Main Hati

Main Hati
Eps 47 ~ Keinginan Reno


__ADS_3

Kedua pria itu sama-sama diam. Mario yang jengkel dengan Dewa. Dewa yang terus berusaha mencari cara agar majikannya itu berubah, tidak lagi mabuk-mabukan. Dan akhirnya Dewa menemukan ide. Dia akan mengajak Mario pergi, namun tidak ke Club malam.


“Tuan mau saya ajak pergi ke pantai?” tanya Dewa.


“Ck, kamu ini seperti ngajak kencan kekasihmu saja.” ejek Mario.


“Terserah anda mau bilang apa. Mau apa tidak? Kalau tidak mau, sampai pagi saya akan tidur di sini. dan dapat dipastikan kalau anda juga tidak pegi kemana-mana.”


Mario semakin jengkel. Dia tidak tahan jika setiap malam tidak keluar rumah. dia sangat bosan dengan kehidupannya selama ini. akhirnya ia menerima tawaran Dewa, daripada tidak bisa keluar kemana-mana.


“Baiklah.”


**


Kini Dewa dan Mario sedang dalam perjalanan ke pantai. Malam hari tentu suasana pantai sangat sepi. Dan hal itu menurut Dewa sangat cocok bagi siapapun yang untuk menenangkan pikirannya dari masalah hidup yang terus membelenggu tanpa memiliki jalan keluar.


Kedua pria itu sudah sampai pantai. Hanya suara deburan ombak yang mereka dengar. Tentunya sinar rembulan dengan taburan bintang yang menghiasi malam ini. Mario segera keluar dari mobil. Dia berjalan di pasir panati dengan bertelanjangg kaki. Ada rasa yang aneh dalam hatinya saat menikmati hembusan angin pantai malam ini. rasanya pilihan Dewa sangat tepat membawanya ke sini.


“Dengan menikmati deburan ombak ini, saya yakin dengan perlahan beban yang ada dalam diri anda akan menghilang, Tuan. Percayalah!” ucap Dewa.


“Kamu ini sok tau sekali sih, Wa. Tapi memang ada benarnya. Apa sebelumnya, hidup kamu juga penuh beban?”


Dewa hanya mengulas senyum tipis mendengar pertanyaan Mario yang bernada mengejek. Meskipun tujuannya ia datang ke sini karena Mario, sebenarnya ia juga butuh menenangkan pikirannya.


“Setiap orang pasti mempunyai beban hidup masing-masing, Tuan. Tapi saya masih bisa berpikir waras untuk tidak merusak atau menyakiti diri saya sendiri.”

__ADS_1


Mario benar-benar tertampar oleh ucapan Dewa. Karena selama ini yang ia lakukan memang dengan sengaja merusah dirinya sendiri, hanya karena kesalahan di masa lalunya.


“Memang benar yang kamu katakan, Wa. Hanya karena aku menyesali kesalahanku di masa laluku, aku sampai melakukan hal yang tidak berguna seperti ini. yang ujung-ujungnya menyakiti diri sendiri. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara memperbaiki kesalahanku itu. aku ini seorang ayah yang berengsek, Wa. Aku malu bertemu dengan anakku setelah apa yang telah aku lakukan pada wanita yang telah melahirkan anakku dan terhadap sahabatku sendiri.”


Dewa hanya diam saja. dia mendengarkan semua keluh kesah Mario. Pria itu terlihat sangat hancur dengan masa lalunya. Meskipun Dewa awalnya tidak mengerti, lama-lama ia bisa menangkap tentang masalah apa yang sedang dialami oleh majikannya itu.


Intinya Mario penah melakukan kesalah besar terhadap seorang wanita. sampai wanita itu mengandung anaknya. lalu tanpa ia duga, wanita itu telah dipersunting oleh sahabatnya sendiri. Awalnya dia bisa menerima kenyataan itu. namun semakin lama, Mario menyadari kalau dia sudah jatuh hati sama wanita yang telah ia renggut kesuciannya itu. hingga pada akhirnya ia berbuat licik dengan berusaha memisahkan wanita itu dengan sahabatnya. Namun usahanya gagal. Wanita itu juga sahabatnya sangat membencinya. Bahkan dia tidak diperbolehkan lagi untuk melihat anaknya.


“Jika anda ingin bertemu dengan anak anda, lebih baik anda perbaiki diri anda terlebih dulu, Tuan! Tunjukkan pada mereka kalau anda sudah berubah. Setidaknya anak anda akan bangga memiliki ayah seperti anda. meskipun tidak bisa memiliki wanita itu. karena perihal jodoh, Tuahn sudah mengaturnya.”


Mario merenungi ucapan Dewa. Hatinya tergerak untuk berubah. Tentunya demi anaknya.


***


“Semoga kelak kamu menjadi anak yang kuat dan tangguh seperti ayah kamu ya, Sayang!” ucap Livy sambil mengusap perut buncitnya. Matanya berkaca-kaca saat kembali teringat dengan Dewa.


Kenapa sangat sulit sekali melupakan pria itu. padahal pertemuannya dengan Dewa hanya sebentar. Namun keberadaan pria itu telah berhasil mengusik hatinya sampai saat ini. sedangkan dengan Febian. Livy sama sekali tidak pernah ingat dengan pria itu. padahal ia lebih dulu dan lebih lama menjalin hubungan, daripada dengan Dewa.


Apakah itu artinya sejak dulu cinta Livy pada Febian tidak murni seratus persen. Apakah rasa itu bukan rasa cinta? Melainkan hanya obsesi.


Jujur saja, wanita mana yang tidak ingin masa kehamilannya ditemani oleh suami. sama seperti yang Livy rasakan. Meskipun dia selalu berusaha baik-baik saja, namun setiap kali melihat kakak iparnya yang selalu mendapat perlakuan lembut dari sang kakak, ada rasa iri muncul dalam hati Livy. namun apa boleh buat, dirinyalah yang sudah memilih seperti itu.


“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Reno yang kini tiba-tiba sudah duduk di samping Livy di halaman belakang.


“Papa! Aku baik-baik kok, Pa. aku hanya sedikit lelah setelah setelah jalan-jalan keliling halaman.” Jawab Livy.

__ADS_1


Reno mengusap perut buncit anaknya. pria itu sangat paham apa sedang dipikirkan oleh anaknya saat ini. hamil tanpa adanya suami rasanya sangat menyakitkan. Reno juga tahu kalau selama ini Livy terlihat baik-baik saja. tapi tidak di dalamnya. Karena pernah suatu malam ia memergoki Livy tengah duduk seorang diri sambil memegangi perutnya. Tak lama kemudian dia mendengar isakan lirih dari bibir Livy.


“Vy, Papa mau tanya. Tolong kamu jawab dengan jujur.”


“Apa kamu mencintai Dewa?”


Livy mendapati pertanyaan seperti itu dari Papanya tak lantas menjawab. Dia menatap lurus ke depan dengan hembusan nafas pelan.


“Apa yang aku lakukan dengan Dewa dulu hanya sebuah kesalahan, Pa. meskipun adanya anak ini, tapi aku sangat menyayanginya dengan sepenuh hati.”


“Tidak mungkin jika kamu menyayangi anak itu tanpa mencintai Ayahnya. Tidak mungkin juga kamu mempertahankan anak itu jika kamu tidak memiliki perasaan pada Ayahnya.”


Seketika Livy terdiam. Memang dia tidak pernah membahas masalah Dewa dengan kedua orang tuanya. Dia dulu hanya menolak saat Papanya ingin mencari keberadaan Dewa dengan alasan perbuatan yang ia lakukan hanyalah kesalahan dirinya. Ternyata Papanya tahu kalau dirinya mencintai Dewa.


“Biarlah rasa cintaku terhadap Dewa aku simpan rapat di hati ini, Pa. dengan keberadaan anak ini sama saja dengan kehadiran dia. Aku tidak ingin memaksa dia hadir di sini tanpa ada cinta di hatinya.”


“Apa kamu tahu kalau Dewa tidak mencintaimu? Apalagi ada anak diantara kalian, pasti ikatan batin itu ada. Papa ingin kamu hidup bahagia, Vy!”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2