Main Hati

Main Hati
Eps 11 ~ Curiga


__ADS_3

Livy menikmati udara sore hari itu dengan hati yang sedikit lebih tenang daripada sebelumnya. Entah kenapa dia betah sekali berada di pantai itu. padahal senja di langit sudah terlihat dan hendak berganti petang. Livy menikmati air kelapa muda yang diberikan Dewa tadi sambil menatap ke arah pantai lepas.


“Benar yang kamu katakan, Wa! Hidup memang hanya sekali. Harusnya aku tidak terlalu larut dengan kesedihan yang selama ini aku sembunyikan.” Ucap Livy dengan tatapan masih lurus ke depan.


“Setiap perjalanan hidup seseorang pasti menemui masalah. Tinggal lihat saja, bagaimana kita menyikapinya. Tuhan juga membeikan sebuah ujian pada makhluknya tidak pernah di luar kemampuan kita, Nona. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya.” Tutur Dewa dengan bijak.


Livy tertegun mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Dewa. Sungguh dia tidak menyangka kalau pemikiran Dewa sedewasa itu. sosoknya yang tenang ternyata mampu membuat hatinya sedikit lebih nyaman dibandingkan sebelumnya. Mungkin Dewa sudah cukup banyak merasakan pahitnya kehidupan, jadi pria itu berbicara sesuai dengan fakta yang ada.


Livy menoleh ke arah Dewa yang kini justru pria itu sedang menatap lurus ke depan. Kenapa ada yang aneh dengan perasaannya saat dekat dengan sosok yang telah menjadi bodyguardnya.


Livy buru-buru membuang muka saat tiba-tiba Dewa menoleh ke arahnya. Dia ketahuan telah memperhatikan pria itu. dan kenapa jantungnya berdegup dengan cepat seperti ini.


“Bagaimana perasaan anda sekarang, Nona? Sampai kapan kita berada di sini?” tanya Dewa berusaha biasa saja.


“Aku masih ingin berlama-lama di sini, Wa. Meskipun langit sudah petang, justru membuatku semakin nyaman.” Ujar Livy lalu ia beranjak dari duduknya.


Livy berjalan di tepian pantai yang ombaknya sudah mulai surut. Hembusan angin pantai membuat Livy sangat menikmati udara malam ini. wanita itu menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Sesekali memejamkan mata untuk mendapatkan ketenangan batin. Namun saat ia membuka mata, tiba-tiba saja ia merasakan tubuhnya hangat dengan sebuah jaket yang sudah menutupi tubuhnya.


“Udaranya sangat dingin, Nona. Dan bahan pakaian yang anda kenakan sangat tipis.” Ujar Dewa setelah memakaikan jaketnya pada Livy.


Ah, kenapa hati Livy dibuat berbunga-bunga akibat perhatian kecil yang ditunjukkan oleh Dewa. Apakah jika yang melakukan itu bukan Dewa, hatinya juga akan berbunga-bunga seperti ini. padahal bisa saja niat Dewa hanya ingin melindunginya, membuatnya aman, layaknya seorang bodyguard pada atasannya.


“Ehm, terima kasih Wa!” jawab Livy dengan memberikan senyuman terbaiknya.


***


Kini Livy sudah dalam perjalanan pulang ke rumah. perutnya juga sudah kenyang setelah Dewa tadi mengajaknya makan di warung pinggir jalan.

__ADS_1


Awalnya tadi Livy hendak makan malam di sebuah resto tak jauh dari kawasan pantai. Namun Livy tahu kalau Dewa pasti akan menolak menemaninya makan, seperti beberapa waktu yang lalu. Akhirnya Livy meminta Dewa untuk mencari tempat makan yang membuat pria itu nyaman. Alhasil di sebuah warung pinggir jalan lah akhirnya mereka makan malam.


Livy juga sama sekali tidak keberatan. Sebelumnya dia juga pernah makan di tempat seperti itu dulu bersama kakak dan kakak iparnya. Namun tetap saja Dewa yang merasa tidak enak. Takut jika Livy tidak cocok dengan makanan pinggir jalan seperti tadi.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikemudikan Dewa sampai halaman rumah. Livy turun terlebih dulu tanpa menunggu Dewa membukakan pintu untuknya. Bahkan dia masih memakai jaket milik Dewa. Apakah senyaman itu hingga Livy lupa melepas jaketnya. Dewa juga tidak berani memintanya.


“Kamu dari mana,Wa sama Non Livy?” tanya Bi Ratih saat Dewa hendak masuk ke kamarnya.


“Oh, aku tadi habis ngantar Tuan Febian ke bandara, Bi.” Jawab Dewa jujur.


Namun rupanya Bi Ratih terlihat tidak percaya begitu saja. apalagi wanita itu tadi sempat melihat Livy menaiki tangga dengan senyum-senyum sendiri. Tidak hanya itu. Bi Ratih juga melihat Livy memakai jaket Dewa.


“Hati-hati, Wa! Kamu jangan bermain api.” Ujar Bi Ratih memperingatkan Dewa. Namun sayangnya Dewa tidak mengerti maksud ucapan Bi Ratih. Dia berlalu begitu saja masuk ke kamarnya.


Sedangkan Livy yang kini sudah berada di dalam kamarnya, dia masih merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan masih mengenakan jaket Dewa. Livy masih mengingat kebersamaannya dengan Dewa tadi. dimana pria itu memeluknya dengan erat saat tubuhnya hampir saja terseret ombak. Pelukan yang sangat nyaman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tutur kata Dewa yang bijaksana juga membuatnya hatinya sangat tentram.


Terdengar suara vibrasi ponsel Livy, sontak membuyarkan lamunan wanita itu. ternyata Febian yang menghubunginya. Namun Livy memilih tidak menerima panggilan video itu. dia memilih untuk membersihakn tubuhnya dulu, daripada Febian nanti menatapnya curiga karena ia masih mengenakan pakaian tadi siang.


Cukup lama Livy menghabiskan waktu di kamar mandi. dan ternyata sejak tadi Febian terus menghubunginya. Saat Livy keluar dari kamar mandi, dia segera menerima panggilan dari suaminya.


“Sayang, kamu kemana saja? sejak tadi aku menghubungimu.” Tanya Febian dengan nada sedikit kesal saat panggilan video itu baru tersambung.


“Maaf, Bi! Tadi ponselku ada di kamar. sejak tadi aku di bawah. Setelah itu aku tidur sampai sore dan lupa tidak melihat sama sekali ponselku.” Jawab Livy berbohong.


Kenapa tiba-tiba Livy mudah sekali berbicara bohong pada suaminya. padahal selama ini dia selalu bicara jujur jika Febian bertanya mengenai aktivitasnya apa saja yang dilakukan saat sedang berjauhan. Namun jika Livy bicara jujur tentang kepergiannya bersama Dewa, itu sangat tidak mungkin.


“Kenapa nada bicara kamu sangat berbeda? Apa kamu marah denganku gara-gara tadi siang?”

__ADS_1


“Nggak, Bi. Sudahlah, nggak perlu dibahas lagi. bagaimana perjalanan kamu tadi?” jawab Livy lalu mengalihkan topik pembicaraan.


Terdengar hembusan nafas Febian di sebarang sana. Pria itu terlihat masih kesal. Padahal Livy sudah berusaha melupakan pertengkaran kecil yang terjadi dalam perjalanan ke bandara tadi siang.


“Ya sudah, aku tutup dulu. Aku istirahat. Aku baru saja pulang dari meeting.” Pungkas Febian mengakhiri panggilannya.


“Iya, Bi. Selamat ber,- klik


Livy terkejut saat Febian memutus panggilannya secara sepihak. Suaminya itu bersikap tidak seperti biasanya. Dan hal itu berdampak pada mood Livy yang kembali tidak baik-baik saja.


Setelah itu Livy mengirim pesan pada Febian. dia tidak ingin perdebatannya dengan sang suami tadi siang berlanjut hingga berhari-hari.


“Selamat beristirahat, Bi! Aku menanti kepulanganmu. I Miss U.”


Begitulah bunyi pesan Livy. namun sayangnya pesan itu tidak terkirim karena ponsel Febian dalam keadaan Off.


Livy meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia berganti pakaian dengan pakaian santai. Setelah itu turun kie bawah untuk mengambil minum. Dan sesampainya di dapur, Livy melihat Bi Ratih yang ternyata sedang di dapur juga.


“Bi, apa Dewa ada di kamarnya?” tanya Livy tiba-tiba. Dan hal itu membuat Bi Ratih menatap curiga pada majikannya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2