
Warningggg!!!!😆😆🔥🔥🔥
*****
Usai mengetahui kebohongan yang dilakukan oleh Febian selama ini membuat keadaan Livy tidak baik-baik saja. dalam perjalanan pulang dari café pun wanita itu lebih banyak diam. sampai di kamar hotel pun Livy masih menyimpan kesedihannya. Hingga rasa itu semakin menyesakkan dadanya, akhirnya Livy menumpahkannya dengan suara tangis yang begitu memilukan. Tangis yang hanya ia sendiri yang mendengarnya. Tidak ada satu orang pun yang tahu. Biarlah malam ini air matanya habis karena menangisi kebodohannya yang telah lama ditipu oleh suaminya sendiri. Livy berjanji setelah ini ia tidak akan lagi mengeluarkan air mata itu. dia harus menjadi wanita tegar yang tak mudah diruntuhkan oleh siapapun.
Puas menangisi nasibnya, Livy akhirnya tertidur. Berharap besok saat matanya terjaga, rasa sesak itu sudah perlahan menghilang. Agar dia bisa kuat menghadap kenyataan pahit ini.
Sementara itu Dewa yang diam-diam tadi mengikuti Livy pergi ke café, pria itu dibuat khawatir dengan keadaan Livy. terlebih dia menyaksikan sendiri sedang menangis saat sedang bersama pria asing yang tak ia kenal. Namun Dewa yakin kalau pria itu bukanlah pria jahat. Ia pernah ingat saat Livy pernah mengatakan kalau dia akan menyuruh seseorang untuk mencari informasi tentang Febian. kemungkinan pria itu adalah yang dimaksud.
Dewa masih cemas saat dia mencoba menghubungi Livy yang beberapa saat lalu sudah masuk ke dalam kamarnya. Ponsel Livy masih aktif. Hanya saja panggilan itu diabaikan. Dewa khawatir jika Livy berbuat nekat setelah mengetahui kenyataan tentang suaminya.
Sudah ke sepuluh kalinya Dewa mencoba menghubungi Livy. namun tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya Dewa nekat meminta kartu akses kamar Livy ke resepsionis. Tentunya dengan alasan yang cukup masuk akal.
Cklek
Dewa berhasil membuka pintu kamar Livy. namun sesampainya di sana, suasana kamar Livy tampak sangat gelap. Di kamar mandi juga tidak mendengar suara gemericik air. Namun setelah itu Dewa samar-samar mendengar suara isakan kecil dari tempat tidur.
Perlahan Dewa melangkah mendekati tempat tidur Livy. ternyata di sana ada Livy yang sedang tidur meringkuk sambil terisak. entah Livy sudah tidur namun dalam keadaan menangis, atau wanita itu memang belum tidur.
Hati Dewa juga ikut sedih melihatnya. Bukankah dia pernah meminta Livy untuk tidak lagi menangis. Namun sayangnya wanita itu masih melakukannya. Jadi itu peertanda kalau rasa cintanya pada Febian masih sangat besar.
Dewa akhirnya menaiki ranjang. Dia merebahkan tubuhnya dengan pelan lalu memeluk Livy dari belakanga, agar wanita itu sedikit lebih tenang.
“Aku Dewa. Jangan takut!” bisik Dewa saat merasakan keterkejutan Livy.
__ADS_1
Livy tidak banyak bertanya lagi bagaimana cara Dewa masuk. Karena merasakan pelukan Dewa yang sangat nyaman membuat Livy ingin melupakan sejenak masalahnya.
Dewa masih mengeratkan pelukannya. Lengan kokohnya melingkar pada perut Livy. namun tak lama kemudian Livy berbalik badan, hingga kini keduanya saling berhadapan.
“Terima kasih, Wa!” gumam Livy menguatkan hati.
“Menangislah jika engkau ingin menangis, Vy!” ujar Dewa sambil mengusap lembut kepala Livy.
Livy masih terdiam. Dia justru menikmati sorot mata tajam Dewa yang masih terlihat dalam kegelapan itu. kenapa berada dekat Dewa membuatnya semakin tenang dan nyaman. Apalagi merasakan hembusan nafas hangat Dewa membuat Livy betah di dekat pria itu.
“Wa, aku mencintaimu.” Ucap Livy tiba-tiba.
Dewa sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan itu. walau saat pertama kali Livy mengatakannya dia sempat terbuai. Mungkin saat ini Dewa sudah mulai membentengi hatinya agar tidak jatuh terlalu dalam pada pesona Livy.
Dewa hanya menanggapinya dengan senyuman yang entah Livy bisa melihatnya atau tidak. Namun Livy semakin memeluk erat tubuh kekar Dewa.
Air mata Livy luruh begitu saja saat tak mendapat reaksi apapun dari Dewa. Akhirnya ia melepas ciuman itu dan menjauh dari tubuh Dewa.
“Terima kasih, Wa untuk malam ini. lebih baik, kamu kembali ke kamar kamu saja. tenang saja, aku baik-baik saja.” ucap Livy dengan bibir bergetar.
Tak ingin menunggu Dewa sampai keluar kamar, Livy beranjak lebih dulu masuk ke kamar mandi. di dalam sanalah ia akan mengeluarkan suara tangisnya sekeras-kerasnya tanpa ada yang tahu.
Saat Livy hendak menutup pintu kamar mandi, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengganjal pintu itu. ternyata kaki Dewa lah yang menahan pintu.
“Wa, ada ap,-hmmpppp”
__ADS_1
Belum sempat Livy menyelesaikan ucapannya, Dewa segera menyumpal bibir Livy dengan ciuman kasar. Dewa tidak tahan dengan semua ini. dia ingin menghindar namun rekasi tubuhnya berkata lain. Biarlah malam ini ia khilaf untuk yang kedua kalinya. Setelah ini ia akan benar-benar pergi dari kehidupan Livy.
Meskipun ciuman Dewa begitu kasar, sayangnya Livy ikut membalasnya. Akhirnya ciuman itu semakin panas dan menuntut untuk melakukan lebih dari ini.
Dewa menyandarkan tubuh Livy pada dinding kamar mandi. bibirnya masih bertaut dengan bibir Livy. tangan Dewa sudah mulai bergerak aktif mencari titik rang sang yang akan membuat Livy kembali menggila setelah malam panjangnya kemarin.
Dewa berhasil menanggalkan baju atasan Livy. begitu juga dengan Livy yang juga melepas kancing kemeja Dewa, hingga nampaklah perut sixpacs Dewa.
Akal sehat Dewa sudah hilang. Begitu juga dengan Livy. dengan rakus pria itu melahap dua bongkahan besar di dada Livy secara bergantian. Livy hanya bisa mere mas rambut Dewa sambil mengeluarkan suara-suara seksiinya.
Puas menjamah tubuh bagian atas Livy, Dewa mulai menanggalkan celana bahan Livy. matanya sudah dipenuhi kabut gai rah saat menatap inti Livy yang begitu mulus tanpa penghalang itu. tanpa menunggu lama, Dewa meraup kenikmatan di bawah sana. Menjilatinya dengan lembut, menyesapnya penuh gai rah. Dan Livy lagi-lagi dibuat tak berdaya dengan sentuhan itu.
Cukup lama Dewa berada di bawah sana dengan memberikan kenikmatan tanpa henti, hingga sesuatu milik Dewa yang masih terbungkus sudah menggeliat dan berteriak untuk segera meluncurkan amunisinya. Dewa dengan cepat menanggalkan celananya, lalu mulai melakukan misinya.
Dengan posisi berdiri saling berhadapan, keduanya terus berpacu dalam kenikmatan. Livy benar-benar sangat menikmati permainan Dewa untuk yang kedua kalinya ini. begitu juga dengan Dewa yang sudah mulai kecanduan dengan tubuh Livy.
Livy tak henti-hentinya memanggil nama Dewa di tengah-tengah kegiatan panas itu. Dewa pun semakin bersemangat untuk terus melakukan lebih dari ini. bahkan di tempat yang sama Dewa melakukan dengan posisi yang berbeda-beda. Tentunya selalu membuat Livy terbang melayang ke angkasa.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!