
Usai dari rumah sakit menemui Raina, kini Dewa sedang dalam perjalanan menuju bandara dengan menaiki taksi. Dewa sudah memutuskan kalau pergi dari kota ini adalah pilihan yang terbaik, daripada terjerumus dalam lembah dosa dengan menjalin hubungan terlarang dengan istri orang.
Dewa sadari kalau dia memang bersalah dan patut disalahkan. Namun tidak ad acara lain yang ia lakukan kecuali pergi. Dia hanya berharap baik pada hubungan Livy dan suaminya. dan apa yang ia lakukan dengan Livy selama ini, anggap saja itu hanya cinta semu yang sampai kapan pun tidak akan pernah menyatukan mereka. Mengingat status sosial antara dirinya dan Livy sangat beda jauh.
Beberapa saat kemudian, Dewa sudah tiba di bandara. Dia akan pulang ke kota kelahirannya. Walau sebenarnya ia tidak ingin. Apa boleh buat, lagi-lagi tidak ada pilihan lain.
Selama dalam perjalanan, Dewa tampak terdiam. Dia teringat dengan kepingan kenangan selama bekerja menjadi bodyguard Livy. dia juga tidak menyangka kalau akan terperangkap dalam hubungan rumit pada majikannya. Dewa hanya menghela nafas. Sekaligus harus melupakan perasaannya pada Livy.
***
Setelah surat gugatan cerai dari Livy dilayangkan pada Febian, tak lama kemudian sepasang suami istri itu mendapat panggilan sidang. Untuk pertama kalinya mereka melakukan mediasi. Sayangnya dalam mediasi itu gagal. Livy tetap bersikukuh ingin bercerai dari Febian. namun sayangnya Febian juga tetap pada pendiriannya. Tidak mengabulkan permintaan Livy. akhirnya sidang tersebut harus ditunda dengan meminta pada kedua belah pihak untuk memberikan bukti-bukti kuat jika memang pernikahan itu tidak bisa diselamatkan. Begitu juga juga dengan Febian, bagaimana upaya pria itu agar pernikahannya tidak sampai berakhir.
Reno tidak tanggung-tanggung. Dia sampai menyewa pengacara handal untuk menangani kasus perceraian anaknya. begitu juga denganTuan Abyasa. Dan selama dalam proses penyelesaian itu, Livy benar-benar merasa down. Wanita itu khawatir jika usahanya untuk berpisah dengan Febian tidak berhasil. Karena hati Livy sudah cukup sakit dengan keegoisan Febian selama ini.
Dan selama itu pula, Livy sudah tidak lagi pergi ke kantor. dia kembali menyerahkan tugasnya pada sang Kakak. Atau bisa jadi Livy sudah tidak ingin lagi bekerja di perusahaan Papanya.
**
Saat ini Livy sedang duduk seorang diri tepian kolam renang. Wanita itu tampak kalut. Bukan tentang masalah perceraiannya saja. namun karena hal lain.
Livy berulang kali mencoba menghubungi Dewa, mantan bodyguardnya. Namun ponsel pria itu sudah tidak aktif lagi. Livy teringat dengan ucapannya pada Dewa beberapa waktu yang lalu. Dengan amarah yang sedang menguasai hatinya karena sedang bertengkar dengan Febian, tanpa sadar Livy meminta Dewa pergi. Apakah saat itu Dewa menganggap ucapannya serius. Atau lebih tepatnya meminta Dewa pergi dari kehidupan Livy.
Livy menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Dewa pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan. Hatinya kenapa sangat sakit. Memang Livy akui kalau dirinya juga bersalah, karena telah bermain hati dengan Dewa. Tapi tidak dipungkiri kalau dirinya memang sudah jatuh cinta pada sosok mantan bodyguardnya itu.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Raffael yang entah sejak kapan pria itu datang.
“Baik, Kak.” Jawab Livy singkat dengan tatapan kosong.
__ADS_1
“Kamu jangan khawatir tentang proses perceraian kamu, Vy. Aku dan Papa akan membantu. Aku harap kamu tidak menjadi wanita lemah. Kamu harus tetap kuat.”
Livy menatap lekat kakaknya. Andai saja kakaknya tahu kalau dirinya memang sedang rapuh. Namun bukan karena proses perceraiannya, namun karena hatinya yang sakit karena ditinggal pergi oleh Dewa. Namun Livy juga tidak mau mengatakan itu.
“Terima kasih, Kak.” Jawab Livy dengan memaksakan senyum.
“Aku harap setelah ini kamu bisa kembali lagi ke kantor.”
Livy terdiam. Mungkin inilah saat yang tepat untuk bicara pada kakaknya.
“Maaf, Kak. Aku tidak bisa lagi kembali ke kantor. dan ini memang pilihanku. Aku lelah dengan semua ini. aku ingin vakum dulu dari dunia bisnis.” Ucap Livy.
Raffael terkejut mendengarnya. Sefrustasi itukah adiknya dnegan masalah yang tengah dihadapi, sampai-sampai Livy memutuskan untuk vakum dari dunia bisnis. Tapi Raffael tidak berani membahasnya lebih lanjut, terlebih dengan keadaan adiknya yang saat ini pasti sedang tidak baik-baik saja.
“Baiklah. Nanti kita bicarakan lagi. Aku akan membicarakannya dengan Papa. Tapi kebetulan hari ini aku membutuhkan kamu. Beberapa aset berharga yang atas nama kamu sedang dalam masa perpanjangan ijin. Termasuk beberapa klinik kecantikan yang ada di beberapa kota. Aku membutuhkan tanda tanganmu untuk mengurus semuanya. Biar nanti aku ambil berkasnya dulu.” Ucap Raffael.
“Baik, Kak. Maaf sebelumnya. Aku sudah cukup banyak merepotkan Kakak dan juga semua orang di rumah ini.” jawab Livy dengan sendu.
Usai menemui adiknya, Raffael masuk ke ruang kerjanya. Dia mengambil map berisi dokumen penting seperti yang dikatakan pada Livy tadi. dia akan meminta tanda tangan adiknya.
Raffael juga sudah melakukan penyelidikan terhadap Febian. dia menyuruh orang-orangnya yang tentunya lebih pandai dari orang suruhan Livy. namun sampai saat ini dia belum mendapatkan kabar. Apalagi jika memang benar ada kesalahan fatal yang selama ini dilakukan oleh Febian, maka itu akan menjadikan bukti kuat agar proses perceraian Livy dan Febian cepat berakhir.
Usai meminta tanda tangan dari Livy, Raffael pergi ke kantor. dia meminta sekretarisnya untuk menegrjakan perpanjangan ijin beberapa aset milik Livy. karena memang Reno sudah membagi beberapa harta kekayaannya pada dua anaknya. meskipun dirinya masih ikut mengawasi.
Drt drt drt
Raffael mendapat pesan dari anak buahnya yang diminta menyelidiki Febian. Raffael tanpa mengerutkan keningnya saat hanya mendapat pesan singkat kalau dirinya diminta datang ke luar negeri, tempat di mana Febian sering bepergian. Atau bisa dikatakan tempat tinggal keluarga Febian berada.
__ADS_1
Sepertinya memang anak buahnya sudah menemukan bukti tentang kebusukan Febian. jadi secepatnya dia harus pergi.
Tok tok tok
“Masuk!”
Raffael mempersilakan Sekar masuk. Dan wanita itu tampak membawa map yang baru saja Raffael berikan pada Sekar.
“Maaf, Tuan. Beberapa klinik kecantikan milik Nona Livy yang ada di tiga kota gagal melakukan perpanjangan ijin.” Ucap Sekar.
“Kenapa?”
“Karena baru saja saya mendapat email balasan kalau klinik itu sudah berganti kepemilikan, dan sedang dalam proses penjualan.” Jawab Sekar berdasarkan informasi yang ia dapat secara akurat.
“Apa? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Tidak mungkin Livy menjual aset pemberian Papa tanpa bicara dulu pada keluarga.” Raffael benar-benar marah.
“Tapi, Tuan. Dari data yang saya peroleh dan email balasan baru saja mengatakan kalau klinik kecantikan itu sudah lama berganti kepemilikan.” Lanjut Sekar.
Raffael semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Sekar. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Livy selama ini.
“Dan klinik kecantikan itu atas nama Tuan Febian Abyasa.” Ucap Sekar, seketika itu membuat Raffael meradang.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!