Main Hati

Main Hati
Eps 50 ~ Asisten Pribadi


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh Mario kemarin, hari ini pria itu datang ke sebuah panti asuhan dengan diantar oleh Dewa. Semenjak Mario tidak bisa lagi bertemu dengan anaknya akibat kesalahannya sendiri, semenjak saat itu dia selalu mengunjungi sebuah panti asuhan hanya untuk sekadar melihat anak-anak yang tinggal di sana. Bahkan Mario juga termasuk donatur terbesar di panti asuhan itu.


Dewa tidak menyangka kalau panti asuhan yang akan dikunjungi oleh Mario adalah panti asuhan yang dikelola oleh Bi Tina, mantan asisten rumah tangganya. Hanya saja Dewa tidak memberitahu hal itu.


Beberapa saat kemudian mereka sampai. Walau sebenarnya Mario meminta Dewa untuk mengantarnya saja, namun Dewa ikut masuk. Dia ingin bertemu langsung dengan Bi Tina, karena sudah lama ia tidak bertemu dengan wanita yang sudah berjasa banyak pada dirinya.


Brukk


Seorang anak kecil yang tengah berlarian di halaman panti tiba-tiba menabrak tubuh Mario. Anak itu terlihat ketakutan, setelah itu menangis.


“Hei, Cantik! Kenapa menangis?” Mario mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil usia sekitar tiga tahun itu. namun anak justru semakin kencang suara tangisnya.


Dewa yang sejak tadi berdiri di belakang Mario, tidak begitu jelas dengan wajah anak kecil itu. namun saat melihat seorang wanita tampak panik berlari ke arahnya, atau lebih tepatnya ke arah anak kecil itu, seketika Dewa tahu kalau anak itu adalah Saskia.


Dewa hanya menatap Raina. Begitu juga dengan wanita itu. karena memang sejak dulu mereka tidak saling kenal.


“Sayang, kamu kenapa, Nak?” tanya Raina menghampiri Saskia. Dia sangat khawatir dengan Saskia.


“Apa dia anak panti ini?” tanya Mario dengan tatapan yang tak lepas pada sosok wanita cantik di hadapannya.


“Dia anak saya. maafkan, anak saya Tuan!” jawab Raina sambil menundukkan kepalanya.


“Oh, nggak apa-apa. Dia hanya tidak senagaja menabrakku tadi. lain kali hati-hati ya, Cantik!” ucap Mario sambil mengusap kepala Saskia.


Setelah itu Raina membawa Saskia pergi. Sekilas melirik Dewa yng sejak tadi terlihat acuh.


Raina terkejut dengan kedatangan Dewa di panti asuhan ini. sebenarnya dia ingin sekali bicara dengan Dewa. Dia ingin memberitahu tentang perceraian Febian dan Livy. karena Raina tahu kalau Dewa menaruh hati pada Livy. namun melihat raut dingin Dewa, Raina pun mengurungkan niatnya.


Sedangkan Dewa sendiri memang sengaja tidak ingin berinteraksi dengan Raina. Dia tidak menyangka kalau Raina masih tinggal di panti asuhan ini. dan itu artinya hubungan Livy dan suaminya baik-baik saja. karena Raina memilih menjauh dari pasangan itu.


Sementara Mario sejak tadi terus melihat Raina yang kini sedang sibuk dengan beberapa anak panti lainnya. Pria itu mengulas senyum tipis setelah bertemu dengan Raina. Wanita yang lembut tutur katanya, juga sangat peduli dengan anak kecil.

__ADS_1


**


Kini Mario dan Dewa sudah masuk ke ruangan kepala panti. Mario tidak menyangka kalau kepala panti asuhan itu mengenal dekat dengan Dewa. Akhirnya Dewa pun menceritakan semuanya. Bu Tina sendiri sangat senang kedatangan Dewa lagi. setelah sekian lama wanita itu tidak pernah bertemu dengan manta majikannya.


Seperti biasa, usai berkunjung ke panti asuhan itu Mario meninggalkan cek berisi sejumlah uang untuk kebutuhan anak panti dan tentunya kesejahteraan pengasuhnya. Bu Tina sendiri sangat berterima kasih pada Mario. Berkat keluarga Mario juga lah, panti asuhan ini semakin berkembang.


Kini Mario dan Dewa berpamitan pada Bu Tina. Sebenarnya Bu Tina juga masih ingin lebih lama berbicara dengan Dewa. Hanya saja tidak enak mengganggu waktunya, karena Dewa bekerja pada Mario.


“Lain kali aku akan datang ke sini sendiri, Bik!” ucap Dewa sebelum pulang.


Sementara Mario berjalan lebih dulu sambil melihat sekitar panti asuhan, barangkali bertemu lagi dengan Raina. Sayangnya dia tidak menemukan keberadaan wanita itu. mungkin sedang sibuk. Dan lain kali ia akan datang ke sini sendiri.


Usai mengantar Mario ke panti asuhan, Dewa diajak Mario ke rumahnya. Ia akan diperkenalkan pada Mama Mario. Karena Chiko sudah menceritakan banyak tentang perubahan anaknya. dan semua itu karena Dewa.


Kedua orang tua Mario sangat baik pada Dewa. Bahkan Mario juga mengatakan secara langsung kalau setelah ini Dewa tidak lagi sebagai bodyguardnya, melainkan asisten pribadinya. Tentu saja Dewa sangat terkejut. Dia merasa tidak mampu dengan pekerjaan itu. namun Chiko tetap percaya, apalagi dulu dia lah yang menerima surat lamaran Dewa, dan dia tahu tentang latar belakang Pendidikan Dewa.


“Sebenarnya kamu mempunyai kemampuan itu, Wa. Kamu tinggal menjalankan saja sambil belajar.” Ujar Mario meyakinkan.


***


Setiap pekerjaan baru memang awalnya terasa sulit. Apalagi belum dijalani, dan hanya dibayangkan saja. nyatanya, sudah seminggu ini Dewa mampu menjalani pekerjaan sebagai asisten pribadi Mario. Dia bisa mengasah lagi kemampuannya dari hasil pendidikannya dulu.


Dewa memberitahu kabar ini pada Mamanya. Mamanya jelas sangat senang. Wanita itu sampai terlihat menitikan air mata bahagianya saat melakukan panggilan video dengan Dewa. Hanya doa yang bisa berikan untuk kebahagiaan anaknya.


“Nanti kalau ada cuti, Dewa akan pulang, Ma. Atau Mama mau tinggal sama Dewa di sini?”


“Iya, Mama tunggu kepulangan kamu Wa. Dan Mama lebih nyaman tinggal di sini saja. di rumah peninggalan kakek dan nenek kamu. Kamu juga perlu bahagia, Wa! Carilah pendamping hidup.”


Dewa terdiam setelah mendengar kalimat terakhir Mamanya. Dia hanya mengangguk samar sebelum akhirnya mengakhiri panggilan video itu.


Usai melakukan panggilan dengan Mamanya, Dewa mendapat telepon dari Mario agar menjemputnya ke bandara. Karena memang dua hari yang lalu Mario sedang bepergian ke luar kota. Dewa pun segera bersiap untuk menuju bandara.

__ADS_1


***


Kini Dewa sudah bersama Mario hendak perjalanan pulang. namun bukannya pulang, Dewa diminta oleh Mario untuk mengantarnya ke rumah sakit.


“Memangnya siapa yang sakit, Tuan?” tanya Dewa penasaran.


“Mama. tadi pagi kata Papa penyakit asam lambung Mama kambuh. Maka dari itu aku pulang lebih cepat, Wa.” Jawab Mario terlihat cemas.


Dewa pun mengangguk patuh. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Dewa juga ikut masuk untuk melihat keadaan Mama Mario.


Mario berjalan terburu-buru karena sangat cemas dengan keadaan Mamanya. Sedangkan Dewa berjalan di belakang Mario dengan tenang. Namun saat kedua pria itu sedang melewati koridor rumah sakit, tepatnya setelah belokan, tiba-tiba langkah kedua pria itu terhenti saat melihat tiga orang sedang berjalan ke arah mereka. Tentu saja Mario dan Dewa mengenal dua dari orang itu.


“Raffa!”


“Livy!”


Ucap Mario dan Dewa bersamaan.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


Nah... Udah ketemu kan?😉😉


Guys mampir dong ke karya othor yg baru netas😁😁 covernya sprti di bawah ini🤗

__ADS_1



__ADS_2