
Livy terisak tanpa mempedulikan tatapan kemarahan Mama dan Papanya. Begitu juga dengan Raffael. Jelita yang juga ada di kamar itu, memilih mendekati adik iparnya dan memeluk Livy agar wanita itu lebih tenang.
Mereka semua jelas tahu siapa ayah dari janin yang sedang dikandung oleh Livy saat ini. terlebih beberapa saat yang lalu mereka juga sudah mengetahui tentang perselingkuhan Livy dengan Dewa.
“Maafkan Livy, Pa Ma! Semua ini salah Livy!” ucap Livy sambil terisak dalam pelukan Jelita.
Reno benar-benar kecewa dengan Livy. pria itu sampai tidak bisa mengeluarkan amarahnya karena dadanya tiba-tiba terasa nyeri. Sungguh ia gagal mejadi seorang ayah bagi anak perempuannya.
“Kamu sudah mencoreng harga diri kedua orang tua kamu, Livy! bisa-bisanya kamu melakukan hal keji itu.” Abi benar-benar kecewa dengan Livy.
Brukk
Kini giliran Reno yang jatuh pingsan sambil memegangi dadanya. Semua orang sangat panik dan segera membawa Reno ke rumah sakit. Livy pun tidak bisa berbuat apa-apa selain menyesali perbuatannya.
Hanya Jelita lah yang masih berada di kamar bersama Livy. dia tampak menenangkan Livy yang sedang kacau.
“Aku tidak menyangka kalau kalian sampai berbuat seperti ini. bagaimana pun juga Dewa harus bertanggung jawab atas janin dalam kandunganmu ini, Vy.”
Livy menggelengkan kepalanya setelah mendengar ucapan kakak iparnya. Jelita sendiri tidak mengerti apa maksud Livy.
“Tidak, Kak. Biarkan anak ini tumbuh sehat di sini tanpa sepengetahuan Dewa sekalipun.”
“Apa maksud kamu, Vy? Kalian berdua yang melakukannya, kenapa kamu tidak meminta Dewa untuk betanggung jawab?”
“Tidak. Dewa tidak mencintaiku. Biarlah ini jadi pilihanku. Rasanya akan semakin sakit jika kita hidup bersama tanpa cinta. Aku masih trauma untuk hidup berumah tangga. Biarlah aku menjadi ibu tunggal untuk anak ini. Ini memang karmaku, Kak. Aku harus menerima hukuman ini. dan memang sejak dulu yang aku harapkan adalah hadirnya seorang anak dalam rahimku.” Jawab Livy panjang lebar. Dia berusaha tegar mengatakan itu semua.
Jelita juga tidak bisa berbuat banyak. Dia teringat dengan masa lalunya yang pernah menjadi seorang single mother rasanya sangat sulit. Bagaimana mungkin Livy juga mengalami hal itu. namun justru itu pilihan Livy sendiri.
**
Selama Papanya dirawat di rumah sakit, keadaan Livy setiap hari juga terus mengalami morning sickness. Dia belum berani menemui Papa dan Mamanya yang sejak saat itu masih berada di rumah sakit. Livy menunggu sampai keadaan Papanya membaik, barulah ia akan menemui Papanya.
__ADS_1
Raffael sendiri juga tidak bisa berbuat banyak. Tidak bisa memberi solusi dengan masalah yang tengah dihadapi oleh adiknya. Selain pekerjaan kantor yang begitu padat, istrinya juga butuh perhatiannya karena sedang hamil muda.
Namun Raffael sudah tidak semarah saat pertama kali mengetahui kabar kehamilan Livy. mungkin dia sudah diberitahu oleh istrinya mengenai ungkapan hati Livy tempo hari dimana Livy tidak ingin mencari tahu Dewa agar pria itu mau bertanggung jawab atas kehamilannya.
“Ya sudah, kamu hari ini nggak apa-apa kan aku tinggal mengantar Livy ke rumah sakit?”
“Nggak apa-apa, Mas. Setiap hari juga sibuk di kantor. kamu menjadi milikku hanya malam hari saja.” Jawab Jelita setengah menyindir.
“Maaf, maaf! Setelah ini aku akan fokus dengan kamu.” Ujar Raffael sambil mengusap lembut perut rata Jelita.
“Nggak apa-apa, Mas. Aku paham kok dengan keadaan keluarga kita sekarang.”
**
Kini Raffael dan Livy sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Keduanya saling diam selama dalam perjalanan. Livy sibuk menata hatinya dan siap mendapat kemarahan Mama dan Papanya jika sebentar lagi bertemu.
Tak lama kemudian mobil Raffael memasuki halaman rumah sakit. Dia segera keluar dari mobil bersama Livy dan menuju ke ruangan di mana Papanya sedang dirawat.
Livy tertegun mendengar ucapan Kakaknya. Matanya berkaca-kaca melihat kakaknya yang masih begitu padanya. Raffael hanya mengusap lembut kepala Livy lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Reno.
Kini Livy dan Raffael sudah masuk ke ruangan Reno. Di sana tampak Abi yang baru saja selesai menyuapi suaminya. Livy mendadak takut saat melihat tatapan tak ramah Mamanya. Namun tidak dengan Reno.
Jujur saja, mau semarah apapun seorang ayah kepada anak perempuannya, meskipun kesalahan Livy menurutnya sangat fatal, namun Reno sama sekali tidak bisa membenci Livy. apalagi selama dirawat di rumah sakit ini, Reno sangat merindukan anak perempuannya itu.
Livy memberanikan diri mendekati brankar Papanya. Sedangkan Abi memilih menjauh seolah memberi kesempatan untuk Livy agar meminta maaf pada Papanya.
Grep
Livy langsung berhambur ke pelukan Papanya. Tangisnya pecah dengan gumaman kecil meminta maaf atas semua kesalahan yang telah ia perbuat selama ini. Reno ikut menangis, membalas pelukan Livy yang sudah lama ia rindukan.
“Livy sadar kalau selama ini cukup menyusahkan banyak orang terutama Papa dan Mama. maafkan Livy, Pa. setelah ini Livy berjanji akan tinggal jauh dari kalian semua. Livy tidak akan membuat kalian susah lagi. Livy akan tinggal dengan anak ini saja. maafkan Livy, Pa!”
__ADS_1
“Tidak akan!” Abi yang sejak tadi berada di ruangan itu mendengar jelas apa yang diucapkan oleh Livy. bagaimana mungkin seorang ibu membiarkan anak perempuanya pergi dari rumah demi tidak membuat susah keluarganya. Apalagi selama ini Abi juga tahu dari Raffael kalau Livy menolak tawaran kakaknya untuk mencari keberadaan Dewa agar bertanggung jawab atas kehamilannya.
Abi mendekati suami dan anaknya. mau semarah apapun dia dengan Livy, tentu saja hatinya juga ikut sakit mendengar ucapan Livy baru saja. Abi pun ikut memeluk Livy.
“Mama dan Papa tidak akan membiarkan kamu pergi dari rumah. kami semua akan selalu menyayangi kamu dan calon cucu kami. Apapun keputusan kamu.” Ucap Abi.
Akhirnya suasana kembali tenang. Begitu juga dengan hati Livy. dia sangat bersyukur memiliki keluarga yang masih menyayanginya. dia berjanji tidak akan lagi membuat masalah dalam keluarganya.
***
Setelah perceraiannya dengan Livy, ditambah lagi dengan kasus pidana yang menjeratnya, keadaan Febian benar-benar terpuruk. Pria itu harus mendekam di penjara selama beberapa tahun atas kasus yang dialaminya. Meskipun Raffael sudah memaafkan, namun proses hukum tetap berjalan. Kedua orang tua Febian juga secara pribadi sudah meminta maaf pada Reno dan Abi atas kesalahan anaknya.
Saat putusan pengadilan sudah ditentukan, Febian dipindahkan ke rumah tahanan yang masih berada di kota ini. dan saat ini Febian sedang mendapat tamu kunjungan dari seorang wanita. siapa lagi kalau bukan Raina.
“Aku turut simpati atas kasus yang menimpa Kak Bian.” Ucap Raina.
“Aku tidak butuh dikasihani. Jangan harap aku akan luluh dengan kedatanganmu ke sini. apalagi untuk meminta belas kasih agar aku mau bertanggung jawab atas anak sialan itu.” jawab Febian dengan angkuhnya.
Raina mencoba untuk bersabar. Melihat sifat kakak angkatnya yang seperti ini, rasanya Raina memang sudah tidak ingin lagi meminta Febian mengakui Saskia sebagai anak kandungnya. Dia juga tidak rela anaknya dibesarkan oleh pria seperti itu.
“Kak Bian jangan khawatir tentang itu. ini adalah kedatanganku yang pertama dan terakhir kalinya. Aku juga tidak akan mengemis lagi pada Kak Bian agar mau mengakui Saskia sebagai anak kandung Kak Bian. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas budi baik Kak Bian dan keluarga yang telah merawatku sejak kecil. Tolong sampaikan pada Mama dan Papa. Setelah ini aku juga berharap tidak akan bertemu dan berurusan lagi dengan keluarga Abyasa. Selamat tinggal!” ucap Raina lalu beranjak pergi meninggalkan Febian.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1