut saat tiba-tiba di sampingnya ada seorang wanita duduk tak jauh darinya. Wanita itu sedang menggendong seorang anak kecil yang berusia sekita dua tahunan. Anak itu terus menangis seolah ingin bertemu dengan seseorang.


“Kenapa dengan putrinya, Nona?” tanya Dewa karena tidak tega melihat anak kecil itu terus menangis.


“Ehm, anak saya sedang mencari Papanya, Tuan.” Jawabnya sambil menenangkan anaknya yang masih menangis.


“Memangnya kemana Papanya?”


“Sedang ada acara di ballroom hotel ini, Tuan.”


“Kenapa tidak diajak ke sana saja? Apa Nona tidak kasihan, putri anda sejak tadi menangis seperti itu?” tanya Dewa sedikit heran dengan wanita itu.


“Tidak. Karena saya takut menganggu acaranya. Maaf, Tuan saya permisi dulu.” Pungkas wanita itu yang tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan Dewa, orang asing yang tidak ia kenal.


Sementara di dalam ballroom hotel, Livy sedang menemani suaminya menyambut beberapa tamu undangan yang hadir. Tuan dan Nyonya Abyasa juga ada di sana bersama menantunya. Sejak tadi Nyonya Abyasa juga selalu dekat dengan Livy. wanita itu dengan bangganya memperkenalkan Livy pada beberapa temannya.


“Sayang, Mama sebenarnya ingin tinggal kembali di Indonesia loh. Biar bisa dekat dengan menantu Mama yang cantik ini.” ujar Nyonya Abyasa yang saat ini sedang berdua saja dengan Livy.


“Nggak apa-apa, Ma. Papa juga kan sangat sibuk di perusahaan pusat. Jadi Mama lebih baik menemani Papa saja.”


“Benar yang kamu katakan. Mama sangat bangga denganmu. Febian mempunyai istri yang sangat penurut sepertimu. Oh, iya. apa selama ini Febian memperlakukanmu dengan baik? Bilang saja sama Mama kalau dia menyakitimu. Mama akan me,-“


“Mau ngapain Bian, Ma? Bian sangat menyayangi Livy, jadi aku selalu memperlakukan dia dengan sangat baik. Bukan begitu, Sayang?” sahut Febian menghampiri Mama dan istrinya.


Livy hanya mengangguk samar dengan seulas senyum manis. Setelah itu Febian mengajaknya berkumpul dnegan beberapa tamu penting Papanya sambil menikmati hiburan pesta.


Livy duduk di samping suaminya. namun tatapannya mencari Dewa yang sejak tadi tidak ia lihat keberadaanya. Dia pikir Dewa tadi ikut masuk. Karena Livy tidak tahu kalau suaminya bilang pada Dewa untuk meminta pria itu pergi kemana saja.

__ADS_1


Livy melihat suaminya sedang asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Kemudian ia mengirim pesan pada Dewa untuk menanyakan keberadaan pria itu sekarang.


Livy sangat bosan dengan acara itu. akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari ballroom dan mencari angin segar. Sebelumnya dia sudah berpamitan pada Febian. lagi pula masih di area hotel. Febian juga tahu kalau istrinya bosan dengan acara ini. namun dirinya juga tidak bisa keluar begitu saja.


“Ya sudah, nanti kalau acaranya sudah selesai, aku hubungi kamu. Asal jangan jauh-jauh dari hotel ini.” ujar Febian sebelum Livy pergi.


“Kamu tenang saja, Bi. Jangan takut aku akan hilang atau diculik orang.” Gurau Livy setelah itu keluar dari ballroom.


***


Kini Livy sudah berada di rooftop hotel. Hanya tinggal naik dua lantai dari ballroom, dia sudah sampai di rooftop hotel. Selain Livy ingin mencari udara segar di sana, ia juga ingin menemui Dewa yang juga sedang berada di sana.


Dewa tampak duduk di sana seorang diri sambil menghisap rokoknya. Dan saat melihat kedatangan Livy, dia segera mematikan puntung rokonya. Suasana rooftop hotel itu memang sepi dan juga belum dimanfaatkan. Mengingat bangunaan ini juga masih baru.


Dewa sangat terkejut dengan kedatangan Livy. padahal wanita itu tadi hanya bertanya tentang posisinya. Tidak menyangka kalau Livy akan datang menemuinya.


“Nona? Apa anda akan pulang sekarang?” tanya Dewa yang sudah berdiri, bersikap sopan pada Livy.


Dewa pun berbalik badan dan mengikuti Livy dari belakang. Jujur saja Dewa sangat terpesona dengan penampilan Livy malam ini. wanita itu mengenakan dress panjang berwarna hitam. Apalagi ukuran dress itu press body. Lalu make up Livy yang minimalis semakin membuat aura kecantikan wanita terlihat.


Dewa berdiri tak jauh dari Livy yang sedang menikmati hembusan angin malam ini. entah kenapa perasaan Dewa tidak enak. Apalagi setelah mengetahui sedikit banyak tentang permasalahan rumah tangga majikannya.


“Pemandangan di bawah sana sangat bagus ya, Wa?” ujar Livy sambil menatap keramaian kota dengan kelap-kelip lampu yang menerangi jalanan.


“Iya, Nona.” Jawab Dewa dengan tatapan fokus pada tubuh indah Livy.


“Apakah mereka yang ada di keramaian itu juga merasakan bahagia dalam hidupnya? Tidak seperti aku. walau berada di dalam keramaian pun seperti merasa sendiri.” Lanjut Livy membuat Dewa bingung mau menimpali apa lagi.


Livy berjalan semakin menepi. Wanita itu merentangkan tangannya sambil mengirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sedangkan Dewa mendadak was-was, takut jika terjadi hal buruk pada Livy. atau wanita itu sengaja ingin mencelakai dirinya sendiri.


“Enak mungkin, Wa jika aku terjun ke bawah sana!” ucap Livy dengan santainya.

__ADS_1


“Nona! Apa yang akan anda lakukan? Anda jangan bodohh, Nona!” Dewa berkata sambil berjalan pelan mendekati Livy. dia sengaja berjalan pelan karena takut Livy tahu justru wanita itu nanti akan nekat terjun ke bawah.


“Aku bosan sekali dengan hid,-“


Belum sempat Livy menyelesaikan kalimatnya, Dewa segara menarik wanita itu agar menjauh dari tepian rooftop yang sama sekali tidak ada pembatasnya. Apalagi tangan Livy merentang seolah wanita itu benar-benar ingin bunuh diri.


Dewa sangat takut jika Livy berbuat nekat. Dengan degupan jantung yang masih tak karuan, Dewa berhasil membawa Livy ke tengah sambil memeluk wanita itu.


“Hahahaha….. kamu ini kenapa sih, Wa?” livy tergelak melihat wajah merah Dewa.


Dewa dibuat bingung dengan sikap Livy. wanita itu baru saja tampak menyedihkan. Dan sekarang justru terlihat baik-baik saja. apalagi mendengar tawa Livy yang begitu lepas. Apakah wanita itu hanya berpura-pura bunuh diri? Atau memang tidak ada niat bunuh diri.


Dengan posisi masih berpelukan, Livy masih tertawa menatap wajah bingung Dewa.


“Kamu kira aku mau bunuh diri, terjun ke sana apa, Wa? Hahahamphh-,”


Tanpa diduga Dewa langsung menyumpal bibir Livy dengan sebuah ciuman. Ciuman bukan kecupan, ataupun sekadar menempelkan bibir.


Dewa benar-benar kesal karena merasa dikerjai oleh Livy. tapi dia juga sangat takut jika wanita itu benar-benar ingin bunuh diri.


Dewa tidak peduli jika setelah ini Livy akan marah, menamparnya, ataupun memecatnya. Dengan masih menahan rasa kesal di hatinya, Dewa justru memperdalam ciumannya pada Livy. Livy pun yang terbuai denga ciuman itu reflek mengalungkan kedua tangannya pada leher Dewa dan ikut membalas ciuman itu.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


 


__ADS_2