
Beberapa saat kemudian suasana kembali kondusif. Febian sudah ditenangkan oleh kedua orang tuanya. Begitu juga dengan Livy yang masih sangat shock dengan kenyataan bahwa suaminya selama ini sering main dengan wanita lain.
Beberapa saat kemudian, atau lebih tepatnya setelah majelis hakim berunding, akhirnya permohonan Livy dikabulkan. Dengan kata lain, pernikahan mereka sudah tidak bisa diselamatkan lagi. akhirnya hakim mengetuk palu dengan kata lain Febian dan Livy resmi bercerai.
Febian juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kedua orang tuanya juga cukup shock dengan perbuatan Febian, begitu juga dengan Livy yang ternyata selama ini juga berselingkuh. Akhirnya Febian harus menerima kenyataan pahit itu. berpisah selamanya dengan Livy.
Livy yang didampingi oleh kuasa hukum dan keluarganya segera keluar dari ruang persidangan. Namun Febian dengan cepat berlari memeluk Livy. pria itu tampak hancur dengan segala penyesalan yang telah ia perbuat selama ini.
“Vy, maafkan aku! maafkan semua kesalahanku” ucap Febian dengan lirih.
“Semuanya sudah berakhir. Kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. aku juga minta maaf, karena aku juga bersalah dalam hal ini. selamat tinggal, Febian!” jawab Livy sembari melepas genggaman tangan Febian.
Setibanya di luar persidangan, ternyata Febian juga sudah dijemput langsung oleh pihak berwajib mengenai kasus pengalihan hak milik tiga klinik kecantikan milik Livy beserta pemalsuan tanda tangan.
Tampak Nyonya Abyasa berteriak histeris saat melihat anaknya dibawa ke kantor polisi. Namun Livy sama sekali tidak mau ikut campur lagi. biarlah untuk urusan itu ditangani oleh kakaknya. Hatinya sudah sedikit lebih lega setelah terbebas dari ikatan pernikahan dengan Febian.
Kini Livy masuk ke dalam mobil bersama kedua orang tuanya. Mereka akan segera pulang, karena semua urusannya sudah selesai. namun tiba-tiba saja Livy memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Bahkan tubuhnya saja hampir ambruk kalau Mamanya tidak memeganginya dari belakang.
“Vy, kamu kenapa?” tanya Abi panik.
“Nggak apa-apa, Ma. Kepalaku hanya pusing saja. ayo, buruan! Aku ingin segera istirahat.” Jawab Livy singkat llau masuk ke dalam mobil.
Selama dalam perjalanan pulang, Livy memilih tidur. Rasa pusing di kepalanya tak kunjung mereda. Justru semakin berdenyut. Ditambah lagi ada rasa tidak enak dalam perutnya yang ingin dikeluarkan. Namun ia berusaha menahannya sebelum sampai rumah.
Benar saja, setelah mobil yang ia tumpangi berhenti di depan halaman rumah, Livy segera keluar dan berlari menuju kamar mandi dapur. Livy segera memubtahkan semua isi perutnya.
Abi juga terlihat panik melihat anaknya berlari sambil memegangi perutnya. Entahlah, kenapa perasaan Abi mendadak tidak enak melihat sikap aneh Livy. wanita paruh baya itu berharap tidak terjadi apa-apa dengan anaknya.
Kini Abi sudah berada di toilet. Dia masuk menghampiri Livy yang masih terus mengeluarkan isi perutnya.
“Kamu nggak apa-apa, Vy? Apa perut kamu sakit?” tanya Abi sambil memijit tengkuk Livy.
Livy hanya menganggukkan kepalanya. Rasa mual itu kembai menyerang, namun tidak ada sedikitpun sesuatu yang dikeluarkan. Bahkan wajahnya kini terlihat sangat pucat.
__ADS_1
Tiba-tiba saja saat Livy baru selesai membasuh mulutnya, pandangannya terasa sangat gelap. Hingga akhirnya wanita itu jatuh pingsan.
Brukkk
Abi berteriak saat mendapati Livy pingsan. Kebetulan Jelita juga sedang didapur. Akhirnya dengan dibantu Jelita, Abi memapah Livy keluar dari toilet. Reno yang sedang berteleponan dengan seseorang juga terlihat panik saat melihat istri dan menantunya sedang memapah Livy yang tengah pingsan.
“Biar Papa saja yang angkat!” ucap Reno mengambil alih posisi Jelita.
Abi juga baru ingat kalau menantunya itu sedang hamil muda. Khawatir jika terjadi sesuatu dengan kandungannya saat ikut membantu memapah Livy dari toilet.
“Lita, kandungan kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Abi khawatir setelah merevahkan Livy di sofa ruang tengah.
“Nggak apa-apa. Mama tenang saja. lebih Lita buat teh hangat buat Livy. atau mau diteleponkan dokter, Ma?”
“Nggak. Biar Mama saja nanti yang menelepon dokter keluarga.” Tolak Abi.
Jelita ke dapur untuk membuatkan Livy teh hangat, sementara Abi duduk di sebelah Livy yang masih belum sadar. Dia mengoleskan minyak angin di sekitar kening Livy, juga pada perutnya. Sedangkan Reno sudah lebih dulu menghubungi dokter keluarga untuk memeriksa keadaan Livy.
Beberapa saat kemudian Livy sudah mulai membuka matanya. kebetulan Jelita juga sudah membawa teh hangat. Livy pun segera meminumnya, walau kepalanya masih terasa berdenyut. Wajahnya juga masih pucat.
“Apa masih pusing, Vy?” tanya Jelita.
“Sedikit, Kak. Terima kasih.”
Abi meminta Livy pindah ke kamar tamu. Karena beberapa saat lagi dokter yang akan memeriksanya datang. Livy juga sama sekali tidak menolak. Karena memag dia butuh pemeriksaan dokter untuk mengetahui kondisinya yang akhir-akhir kurang sehat.
Kedatanagn dokter Arsy, yang tak lain isitri dokter Adrian kebetulan bersamaan dengan Raffael yang baru saja pulang dari kantor polisi. Raffael sangat cemas saat dokter Arsy bilang kalau kedatangannya karena akan memeriksa Livy.
“Vy, kamu kenapa?” tanya Raffael pada Livy yang sudah berbaring di kamar tamu.
“Permisi, biar saya periksa dulu.” Sahut Dokter Arsy.
Semua orang ada di kamar tamu ingin mengetahui kondisi Livy. dokter Arsy sendiri tampak melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, juga bertanya banyak hal atas diagnose yang baru saja ia dapatkan.
__ADS_1
“Kapan terakhir menstruasi?”
Pertanyaan Dokter Arsy membuat suasana seketika hening. Khususnya kamu wanita yang ada di sana. Abi, Jelita, tentunya juga Livy.
“Sa..saya lupa, Dok. Sepertinya bulan ini saya beleum mendapatkannya.” Jawab Livy dengan lirih dan raut wajah yang tampak sangat frustasi.
Dokter Arsy hanya tersenyum setelah mendengar jawaban Livy. karena memang dokter itu belum mengetahui kabar perceraian Livy yang hari ini baru diputuskan.
“Saya sarankan lebih baik melakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit. Karena diagnose saya, usia kehamilan Nona Livy masih satu atau dua mingguan.” Ucap Dokter Arsy tanpa menyadari raut wajah semua orang yang ada di dalam kamar itu.
Semua orang juga tampak diam. tak memberi reaksi apapun. Dokter Arsy sampai heran sendiri, karena baru kali ini ada keluarga yang tidak antusias atau bahagia saat mendengar kabar kehamilan anaknya.
Setelah Dokter Arsy berpamitan pulang, kini raut wajah Livy semakin pucat. Bukan karena masih sakit, namun takut dengan tatapan semua anggota keluarganya.
“Percerian Livy dan Febian batal karena Livy sedang mengandung.” Ucap Reno tiba-tiba.
Livy hanya menggelengkan kepalanya. Namun hal itu semakin membuat Mamanya penasaran.
“Kenapa denganmu, Vy?apa yang dikatakan Papamu benar. Perceraian kamu bisa dibatalkan karena kamu sedang mengandung anak Febian.” tambah Abi.
“Tidak! Ini bukan anak Febian!”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1