Main Hati

Main Hati
Eps 77 ~ Serangan Jantung


__ADS_3

Acara syukuran rumah baru Dewa dan Livy itu berlangsung dengan lancar. Satu per satu anggota keluarga pulang ke rumah mereka masing-masing. Sedangkan Mama Liana memutuskan untuk menginap selama seminggu lagi. Selain rumah Mama Liana jauh, wanita itu juga masih merindukan cucunya. Dan masih ingin berlama-lama menikmati kebersamaannya dengan sang cucu. Padahal Dewa juga meminta mamanya untuk tinggal bersamanya, namun wanita itu menolak. Degan alasan lebih nyaman tinggal di tempat kelahirannya.


Rumah berlantai satu yang Dewa dan istrinya huni itu memiliki beberapa kamar yang cukup untuk menampung beberapa orang tamu jika ingin singgah. Livy sendiri juga sangat nyaman. Meskipun ia terbiasa hidup dengan kemewahan, tapi dengan tinggal di rumah yang sederhana seperti ini sama sekali tidak masalah baginya.


“Ma, lebih baik Mama istirahat dulu. pasti Mama sangat capek, karena dari kemarin ikut sibuk membantu Livy.”


“Nggak, Vy. Mama masih belum ngantuk.”


Saat ini Mama Liana sedang duduk selonjoran di ruang tengah sambil menonton acara televisi kesukannya, dengan ditemani oleh menantunya. Sedangkan Calvin sudah tidur sejak tadi. dewa sendiri masih di pergi ke luar untuk membeli diapers anaknya yang sedang habis.


“Apa Mama mau Livy pijit?”


“Nggak usah! Kamu ini baik banget sih, Vy. Sudah duduklah di sini saja temani Mama. Calvin nggak apa-apa kan ditinggal di kamar sendirian?”


“Nggak apa-apa kok Ma. Dia kalau tidur anteng banget.”


Akhirnya Livy duduk berdampingan dengan Mama Liana. Wanita itu tampak bahagia melihat rumah tangga anaknya bahagia. Apalagi Dewa sudah bisa membeli hunian yang nyaman untuk keluarga kecilnya. besar harapan Mama Liana agar rumah tangga putranya langgeng hingga akhir hayat. Tidak seperti dirinya.


***


Seminggu berlalu. Dewa dan Livy sangat nyaman tinggal di rumah barunya itu. Livy juga sudah tidak terlalu capek, karena ada pengasuh yang membantu merawat Calvin.


Kemarin Mama Liana juga sudah pulang ke rumahnya. Mengingat wanita itu memiliki usaha kecil-kecilan di rumahnya, jadi tidak bisa terlalu lama meninggalkan rumah.


Kepulangan Mama Liana membawa sedikit angin segar bagi Dewa. setelah berbicara dari hati ke hati dengan Mamanya tentang tujuannya yang ingin mencari keberadaan sang Papa, akhirnya Mama Liana mengijinkan Dewa untuk mencari Papanya. Bahkan Mama Liana memberi petunjuk tempat yang kemungkinan ditinggali oleh Papa Dewa. Dewa pun segera meminta seseorang untuk mencari alamat tersebut.

__ADS_1


Sementara itu Livy yang masih memiliki tanggung jawab membantu mantan suaminya sembuh dari depresi, hari ini ia akan datang lagi ke rumah sakit jiwa. Hari ini juga hari terakhir Livy mengunjungi Febian. tentunya dengan diantar oleh Dewa.


Kini Livy dan Dewa sudah sampai di rumah sakit. Seperti biasa, Livy akan menemui dokter yang menangani kasus Febian. setelah itu baru lah ia masuk ke ruang perawatan Febian. sedangkan Dewa memilih menunggu di luar saja. dia sudah percaya seratus persen pada istrinya.


Waktu pun bergulir begitu cepat. Hari-hari Livy dan Dewa mereka lalui dengan bahagia. Setelah kedatangan Livy yang terakhir kalinya ke rumah sakit jiwa waktu itu, satu bulan kemudian Febian dinyatakan sembuh. pria itu berhasil melewati masa kritisnya. Hatinya sudah mulai terbuka dan menerima kenyataan. Hanya saja Febian masih belum berani bertemu dengan mantan istrinya lagi hanya sekadar untuk mengucapkan terima kasih.


Sedangkan Dewa juga sudah menemukan tempat tinggal Papanya. Tempat yang berada di daerah plosok. Papa Dewa juga hidup sebatang kara dengan usaha kecil-kecilan yang dirintis sendiri. Dewa juga meminta sang Papa untuk datang ke kota, menemui keluarga kecilnya. ia ingin mengenalkan istri dan cucunya. Hanya saja Papa Dewa masih belum memiliki waktu luang. Namun pria itu berjanji, secepatnya akan menemui menantu dan cucunya.


**


Hari ini weekend. Dewa otomatis libur bekerja. Namun pria itu terlihat masih sibuk dengan layar laptop di hadapannya. sementara Livy yang baru saja menyuapi Calvin dengan menu MPASInya, ia masuk ke ruang kerja suaminya.


“Mas! ini weekend loh. Kenapa masih sibuk sih?” tanya Livy sambil memijit pundak suaminya.


Livy pun menurut dan segera dudu di paha suaminya.


“Sayang, kemarin aku sudah mengajukan surat resign pada Mario.”


Livy terkejut mendengarnya. Dia memang sudah meminta suaminya untuk segera resign dari kantor Mario kemudian masuk ke kantor Papanya. Namun Dewa masih memikirkannya matang-matang, mengingat Mario telah banyak berjasa dalam hidupnya.


“Lalu? Bagaimana tanggapan Kak Mario?” tanya Livy penasaran.


“Dia menerima surat resignku. Ya, meskipun agak berat. Tapi aku yakin dia sangat mengerti.”


“Nggak apa-apa, Mas. aku sangat senang mendengarnya. Baiklah, aku akan memberitahu Papa dan Kak Raffa dengan kabar ini. atau lebih baik kita berkunjung ke rumah Papa saja bagaimana?”

__ADS_1


“Baiklah.”


Livy pun segera beranjak dari pangkuan Dewa. namun tiba-tiba saja ponsel Dewa berdering, ada panggilan dari kakak iparnya, yaitu Raffel.


“Ya, halo?”


“…..”


“Apa? Baiklah. Kami akan segera ke sana.” Pungkas Dewa dengan wajah terkejut.


“Sayang, Papa dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Raffa baru saja mengatakan kalau Papa dirawat di ruangan ICU.”


Air mata Livy pun tumpah begitu saja. bibirnya bergetar menahan suara tangisnya. Entah kenapa perasaannya menjadi tidak tenang dengan kabar buruk yang menimpa Papanya.


“Ayo, kita ke rumah sakit sekarang, Mas!”


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2