Main Hati

Main Hati
Eps 17 ~ Membalas Ciuman Part 2


__ADS_3

Sadar akan perbuatannya yang sangat tidak dibenarkan, apalagi Livy ikut membalas ciumannya, akhirnya Dewa melepas paksa ciuman itu. dengan nafas tersengal dan menatap bibir Livy yang basah, Dewa pun segera melepas tangan Livy yang sejak tadi mengalung ke lehernya. Otaknya benar-benar sudah tidak waras. Dan ini tidak boleh diteruskan. Lebih baik setelah ini ia mengundurkan diri saja dari pekerjaan sebagai sopir pribadi sekaligus bodyguard Livy.


“Maafkan saya, Nona. Ini tidak bena,-hmmmpp”


Ucapan Dewa menguap begitu saja saat tiba-tiba Livy yang bergantian menyumpal bibirnya dengan ciuman yang sangat memabukkan. Livy kini menangkup kedua pipi Dewa untuk memperdalam ciumannya pada Dewa. Mungkin tadi hanya Dewa saja yang merasa sudah tidak waras. Namun ternyata Livy juga.


Entahlah, kenapa Livy jadi wanita murahan seperti ini. ciuman Dewa yang memabukkan, perlakuan pria itu yang begitu baik padanya, serta rasa nyaman yang ia rasakan bila dekat dengan Dewa membuat Livy merasakan ada yang aneh dengan hatinya.


Dewa kembali terbakar mendapat ciuman dari Livy. akhirnya ia juga ikut membalas ciuman itu. hingga tanpa sadar tangannya menekan pinggang Livy semakin menempel dengan tubuhnya. Lidah mereka berdua masih saling membelit memberikan kenikmatan. Mereka seolah enggan mengakhiri kegiatan setengah panas itu jika saja Livy tidak memukul-mukul dada Dewa karena hampir kehilangan pasokan oksigen.


Dengan nafas yang masih tersengal. Livy menempelkan keningnya dengan kening Dewa. Bibirnya masih basah dan sedikit membengkak akibat ulah Dewa beberapa saat yang lalu.


“Jangan pernah sekalipun kamu berniat mengundurkan diri dari pekerjaan ini, Wa! Kumohon! Maafkan aku, jika aku merasa sangat nyaman jika berada di dekatmu.” Ucap Livy dengan lirih.


Dewa masih menatap dalam mata Livy. jujur, dia juga merasakan hal yang sama seperti Livy. dan dia tidak perlu mengatakan itu semua. Cukup dengan menganggukkan kepala saja baginya sudah cukup membuat hati Livy lega. Tak lama setelah itu Dewa menarik Livy ke dalam pelukannya.


Cukup lama mereka berdua saling berpelukan. Baik Dewa maupun Livy sangat menikmati harum aroma tubuh masing-masing. Mereka juga seperti enggan beranjak dari sana. Namun waktu yang tidak memungkinkan. Apalagi Febian nanti pasti akan mencarinya.


“Jangan pernah tinggalkan aku, Wa!” ujar Livy setelah mengurai pelukannya.


Dewa hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Pria itu juga mengusap lembut kepala Livy.


“Lebih baik kita segera turun, Nona. Tuan Febian nanti akan mencari anda.” ujar Dewa kemudian.


“Tunggu dulu! Kalau kita sedang berdua, jangan panggil aku Nona. Apa kamu mengerti?”


Dewa lagi-lagi menanggapinya dengan senyuman. Namun kali ini disertai dengan anggukan kepala. Livy cukup lega dengan jawaban itu.


“Baiklah. Aku akan turun dulu. Tunggu aku di basement.” Pamit Livy segera beranjak.


Saat Livy baru saja melangkahkan kakinya, tiba-tiba Dewa menahannya. Pia itu membenahi rambut Livy yang sedikit berantakan. Lalu ibu jarinya mengusap bibir Livy yang masih agak basah dan lipstiknya sedikit belepotan.

__ADS_1


“Terima kasih.” Ucap Livy lalu segera pergi dari rooftop meninggalkan Dewa.


Setelah kepergian Livy, Dewa menyentuh bibirnya yang baru saja berciuman dengan Livy. rasa manis bibir wanita cantik itu masih membekas. Entah sampai kapan rasa itu akan menghilang. Tanpa sadar Dewa menyunggingkan senyumnya. Apakah ini artinya dia sudah jatuh cinta pada sosok Livy, majikannya.


***


Kini Dewa sudah berada di basement hotel menunggu dua majikannya datang. dan tak lama kemudian Livy dan Febian datang, lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Keduanya terlihat mesra saat berjalan menuju mobil tadi. dan hal itu tak luput dari pandangan Dewa.


Dewa mencoba biasa saja melihat kemesraan Livy dan Febian. walau pada kenyataannya hatinya sedikit nyeri. Terlebih setelah apa yang mereka lalukan beberapa saat yang lalu di atas rooftop hotel.


Livy langsung menjaga sikapnya saat sudah berada di dalam mobil. Apalagi ia melihat Dewa yang tampak diam saja dengan tatapan lurus ke depan.


“Jalan, Wa!” ujar Febian dari belakang.


Dewa langsung mengemudikan mobilnya menuju kediaman Febian. pria itu mencoba fokus dengan kemudianya, dan mengabaikan kemesraan sepasang suami istri yang duduk di jog belakang.


Saat mobil yang dikendarai oleh Dewa baru saja keluar dari area hotel, tanpa sengaja Dewa bertemu dengan seorang wanita yang ia temui di Lobby hotel tadi. wanita itu juga masih menggendong anaknya. dan anehnya lagi, tatapan wanita itu tertuju pada mobil yang Dewa kendarai.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Febian heran.


Febian juga merasakan perubahan sikap istrinya selama dalam perjalanan pulang tadi. Livy terlihat seperti menghindarinya.


“Aku sangat lelah, Bi. Kepalaku pusing sejak tadi.” jawab Livy berbohong.


“Maaf. Aku tidak tahu. Maafkan aku, tadi sudah membuatmu menunggu lama. Ayo kita masuk, lalu istirahat.” Ucap Febian.


Sesampainya di dalam kamar, setelah berganti pakaian, Livy langsung merebahkan tubuhnya. Dia berpura-pura sakit agar malam ini tidak disentuh oleh suaminya. entahlah, kenapa mudah sekali hati Livy berpaling dari suaminya.


Sedangkan Febian yang mengerti dengan keadaan istrinya, pria itu juga segera bergabung dengan istrinya lalu tidur dengan memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.


***

__ADS_1


Selama dua hari berada di luar negeri, Livy dan Febian sama sekali tidak melakukan hubungan suami istri. Livy terkesan seolah menjaga hatinya dari Dewa dengan pura-pura sakit.


Dan hari ini juga Livy akan pulang. Febian juga akan pulang, karena memang pekerjaannya sudah selesai. dan jadwal keberangkatan mereka nanti sore.


Saat ini Livy sedang duduk santai di ruang keluarga bersama mertuanya. sedangkan Febian sedang berada di luar. Entah kemana pria itu pergi. Febian tidak mengatakan pada istrinya.


Sementara itu Febian kini sedang berada di sebuah apartemen. Lebih tepatnya sejak beberapa jam yang lalu. Di atas pangkuan Febian sedang duduk seorang anak perempuan yang usianya sekitar dua tahunan.


Dewa hanya menanggapi dengan datar setiap celotehan anak perempuan itu. di sampingnya juga ada beberapa mainan yang masih baru. Tentu saja Febian lah yang membelikannya.


Sedangkan seorang wanita yang tak lain ibu dari anak perempuan itu hanya bisa diam menyaksikan interaksi ayah dan anak yang sedang duduk tak jauh darinya. Apalagi melihat raut wajah Febian yang sangat datar terhadap anaknya, membuat hati Raina sakit.


Drt drt drt


Ponsel dalam saku Febian bergetar. Ada pesan masuk dari Livy yang menanyakan keberadaannya. Febian pun segera menurunkan Saskia dari pangkuannya, dan membalas pesan Livy.


“Hari ini aku akan pulang. aku harap setelah ini kamu tidak menggunakan Saskia untuk membuat Mama memaksaku pulang ke sini.” ujar Febian setelah membalas pesan Livy.


“Aku tidak pernah menggunakan Saskia sebagai alasan, Kak. Tapi dia yang mencarimu.” Ucap Raina menahan tangis.


“Sudah aku katakan berulang kali, Na! menikahlah!” ujar Febian dan bergegas keluar dari apartemen Raina. Dan tak lama kemudian terdengar tangis Saskia.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2