Main Hati

Main Hati
Eps 73 ~ Depresi Berat


__ADS_3

Semua orang yang ada di ruang tengah juga terkejut setelah mendengar ucapan Bibi bahwa mantan mertua Livy sedang bertamu. Livy yang sejak tadi asyik dengan keponakannya, tiba-tiba perasaannya tidak enak. Lalu ia menatap ke arah suaminya di mana raut wajah Dewa terlihat berbeda.


“Baiklah, Bi! Setelah ini kami akan datang menemuinya. Tolong Bibi buatkan minum.” Ujar Abi.


Tak lama kemudian Reno dan istrinya menemui mantan besannya itu. mereka sama sekali tidak mempunyai pikiran yang macam-macam. Hanya beranggapan kalau kedatangan Nyonya Abyasa hanya bersilaturahmi.


“Kalian lanjutkan saja acaranya!” ujar Reno pada anak dan menantunya.


**


Beberapa saat setelah Reno dan Abi menemui Nyonya Abyasa, mereka kembali berkumpul ke ruang tengah di mana acara pesta ulang tahun Kiara belum selesai. ya, walau hanya acara santai yang lebih memgutamakan permainan anak-anak.


Tidak ada yang dikatakan oleh Reno dan Abi setelah bertemu dengan Nyonya Abyasa pada anak-anak merfeka, khususnya Livy. mereka berdua kembali menikmati kebersamaannya bersama sang cucu.


Livy sendiri tidak berani bertanya pada Mama dan Papanya. Yang ada nanti akan membuat suaminya salah paham. Atau mungkin saat tidak ada suaminya, Livy baru berani bertanya pada Mamanya.


Acara pesta ulang tahun kecil-kecilan Kiara pun selesai juga. Livy tampak ikut membantu membereskan kekacauan rumah akibat ulah bocil-bocil khusunya Kiara dan Ethan sang kakak. Karena dua bayi yang masih berusia di bawah lima bulan masih belum bisa membuat kekacauan, kecuali hanya berceloteh ria.


Sedangkan Dewa membawa Cavin masuk ke dalam kamar, karena anaknya sudah tidur sejak tadi.


**


“Vy, bisa Papa bicara sebentar dengan kamu? Papa tunggu di ruang kerja.” Ujar Reno saat melihat Livy baru saja selesai beres-beres.


Livy hanya mengangguk setelah menatap Mamanya yang memberi kode. Tiba-tiba saja perasaan tidak enak itu kembali menghampirinya. Mungkin Papanya akan menyampaikan maksud kedatangan Nyonya Abyasa tadi.


Kini Livy sudah masuk ke ruang kerja Papanya. Di sana tampak Reno sedang duduk di kursi kerjanya sengaja menunggu kedatangan Livy.


“Ada apa, Pa? apa yang ingin Papa bicarakan dengan Livy?” tanya Livy setelah duduk di hadapan Papanya.


Reno tampak menghela nafas sejenak. Sebagai orang tua dia juga bingung, mau menyampaikan kabar ini atau tidak. Terlebih dia juga memikirkan dampak yang akan ditimbulkan. Khususnya pada rumah tangga anaknya.

__ADS_1


“Nyonya Abyasa tadi datang dan menyampaikan kabar tentang Febian.” ucap Reno.


Livy terdiam. Dia sudah menyangka kalau kedatangan mantan mertuanya memang akan membahas masalah Febian. seperti saat Nyonya Abyasa menemui Raina waktu itu.


“Febian saat ini tengah dirawat di rumah sakit jiwa lantaran depresi berat. Nyonya Abyasa tadi memohon pada Papa agar kamu bersedia menemui dia. Setidaknya dengan bertemu kamu, keadaan Febian lebih baik. Papa tidak ada maksud lain, Vy. Tapi Papa tidak pernah mengajarkan anak Papa menaruh dendam pada seseorang. Febian adalah satu-satunya anak sekaligus harapan besar bagi kedua orang tuanya. Mereka juga telah menyadari kesalahan anaknya selama ini pada kamu dan juga Saskia. Untuk itu Papa mohon kamu bisa mengabulkan permintaan Nyonya Abyasa untuk menjenguk Febian. untuk masalah Dewa, kamu bisa bicara baik-baik dengannya. mintalah ijin dengan baik pula agar tidak membuat hubungan kalian salah paham.” Tutur Reno.


Aya hanya mengangguk tanpa berani menyela ataupun menolak tentang apa yang disampaikan oleh Papanya. Setelah itu ia keluar dari ruang kerja Papanya.


**


Malam ini Aya dan suaminya menginap di rumah Reno. Kebetulan memang weekend. Abi dan Reno juga sangat merindukan Calvin. Mengingat Livy memang sempat berkunjung ke rumah orang tuanya saat weekend saja.


Malam ini, usai makan malam bersama seluruh anggota keluarga, Livy masuk lebih dulu ke dalam kamarnya untuk menidurkan Calvin. Sedangkan Dewa masih ngobrol bersama Raffael di ruang tengah.


Livy sengaja tidak turun lagi setelah anaknya tidur. Namun dia juga tidak langsung tidur. Dia menunggu suaminya masuk, karena ada hal penting yang akan dia bicarakan. Yaitu tentang mantan suaminya.


Tak lama kemudian Dewa masuk ke dalam kamar. pria itu tersenyum menghampiri buah hatinya yang sudah tertidur pulas.


“Iya. sepertinya dia kelelahan berceloteh.” Jawab Livy.


Kini Dewa mendekati ranjang di mana istrinya sedang duduk di sana.


“Lalu kenapa Mamanya tidak ikut tidur sekalian, hem? Apa Mama Calvin mau minta jatah ehm ehm?” tanya Dewa sambil mengerlingkan matanya.


“Iya. tapi sebelumnya ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kamu, Mas.”


Dewa pun kemudian duduk di samping istrinya. Dia mendengarkan dengan seksama tentang apa yang sedang diceritakan oleh Livy mengenai keadaan Febian saat ini. Livy juga meminta ijin pada suaminya untuk menemui Febian. tentunya juga seperti yang pernah Livy katakan waktu itu. dia akan menemui Febian dengan mengajak sang suami.


Sebenarnya Dewa merasa ada yang mengganjal hatinya. Namun sebagai manusia dia juga tidak setega itu pada mantan majikannya dulu. Apalagi dia juga ikut bersalah karena merasa kehadirannya dulu membuat retak rumah tangga Livy dan Febian.


Akhirnya Dewa mengijinkan Livy untuk menemui mantan suaminya di rumah sakit jiwa besok. Kebetulan juga dia masih berada di rumah orang tuanya, jadi bisa menitipkan Calvin pada Mamanya untuk sementara waktu.

__ADS_1


**


Keesokan harinya Livy dan Dewa pergi kee sebuah rumah sakit jiwa di mana saat ini Febian dirawat. Sebelumnya Livy sudah bertanya alamat rumah sakit itu pada Nyonya Abyasa. Dan kebetulan juga Nyonya Abyasa dan suaminya sedang berada di sana.


Sesampainya di sana, Livy lebih dulu bertemu dengan salah satu dokter yang menangani Febian. memang Febian sedang mengalami depresi berat. Setiap harinya pria itu selalu memanggil nama Livy dan Saskia. Beberapa waktu yang lalu Raina datang dengan membawa Saskia. Namun keadaan Febian hanya membaik sementara. Jadi kemungkinan besar Febian berharap kedatangan Livy. karena dia telah membuat banyak kesalahan pada mantan istrinya.


Usai berbincang dengan dokter yang menangani Febian, kini Livy mendatangi ruangan di mana mantan suaminya dirawat. Dewa juga ikut.


Livy sangat kasihan melihat pria yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya kini tampak sangat memprihatinkan. Febian sedang duduk di sudut ruangan dengan tatapan kosong. Mulutnya meracau memanggil nama Livy.


“Bi!” panggil Livy menghampiri pria itu.


Mendengar suara seseorang yang sangat ia rindukan, Febian mendongakkan kepalanya. Dia melihat dengan jelas Livy sedang berdiri di hadapannya. tak lama kemudian Febian berdiri dan memeluk Livy dengan erat.


Febian tampak menangis sambil terus menggumamkan kata maaf. Livy bisa merasakan sendiri bagaimana terpuruknya Febian selama ini akibat kesalahannya sendiri.


“Bi, kamu harus sembuh. kamu harus kembali seperti dulu lagi, Bi. Kasihan Mama dan Papa jika kamu terus seperti ini. aku sudah memaafkan kamu.” Ucap Livy mencoba untuk memberi motivasi Febian.


Febian menghentian tangisnya lalu menatap mata Livy. Livy pun mengusap air mata pria yang dulu sangat egois selama hidup berumah tangga.


“Kamu harus sembuh, Bi! Aku akan selalu ada di sampingmu. Membuatmu kembali seperti dulu lagi.” ucap Livy.


Dewa yang sejak tadi menyaksikan interaksi dua orang itu, memilih untuk pergi meninggalkan ruang rawat Febian. entah kenapa hatinya sakit meihat itu semua.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2