
Mata Dewa berkaca-kaca saat melihat bayi mungil itu berada dalam gendongan Abi. sungguh dia tidak menyangka kalau kekhilafan yang ia lakukan bersama majikannya akan membuahkan hasil. Bagaimana ia sampai tidak tahu hal ini. apakah ini yang dinamakan pria tidak bertanggung jawab.
“Jangan menyalahkan diri kamu sendiri! Livy lah yang memutuskan untuk tidak meminta pertanggung jawaban kamu.” Ucap Abi seolah mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Dewa.
“Livy mengetahui kehamilannya sesaat setelah hasil sidang putusan cerainya. Dia masih trauma untuk menjalani rumah tangga lagi. terlebih dia menganggap kalau kamu tidak mencintainya.” Lanjut Abi yang masih menatap Dewa yang hendak menumpahkan air matanya.
“Bolehkah saya menggendongnya, Nyonya?” pinta Dewa mengabaikan ucapan Abi.
Dengan pelan Abi memberikan bayi itu pada Dewa. Begitu pun dengan Dewa. Tangannya sedikit bergetar saat menerima sosok mungil darah dagingnya itu. meskipun ini pengalaman pertamanya, dan masih terasa kaku, ia mencoba tetap tenang saat bayi itu sudah berhasil berada dalam gendongannya.
Air mata Dewa menetes begitu saja saat menggendong bayinya. Bayi itu bahkan terlihat sangat nyaman dalam dekapan Papanya. Mungkinkah bayi itu sudah tahu, atau memang selama dalam kandungan Mamanya sangat merindukan dekapan sang Papa. Dewa semakin erat mendekap bayinya. Ia menciuminya dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu Livy yang berada tak jauh dari Dewa yang sedang menimang bayinya, dia juga ikut behagia melihat pemandangan itu. kini Livy baru sadar akan kesalahannya kenapa tidak sejak dulu mencari keberadaan Dewa. Terbukti saat melihat ekspresi Dewa yang terkejut bercampur kesal terhadapnya tadi.
Cukup lama Dewa menggendong bayinya. Dia masih ingin memeluk bayi itu, namun setelah terdengar suara tangisnya, Dewa terpaksa memberikannya pada Livy. mungkin bayi itu kehausan atau memang kurang nyaman berada di tempat seperti ini.
“Lebih baik kita segera pulang saja. kasihan dia masih butuh tempat yang nyaman dan juga steril.” Ujar Abi memberitahu Livy.
Dua orang pria yang juga berada di sana dan baru saja saling memaafkan atas kesalahan masa lalunya juga sudah tahu dan melihat pemandangan indah itu. terlebih Mario yang sangat terkejut saat mengetahui bahwa asisten pribadinya itu adalah ayah dari anak yang dikandung oleh Livy.
“Kamu pergilah ke rumah Livy! selesaiakan semuanya!” ucap Mario pada Dewa.
Dewa mengangguk. Kemudian ia ikut pergi ke rumah Livy. bagaimana pun juga ia harus tetap bertanggung jawab atas anak yang baru saja dilahirkan oleh Livy. selain itu ada rasa bahagia dalam hati Dewa kalau ternyata Livy sudah resmi bercerai dari Febian. jadi setelah ia bisa memiliki wanita itu seutuhnya. Tentunya setelah menikahinya.
Kini Dewa sudah dalam perjalanan menuju rumah Livy. ia mengendarai mobilnya mengikuti mobil di depannya, yang tak lain mobil Raffael. Mungkin hari ini juga, ia akan meminta Livy secara langsung kepada kedua orang tuanya. Biarlah mendadak dan tanpa mempersiapkan sesuatu. Yang terpenting ia mendapat restu dulu dari kedua orang tua Livy.
__ADS_1
Mobil Dewa memasuki halaman rumah yang begitu megah. Pria itu tidak ada rasa takut sama sekali dengan melihat kediaman Livy. yang terpenting dia membawa cinta yang begitu besar untuk Livy. masalah harta bisa dicari bersama jika kelak ia menjalani hidup berumah tangga dengan wanita itu.
**
Kepulangan Livy dari rumah sakit sudah ditunggu-tunggu oleh Reno sejak tadi. pria yang sudah dipanggil Opa itu sudah tidak sabar menunggu kedatangan cucu keempatnya. Cucu dari anak perempuan satu-satunya.
Benar saja, ternyata Reno sudah berdiri di depan pintu ruang tamu menyambut kedatangan cucunya. Pria itu justru fokus dengan bayi mungil yang sedang berada dalam gendongan istrinya daripada menanyakan kabar Livy. namun Livy juga tidak mempermasalahkan hal itu.
Jelita yang tengah mendorong stoller bayi juga ikut bahagia menyambut kepulanagn Livy dan juga keponakannya. Suasana pun tampak ramai sebelum terdengar suara seseorang baru saja memasuki ruang tamu.
“Selamat sore semuanya!”
Pandangan Reno langsung tertuju pada pria seusia Raffael yang tengah berdiri di depan pintu. Dia juga bingung karena semua orang tampak sudah mengenal pria itu. namun Reno segera sadar kalau pria itu memiliki garis wajah yang mirip dengan bayi yang sedang dalan gendongan istrinya.
“Masuklah, Nak Dewa!” ujar Abi mempersilakan.
Abi membawa masuk cucunya terlebih dulu setelah mempersilakan Dewa duduk. Begitu juga dengan Raffael. Ia mengajak istrinya masuk, membiarkan Dewa bicara dengan kedua orang tuanya, sambil menjaga keponakannya.
Kini Dewa sudah duduk di sofa ruang tamu. Di sana sudah ada Livy, Reno, dan juga Abi. meskipun perangai Dewa yang selalu terlihat tenang, namun untuk saat ini dia merasa gugup saat berada di depan kedua orang tua Livy, terutama Reno.
“Perkenalkan, Tuan! Saya Dewa.” Ucap Dewa membuka obrolan.
Reno hanya mengangguk samar. Pria itu menatap lekat Dewa tanpa memberikan reaksi apapun. Hingga yang ditatap pun semakin gugup. Namun Dewa berusaha tetap tenang.
Abi menyenggol lengan suaminya untuk memberi kode agar bersikap biasa saja. karena Abi tahu kalau suaminya memang sosok pria yang tegas dan tidak suka dengan orang yang bermental lembek.
__ADS_1
“Sebelumnya mungkin anda belum pernah bertemu saya, namun saya yakin kalau anda sudah tahu siapa saya. dan kedatangan saya ke sini ingin melamar putri Tuan untuk menjadi istri saya, sekaligus saya ingin bertanggung jawab atas darah daging saya yang baru saja lahir.” Ucap Dewa dengan tenang dan tegas.
Livy yang berada di ruangan itu sangat terkejut mendengar Dewa memintanya langsung pada Papanya.
Reno menarik sudut bibirnya ke atas. Dia benar-benar melihat sikap gentleman Dewa. Meskipun tanpa membawa apapun, pria itu berani melamar putrinya sekaligus bertanggung jawab atas anak yang baru saja dilahirkan oleh Livy.
“Saya sebagai orang tua Livy tidak bisa menerima begitu saja tanpa meminta persetujuan langsung dari anak saya. bagaimana Livy?” ucap Reno dan beralih menatap Livy yang tiba-tiba menundukkan kepalanya.
“Apa kamu menerima Dewa menjadi suamimu? Apa kamu menerima Dewa menjadi ayah dari anak kamu?” tanya Reno sekali lagi.
Livy mengangkat kepalanya pelan dan menatap Papanya. Dia menganggukkan kepala sebagai jawaban, “Iya, Pa. Livy menerimanya.”
Seketika itu hati Dewa langsung merasa lega. Dia sangat bahagia. Begitu juga dengan Livy yang tengah tersenyum hangat menatap Dewa.
“Maafkan saya kalau saya melamar putri Tuan dengan tangan kosong. Secepatnya saya akan datang ke sini bersama Mama saya.” lanjut Dewa merasa tidak enak.
“Nggak apa-apa, Nak Dewa. Dengan melihat kesungguhan kamu saja, kami sudah cukup senang. Apalagi Livy, bukan begitu Vy?” sahut Abi, seketika membuat wajah Livy merona merah.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!