
Livy menutupi masalah yang tengah dihadapinya dengan sang suami dari kedua orang tuanya. Meskipun Abi terlihat heran pada anak menantunya yang pagi-pagi sekali sudah berpamitan pulang. padahal masih hari minggu pagi.
“Febian ada pekerjaan mendadak, Ma ke luar kota.” Ucap Livy menjawab rasa penasaran Mamanya.
“Maafkan kami, Ma. Lain kali kami akan berkunjung ke sini.” sahut Febian.
Abi hanya mengangguk. Setelah itu dia dan suaminya ikut mengantar anak dan menantunya sampai depan rumah.
Kini Livy dan Febian sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah. mereka berdua kembali saling diam. terutama Livy yang sejak tadi tak pernah menanggapi ucapan suaminya. febian sendiri sudah tidak lagi membahas masalah semalam. Atau mungkin pria itu belum ingin membahasnya di saat Livy masih emosi seperti ini.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai rumah. tepat di halaman rumah saat Livy baru saja keluar dari mobil ada Dewa sedang bersih-bersih taman. Livy menghentikan sejenak langkahnya melihat Dewa. Setelah itu dia masuk ke dalam rumah meningalkan suaminya yang membawa tas kecil berisi baju-baju Livy.
Febian melangkahkan kakinya dengan gontai masuk ke dalam kamar. namun saat sudah masuk, pria itu tidak menemukan istrinya di sana. Jendela kamar juga masih tertutup. Begitu juga di kamar mandi, tidak terdengar suara gemericik air.
Febian meletakkan tas itu lalu keluar kamar untuk mencari Livy. di dapur juga tidak ada. Hanya ada Bi Ratih yang sedang sibuk bersih-bersih di dapur.
“Bik, tahu istriku?” tanyanya.
“Saya tadi lihat Non Livy mengambil minum lalu masuk ke kamar tamu, Tuan.” Jawab Bi Ratih.
Febian hanya menghela nafasnya saat mendengar jawaban Bi Ratih. Akhirnya ia pun segera menuju kamar tamu untuk menyusul istrinya.
Cklek
Febian masuk ke dalam kamar tamu. Beruntung tidak dikunci dari dalam. Dan benar saja di sana ada Livy yang sedang sibuk dengan ponselnya sambil rebahan di atas ranjang.
“Sayang, maafkan aku!” Febian sudah duduk di samping istrinya.
“Sudahlah, Bi! Aku nggak mau bahas itu lagi. jangan ganggu aku!” Livy meletakkan ponselnya lalu ia berdiri di tepi jendela melihat Dewa yang sedang sibuk dengan kegiatannya.
Tiba-tiba saja Febian memeluk Livy dari belakang. Meletakkan kepalanya di atas pundah istrinya. Kenapa hatinya sangat sakit saat merasakan untuk pertama kalinya diacuhkan oleh Livy. namun Febian sendiri juga tidak memiliki solusi dari masalahnya ini. dia tetap kekeh tidak ingin memiliki anak.
__ADS_1
“Maafkan aku, Sayang. Aku mohon mengertilah!” ucap Febian dengan lirih.
“Mengerti yang bagaimana lagi, Bi? Kita menikah sudah hampir dua tahun. Pasangan mana yang tidak menginginkan hadirnya seorang anak pernikahannya. Kecuali memang mereka benar-benar sepakat tidak ingin mempunyai anak. Lalu dengan rumah tangga kita? Hanya kamu sendiri yang tidak menginginkan anak. Sebenarnya ada apa denganmu, Bi? Apa kamu punya rahasia besar yang tidak aku ketahui selama ini?” tanya Livy berapi-api.
Deg
Febian menelan salivanya kasar. Dia tidak ingin istrinya mengetahui masa lalunya itu. cukup dirinya dan kedua orang tuanya saja yang tahu mengenai permasalahan ini.
“Iya, aku akui memang aku yang salah dan aku yang egois. Aku tidak mempunyai rahasia apapun, Sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin dengan hadirnya anak, aku akan kehilangan waktumu untukku. Terbukti saat kemarin di rumah Mama. kamu sangat sibuk dengan anak-anak Raffael tanpa mempedulikan aku.” jawab Febian berkilah.
Livy tidak habis pikir dengan jawaban suaminya. jawaban yang selalu tidak masuk akal dan semakin membuatnya muak. Percuma kalau terus berdebat seperti ini. toh Febian tetap teguh pada pendiriannya.
“Ok kalau itu memang maumu. Mulai saat ini, kita akan tidur terpisah. Kita jalani hidup ini sendiri-sendiri,-“
“Vy, kamu jangan asal bicara! Mana mungkin aku,-“
“Kalau kamu tidak terima lebih baik ceraikan aku!”
“Tolong beri aku waktu untuk memikirkan semua ini.” ucap Febian kemudian.
Livy hanya melirik jengah setelah itu dia segera keluar kamar.
Febian mengacak rambutnya frustasi. Menyalahkan takdir yang selama ini menimpanya. Dan penyebab semua masalah ini tidak lain adalah Raina dan juga anak sialan itu.
Sedangkan Livy setelah keluar dari kamar tamu, wanita itu menghampiri Dewa dan memintanya untuk menganter pergi ke suatu tempat yang bisa menenangkan dirinya. Febian yang melihat dari jendela kamar pun membiarkannya saja. mungkin Livy memang butuh waktu untuk menenangkan diri. Begitu juga dengan dirinya.
***
Saat ini Livy sudah berada di tepi danau buatan yang ada di tengah kota. Wanita itu duduk termenung dengan keadaan yang tidak baik-baik saja. sedangkan Dewa juga ada di samping Livy membiarkan wanita itu menenangkan dirinya setelah beberapa saat lalu Livy menceritakan masalah yang dihadapi dengan suaminya.
“Aku harus bagaimana, Wa? Apa salah dengan ucapanku sekaligus ancamanku terhadap Febian tadi?”
__ADS_1
Dewa terdiam cukup lama setelah mendapat pertanyaan dari Livy. apakah Livy tidak tahu kalau hatinya juga sakit dengan pertanyaan itu. padahal beberapa waktu yang lalu Livy baru saja menyatakan perasaan cintanya. Apakah cinta yang dimaksud Livy saat itu hanya cinta sesaat dan sampai kapan pun dirinya hanyalah sebagai pelarian Livy.
“Tidak. Tidak salah. Aku harap dengan ancaman kamu terhadap suami kamu, dia bisa berubah dan rumah tangga kalian berdua kembali membaik.” Jawab Dewa cukup tenang.
Livy menoleh ke arah Dewa. Air matanya luruh begitu saja mendengar jawaban Dewa yang sarat akan sakit hati yang dirasakan pria itu.
“Wa, maafkan aku. bukan maksud aku untuk,-“
“Kamu tenang saja! aku hanya ingin rumah tangga kamu baik-baik saja.” sahut Dewa.
Grep
Livy langsung memeluk Dewa. Kenapa hatinya semakin sakit mendengar ucapan Dewa baru saja. memang dia sedang mempunyai masalah besar dengan suaminya. bahkan dengan anacam yang Livy berikan pada Febian tadi sedikit banyak berharap suaminya mau menjalani rumah tangganya layakanya pasangan pada umumnya. Lalu bagaimana dengan perasaannya terhadap Dewa?
Livy benar-benar merasa sedang mempermainkan perasaan Dewa. Bahkan beberapa waktu yang lalu ia sudah mengungkapkan perasaannya pada pria ini.
Dewa membiarkan Livy masih memeluknya. Bahkan ia juga mengusap lembut kepala Livy. seakan sudah tahu jawabannya, kalau sampai kapanpun kehadirannya di tengah-tengah rumah tangga Livy dan Febian tidak akan berakhir dengan baik. Meskipun dia juga mencintai Livy, lebih baik ia menghapus perasaan itu dan membiarkan Livy hidup bahagia dengan suaminya.
Drt drt drt
“Wa, kemana istriku pergi? Apa dia baik-baik saja?”
Dewa mengurai pelukannya dan membaca pesan yang baru saja masuk dari Febian. terlihat jelas kalau Febian sangat mecintai Livy. meskipun pria itu sangat egois. Jadi tidak mungkin ia merusak hubungan mereka berdua.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!