Main Hati

Main Hati
Eps 64 ~ Merusak Suasana


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Mario pada pihak rumah sakit bahwa Saskia dirawat selama sehari. Tentunya setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Beruntung tidak ada cidera apapun pada pelipis Saskia. Luka memarnya juga perlahan sembuh. dan hari ini juga Saskia sudah diperbolehkan pulang.


Selama Saskia dirawat, Mario juga ikut menunggunya. Padahal Raina sudah meminta pria itu untuk pulang. namun sayangnya Saskia juga tidak ingin ditinggal pergi oleh Mario. Seperti sekarang ini. Raina sudah siap pulang bersama Saskia hendak naik angkot saja, namun Mario yang bertepatan tiba jelas melarangnya. Pria itu langsung mengambil Saskia dari gendongan Raina lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


Selama dalam perjalanan pulang, Saskia tampak sangat ceria. Bocah itu banyak sekali bicara dengan Mario. Sedangkan Raina hanya diam saja sesekali menimpali ucapan anaknya.


Setibanya di panti asuhan, Bu Tina dan beberapa pengasuh lainnya langsung menyambut kedatangan Saskia. Mereka bersyukur kalau Saskia baik-baik saja. mengingat semua pengasuh panti tidak ada yang bisa menjenguk Saskia ke rumah sakit, lantaran sibuk dengan anak-anak panti.


Saskia tampaknya sudah mengantuk. Selain pengaruh obat, juga anak itu sejak tadi sangat aktif. Bu Tina pun mengambilnya dan membawa ke dalam kamar. memberikan waktu Raina dan Mario untuk bicara berdua.


“Terima kasih banyak, Tuan. Saya sudah banyak merepotkan anda. untuk biaya perawatan rumah sakit Saskia, nanti akan saya bay,-“


“Tidak perlu, Raina! Jangan bahas itu lagi. aku melakukannya dengan ikhlas.” Sahut Mario.


Raina menghembuskan nafasnya kasar. Kini dia kembali diam, begitu juga Mario. Raina tampak berpikir, apakah sebaiknya ia terima lamaran Mario yang beberapa hari yang lalu belum sempat ia jawab. Karena setelah semalaman memikirkan hal itu, ditambah lagi Mario sangat menyayangi Saskia, sepertinya memang ia harus mengambil keputusan. Masalah hatinya, mungkin Raina bisa mengesampingkannya. Yang paling utama adalah Saskia.


“Ya sudah, aku pulang dulu! Kamu juga butuh istirahat. Pasti sangat lelah setelah menjaga Saskia kemarin.” Pamit Mario setelah dirasa tidak ada pembicaraan lagi dengan Raina.


Mario beranjak begitu saja, karena sejak tadi Raina tampak menundukkan kepalanya. Namun saat Mario sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan Raina. Tiba-tiba saja berhenti saat mendengar seruan Raina.


“Tuan, tunggu!”


Mario berbalik badan, menatap Raina yang kini tengah menatapnya. Meenunggu beberapa saat, namun Raina tak kunjung bicara.


“Ada apa?”


“Saya… saya menerima lamaran, Tuan Mario.” Ucap Raina dengan suara terbata. Setelah itu dia kembali menundukkan kepalanya.


Sedangkan Mario masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raina baru saja. dia berharap tidak salah dengar. Karena memang Raina mengatakannya dengan suara pelan dan terbata.

__ADS_1


“Coba kamu katakan sekali lagi, Raina!” pinta Mario memohon.


Raina jelas malu untuk mengatakannya lagi. jantungnya saja masih berdegup tak karuan setelah mengatakan hal itu. jadi tidak mungkin dia mengulanginya lagi. padahal ia rasa Mario sudah cukup jelas mendengarnya.


“Maaf, tidak ada siaran ulang Tuan.” Jawab Raina dan segera berbalik badan meninggalkan Mario.


Tak kehilangan akal, Mario dengan cepat mencekal lengan Raina dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


“Iya. aku dengar. Aku dengar dengan jelas. Hanya saja aku ingin kamu mengucapkannya lagi agar hatiku semakin bahagia.” Ucap Mario.


Mario menciumi pucuk kepala Raina karena saking bahagianya. Sedangkan Raina hany terdiam, menikmati kenyamanan dalam pelukan Mario. Tak lama kemudian Raina mendongak menatap dalam mata Mario.


“Terima kasih, Raina. Aku sangat mencintaimu juga Saskia.” Ucap Mario dengan tulus.


“Saya yang berterima kasih pada anda, karena mau menerima saya dengan masa lalu saya yang sangat bu,-mmppphhh”


Mario dengan cepat menempelkan bibirnya pada bibir Raina agar wanita itu tidak bicara tentang masa lalunya. Karena Mario sudah menerima semua itu.


Nafas mereka berdua sama-sama tersengal. Lalu Mario mengusap bibir Raina yang tampak basah akibat ulahnya.


“Kalau mau mesra-mesraan jangan di sini woy! Bikin pengen saja!”


Mario dan Raina langsung menoleh ke sumber suara. Siapa lagi kalau bukan Dewa yang datang. Raina sangat malu.


“Kalau pengen ya pulang sana! Ngapain ke sini?” dengus Mario yang sangat kesal karena lagi-lagi asisten pribadinya itu merusak suasana.


Raina berangsur mundur meninggalkan kedua pria itu begitu saja. karena dia masih malu dan takut jika Saskia bangun mencarinya.


“Raina, tunggu!”

__ADS_1


Mario mengejar Raina dan mengabaikan Dewa yang masih terlihat kesal dengannya.


“Secepatnya aku akan datang ke sini bersama kedua orang tuaku. Jadi tunggu saja.” ucap Mario lalu meninggalkan kecupan singkat di kening Raina.


Raina hanya menganggukkan kepalanya, lalu masuk ke dalam panti. Sedangkan Mario menghampiri Dewa.


“Ciee yang sudah jadian!” canda Dewa membuat Mario semakin kesal.


“Ada apa sih Wa kamu kesini? Mengganggu saja. nggak senang lihat orang sedang bahagia?” gerutu Mario sambil berjalan menuju parkiran.


“Hei, bos semena-mena! Kedatanganku ke sini karena aku ingin resign.” Teriak Dewa dan berhasil menghentikan langkah Mario.


“Apa yang kamu bilang? Kamu mau resign, Wa? Kamu hanya bercanda kan?” tanya Mario terkejut.


“Tentu saja aku bercanda.” Jawab Dewa dengan entengnya.


“Sialaan kamu, Wa. Cepat katakan, ada apa kamu ke sini?”


“Kamu lupa kalau satu jam lagi ada meeting? Sejak tadi ponsel kamu sangat sulit dihubungi. Bosan jadi bos? Sini, biar aku gantikan saja.” jawab Dewa, lalu segera masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Mario.


Mario tampak menepuk kepalanya sendiri. Bagaimana dia bisa lupa kalau hari ini ada meeting penting.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2