
Hari ini Dewa dan Mamanya sudah bersiap pergi untuk melamar Livy secara resmi. Sebelumnya Dewa juga sudah memberitahu pada Livy akan kedatangannya. Tak lupa Dewa juga memberitahu Mario, atasan sekaligus sahabatnya untuk ikut datang dalam acara lamarannya dengan Livy. hanya saja Mario mengatakan kalau ia dan kedua orang tuanya pergi ke rumah Livy terlebih dulu.
“Apa Mama sudah siap?” tanya Dewa saat baru saja keluar dari kamarnya.
Liana hanya menganggukkan kepala tanpa kata. Karena wanita itu sedang memandangi penampilan anaknya yang terlihat sangat tampan. Rasanya dia baru kemarin ia Dewa masih dalam pelukannya. Apakah itu karena selama ini ia melalaikan seorang anak hanya demi kepuasan duniawi.
“Ma, kenapa Mama menangis?” tanya Dewa saat melihat mamanya tiba menangis.
“Nggak apa-apa, Wa. Mama sangat senang akhirnya anak Mama yang tampan ini sebentar lagi menikah.” jawab Liana sambil mengusap sudut matanya.
“Mama jangan bersedih seperti ini. Dewa janji, meskipun Dewa nanti sudah menikah, Dewa tidak akan melupakan Mama. Dewa akan mengajak Mama tinggal bersama kami.”
Liana hanya mengangguk saja. entahlah, apa dia nanti akan ikut tinggal bersama anak menantu serta cucunya. Mengingat selama ini memang dia hidup sendirian tanpa teman.
“Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang!” Ajak Liana kemudian.
***
Beberapa saat berkendara akhirnya mobil Dewa memasuki halaman rumah Livy. Liana sangat takjub dengan kemewahan rumah calon besanya. Dia merasa rendah diri karena memiliki kedudukan yang sangat beda jauh dengan kedua orang tua Livy. bagaimana nanti tanggapan orang-orang jika kedua orang tua Livy memiliki menantu yang miskin tidak sebanding dengannya.
“Mama jangan berpikiran yang macam-macam. Orang tua Livy adalah orang baik. Lebih baik kita masuk sekarang!” ucap Dewa seolah mengerti apa yang sedang Mamanya pikirkan.
Kini Dewa dan Mamanya sudah masuk ke rumah Livy. kedatangannya sudah disambut hangat oleh kedua orang tua Livy dan juga keuarga Mario yang sudah sampai lebih dulu.
Liana membenarkan ucapan Dewa tadi. karena memang kedua orang tua Livy adalah orang baik. Terbukti saat dia memperkenalkan dirinya juga sedikit tentang latar belakangnya, baik Reno maupun Abi sama sekali tidak mempermasalahkannya.
Begitu juga dengan keluarga Mario yang selama ini sagat baik pada Dewa. Liana tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Mereka.
Setelah itu Liana menyampaikan maksud kedatangannya. Dia sebagai orang tua tunggal Dewa meminta Livy secara resmi untuk menjadi istri Dewa. Liana juga berharap pernikahan Dewa dan Livy segera dilangsungkan.
“Saya sebagai Papa Livy menerima dengan tangan terbuka lamaran putra anda. apalagi anak-anak kita juga sudah saling mencintai. terlebih sudah ada anak diantara mereka. Ya, walaupun semuanya berawal dari kesalahan keduanya. Dan kami sebagai orang tua juga setuju dengan usul Nyonya Liana untuk segera melangsungkan pernikahan ini. bagaimana?” ucap Reno kemudian menatap Livy dan Dewa secara bergantian.
__ADS_1
“Livy setuju, Pa. tapi Livy ingin pernikahan ini dilaksanakan secara sederhana saja. cukup dihadiri keluarga inti.”
Dewa menatap lekat calon istrinya setelah Livy menginginkan pernikahan yang sederhana. Livy hanya tersenyum sambil mengangguk. Mungkin setelah ini ia akan bicara berdua saja dengan Dewa mengenai pesta pernikahannya nanti.
“Kalau itu terserah kalian berdua saja.” jawab Reno.
Setelah pembicaraan yang cukup serius tentang lamaran Dewa pada Livy sekaligus membahas pernikahan mereka yang akan dilangsungkan dua minggu lagi, kini waktunya ramah tamah.
Semua orang tampak berkumpul di ruang makan. Sedangkan Liana memilih untuk menggendong cucunya lebih dulu, karena sejak tadi belum memiliki kesempatan untuk menimang Calvin.
Mata Liana berkaca-kaca saat melihat wajah cucunya yang seperti Dewa waktu kecil. Sangat tampan. Di hati wanita itu juga terbesit rasa sesal akan masa lalunya yang telah mengabaikan Dewa. Ternyata pilihan Dewa ingin menikahi Livy sekaligus bertanggung jawab atas Calvin adalah pilihan yang sangat benar.
“Ma, ayo makan dulu! Biar Calvin sama aku.” ujar Dewa menghampiri Mamanya.
Liana pun memberikan Calvin pada Dewa, lalu ia segera bergabung ke meja makan. Dewa mengajak anaknya mencari tempat yang sedikit sepi. Ternyata Livy mengikutinya.
“Apa kamu nggak makan dulu, Wa?” tanya Livy yang sudah duduk di samping calon suaminya.’
Livy tampak kesal mendengar Dewa memanggilnya Nona. Padahal maksud Dewa memberi sindiran pada calon istrinya. Masa’ status sudah berganti menjadi calon suami istri namun Livy masih memanggilnya seperti dulu. Seperti saat ia masih menjadi bodyguard Livy.
Melihat tidak ada reaksi apapun dari Livy, Dewa menoleh ke arahnya. Ternyata Livy tampak cemberut dan memalingkan mukanya. Dewa pun dibuat gemas dengan sikap Mama muda sekaligus calon istrinya itu.
“Sayang, jangan cemberut gitu dong! Maaf, aku hanya bercanda dengan panggilan tadi.” ujar Dewa.
Wajah Livy seketika memerah saat mendengar Dewa memanggilnya Sayang. Hatinya sangat berbunga-bunga mendengar panggilan sayang dari orang yang dicintainya. Setelah itu Livy tersenyum tipis ke arah Dewa sebagai ungkapan rasa terima kasihnya. Ya, meskipun ia masih malu untuk mengubah panggilannya pada Dewa.
“Sekarang aku tanya, kenapa kamu menginginkan pernikahan yang sederhana? Aku mampu jika kamu menghendaki pesta pernikahan mewah.” Tanya Dewa.
“Bukan seperti itu maksudku. Bukan aku meremehkan kemampuan finansialmu, tapi memang aku menginginkan pesta yang sederhana saja. tolong, jangan berpikiran yang macam-macam.” Jawab Livy meyakinkan.
“Baiklah. Aku ikuti kemauan kamu.” Ucap Dewa akhirnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara rengekan kecil dari bibir mungil Calvin. Rupanya bayi itu terbangun karena kehausan. Livy pun segera meminta Calvin dari gendongan Dewa dan memberikannya ASI.
Dewa memalingkan mukanya saat melihat Livy akan membuka kancing baju hendak menyusui Calvin. Livy sendiri juga reflek, tidak menyadari ada Dewa di sisinya yang tentunya belum boleh melihat benda keramat itu.
“Ehm, lebih baik kamu masuk ke kamar saja kalau memberikan ASI untuk Calvin.” Ucap Dewa menghentikan Livy yang sedang membuka kancing bajunya.
“Astaga!” gumam Livy menyadari kecerobohannya.
“Maaf!” Livy segera beranjak dan masuk ke dalam kamar untuk membeikan ASI pada Calvin. Sedangkan Dewa hanya menghembuskan nafasnya kasar. Apalagi tadi ia sempat melihat sedikit bongkahan besar sumber kehidupan Calvin yang berhasil membuat jakunnya naik turun.
“Sabar, Wa! Belum saatnya. Dua minggu lagi kalian akan menikah.” ternyata ucapan batin Dewa sama seperti ucapan seseorang yang sedang berdiri tak jauh darinya.
Dewa menoleh ke belakang. Ternyata Mario tengah menatapnya sambil menahan tawa saat ia sempat melihat interaksi Dewa dan Livy tadi.
“Apaan sih!” Dewa tamapk malu sekaligus kesal dengan kedatangan Mario yang tiba-tiba.
Kini Mario sudah duduk di samping Dewa. Pria itu masih menahan tawanya melihat wajah salah tingkah Dewa.
“Sabar! Dua minggu lagi.” ledeknya semakin membuat Dewa kesal.
“Iya, iya dua minggu lagi. daripada kamu yang entah kapan bisa melakukannya.”
Skakmat. Senyum Mario langsung surut mendengar serangan balik dari Dewa.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!