
Mario mengurungkan niatnya untuk mengejar Dewa. Lebih baik dia menjelaskan pada Raina tentang ucapan Dewa baru saja yang semuanya salah. Sekaligus ingin tanya, bagaimana bisa Dewa mengenal Raina.
“Maaf. Dia memang suka jahil.” Ucap Mario sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Nggak apa-apa, Tuan. Apa anda kenal dekat dengan Dewa?” tanya Raina.
“Justru aku yang ingin tanya ke kamu. Dia memang asisten pribadiku. Lalu, bagaimana kamu bisa mengenal dia?” tanya Mario penasaran. Karena saat kedatangannya pertama di panti ini Dewa juga sudah bertemu dengan Raina. Namun reaksi keduanya tampak tidak saling mengenal. apa telah terjadi sesuatu di masa lalu diantara mereka berdua. Kenapa hati Mario mendadak tidak nyaman. Apalagi Dewa juga mau menikah.
“Dewa adalah orang yang telah menolong saya, hingga saya tinggal di panti asuhan ini, Tuan.” Jawab Raina dengan tatapan menerawang jauh mengingat masa lalunya.
Mario yang memang sedari awal sudah tertarik pada sosok Raina, dia sangat penasaran sekali dengan wanita itu. terutama tentang masa lalunya. Apalagi ada sosok Dewa yang menjadi dewa penolong Raina.
“Memang sebelumnya kamu tinggal di mana? Maaf, jika kamu tidak berkenan menjawab juga tidak masalah.”
Raina menoleh sejenak ke arah Mario. Lalu tersenyum tipis ke arah pria itu. setelah itu dia menjawab dengan jujur. Bercerita tentang masa lalunya hingga Dewa menjadi penolongnya dengan tinggal di panti asuhan ini.
“Jadi kamu mengenal Livy?” tanya Mario terkejut.
“Iya. Kak Livy adalah mantan kakak ipar saya. dan Dewa dulu pernah bekerja sebagai bodyguard Kak Livy.” jawab Raina, namun tiba-tiba air mata wanita itu tumpah begitu saja saat mengenang masa lalunya yang begitu pahit. Hingga ia tidak sanggup lagi melanjutkan ceritanya. Raina bergegas pergi meninggalkan Mario, lalu membawa Saskia menjauh.
Mario pun dibuat bingung dengan sikap Raina. Apalagi melihat wanita itu tiba-tiba menangis. Sebeanrnya apa yang sudah terjadi. Mario akhirnya mengurungkan niatnya mengejar Raina. Mungkin wanita itu lagi butuh waktu sendiri. Dan dia akan bertanya langsung saja pada Dewa nanti.
***
Sementara itu Dewa kini sudah tiba di rumah Livy. matanya berbinar saat melihat calon istrinya sedang menggendong si buah hati sambil bersenandung. Livy memang tidak menyadari kedatangan calon suaminya. karena saat ini dia sedang berada di halaman belakang yang cukup teduh sambil menikmati udara luar.
“Enak sekali ya suara Mama?”
__ADS_1
“Mas? Sejak kapan ada di sini?” tanya Livy terkejut dan reflek memanggil Dewa bukan dengan nama lagi.
Dewa mengulum senyum saat mendengar panggilan Livy baru saja. dia sampai mengabaikan pertanyaan Livy karena saking senangnya dengan panggilan baru untuknya.
Sedangkan Livy tampak bingung dengan sikap Dewa yang hanya senyum-senyum sendiri tanpa menjawab pertanyaannya. Bahkan Livy sampai melambai-lambaikan tangannya di hadapan Dewa.
“Ehm, Sejak kamu bersenandung untuk Calvin.” Jawab Dewa kemudian.
“Aku suka sekali dengan panggilan baru saja.”
“Panggilan apa?” Livy tampak bingung. Kemudian Livy baru sadar. Seketika itu dia merasa malu, karena memang tadi memanggil Dewa dengan sebutan baru secara reflek. Itu juga karena dia keseringan mendengar kakak iparnya memanggilnya suaminya seperti itu.
“Sini, biar aku yang menggendongnya.” Ujar Dewa mencairkan suasana.
Dengan pelan Livy memindah Calvin ke gendongan Dewa. Bayi itu sudah tertidur pulas. Wajahnya yang sangat imut dengan bau khas bayinya membuat Dewa sangat gemas dan terus menciuminya.
Dewa memang kepikiran dengan keadaan calon istrinya yang memang baru saja melahirkan. Ditambah lagi semalam Livy sempat begadang karena Calvin tidak mau tidur. Meskipun Livy melakukan persalinan secara normal, tetap saja wanita itu butuh banyak istirahat. Ditambah lagi mereka akan meresmikan pernikahan dalam waktu dekat.
“Tenang saja, Mas. Aku di rumah juga tidak sendirian. Banyak sekali yang membantuku merawat Calvin. Memang kalau malam, cukup aku saja yang menemani Calvin.” Jawab Livy agar Dewa tenang.
“Syukurlah kalau begitu. Aku sudah tidak sabar untuk segera menikah. setelah ini aku yang akan menggantikan waktumu yang banyak aku tinggalkan semasa kamu hamil sampai melahirkan. Jujur aku masih merasa bersalah karena tidak bisa menemani kalian berdua.”
Livy mengusap lembut lengan Dewa. Melihat wajah sendu Dewa karena merasa sangat bersalah, justru Livy yang dibuat tidak nyaman. Apalagi semua ini bukan sepenuhnya salah Dewa, melainkan salahnya. Karena memang Livy yang memilih untuk tidak mencari Dewa.
“Jangan merasa bersalah seperti ini, Mas. Semuanya sudah terjadi. Lebih baik kita jalani masa depan kita dan lupakan masa lalu. Kamu sama sekali tidak bersalah.”
“Aku mencintai kalian berdua.”
__ADS_1
*
Cukup lama Dewa menghabiskan waktunya di rumah Livy. lebih tepatnya menghabiskan waktu dengan anaknya. padahal di usia Calvin yang belum genap satu bulan, bayi itu lebih banyak tidur. Jadi Dewa memiliki banyak waktu untuk berduaan dengan Livy. seperti sekarang ini. di mana Calvin sudah ditidurkan di sebuah box bayi yang bisa dipindah-pindah. Karena saat ini Dewa dan Livy sedang berada di ruang tengah. Sementara anggota keluarga lainnya sedang melakukan kesibukannya masing-masing.
Livy tampak duduk berselonjor kaki di atas sofa. Sedangkan Dewa memijit lembut kaki istrinya agar tidak capek. Sungguh Dewa merasa sudah menjadi suami Livy sungguhan, walau hari pernikahannya sudah di depan mata.
“Sudah, Mas!” Livy meminta Dewa mengakhiri kegiatannya. Karea kakinya sudah lebih baik setelah dipijat oleh calon suaminya.
Setelah itu Livy memghampiri box bayi Calvin untuk memastikan kalau anak itu tidur dengan pulas dan diapersnya belum penuh. Setelah itu ia kembali lagi duduk bercengkrama dengan Dewa.
Mereka berdua duduk berdampingan sambil memperhatikan box bayi Calvin. Dewa memegang lembut tangan. Dia masih tidak percaya kalau Livy akan menjadi miliknya. Setelah itu tangan Dewa membelai wajah Livy yang kini keduanya saling menatap dalam.
Keduanya saling melempar senyum. Sama-sama bahagia dengan jalan takdir indah yang telah mempertemukan mereka kembali. Semakin lama semakin dalam tatapan keduanya. Hingga tanpa sadar jarak wajah mereka berdua semakin dekat. Hembusan hangat nafas masing-masing menerpa wajah mereka. Hingga dengan pelan namun pasti, Dewa mendaratkan bibirnya di bibir Livy yang sudah lama sangat ia rindukan.
Bak gayung bersambut. Livy menerima dengan baik sapuan lembut bibir Dewa. Bibir yang juga sangat ia rindukan sejak lama. Bibir yang selalu membuatnya merasa nyaman.
Mereka berdua terus memagut untuk mealampiaskan rindu yang selama ini menyiksa keduanya. Dewa yang paling dominan, semakin bersemangat menikmati kelembutan bibir Livy sampai mengeksplor lebih dalam lagi. begitu juga dengan Livy yang tanpa sadar menangkup kedua piping Dewa untuk memperdalam ciumannya.
“Ehm!”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!