Main Hati

Main Hati
Eps 71 ~ Cemburu part 2


__ADS_3

Kini Dewa dan Livy sedang dalam perjalanan pulang ke apartemennya setelah menghadiri acara pernikahan Mario dan Raina. Keduanya saling diam dengan pemikiran masing-masing. Sebenarnya Livy ingin sekali bertanya pada suaminya mengenai ucapan Dewa tadi yang tidak mengijinkan dirinya untuk menjenguk Febian. padahal Livy juga belum tentu akan menjenguk mantan suaminya itu.


Livy mengurungkan niatnya untuk bertanya pada suaminya, apalagi saat ini Dewa tampak diam dan takut jika pria itu sedang marah. Apalagi saat ini Calvin sedang tidur dalam gendongannya. Livy tidak ingin terjadi sesuatu pada anaknya jika mendengar perdebatan kecil dengan suaminya.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di apartemen. Livy segera keluar dari mobil, sedangkan Dewa membawa perlengkapan Calvin, seperti tas yang berisi pakaian dan juga diapers.


Sesampainya di unit apartemen, Livy segera masuk ke dalam kamar. wanita itu meletakkan si buah hatinya yang masih tidur pulas ke dalam box’nya. Kemudian Livy membersihkan tubuhnya sejenak, dan berganti baju.


Livy keluar dari kamar, dia tidak melihat keberadaaan suaminya. mungkin Dewa sedang berada di ruang kerjanya. Karena Livy memang sudah tahu kebiasaan suaminya jikalau hatinya sedang resah, pria itu akan berdiam diri di ruang kerjanya. Seperti halnya sekarang ini. livy tahu kalau Dewa marah sekaligus cemburu saat mendengar ucapannya tadi dengan Raina yang membahas Febian.


Sebelum Livy masuk ke ruang kerja suaminya, Livy lebih dulu pergi ke dapur untuk membuat kopi buat suaminya.


Cklek


Livy masuk ke ruang kerja Dewa dengan membawa nampan berisi kopi. Di sana tampak Dewa sedang berdiri didepan jendela sambil pandangannya tertuju ke luar. Meskipun dia mendengar suara langkah seseorang memasuki ruang kerjanya, namun Dewa mengabaikannya.


“Mas, ini aku buatkan kopi.” Ujar Livy sambil meletakkan kopi di atas meja kerja sang suami.


Livy tampak menghembuskan nafasnya pelan. Melihat sikap suaminya seperti ini, sudah bisa dipastikan kalau pria itu sedang galau. Yang pasti dirinyalah penyebabnya.


Rasa cemburu itu pasti dimiliki oleh semua orang. Termasuk Dewa yang saat ini sedang mengalaminya. Dan cemburu itu bukan tolak ukur untuk seseorang yang sudah berpikiran dewasa atau belum. Namun cemburu adalah bukti rasa cinta seseorang untuk pasangannya, atau seberapa besar kadar cinta seseorang terhadap pasangannya. Apalagi Dewa, yang belum lama ini bersatu kembali dengan Livy, wanita pujaannya. Terlebih dia ingat dengan jelas bagaimana hubungan istrinya dulu dengan mantan suaminya. jelas, Dewa sangat cemburu dan takut kehilangan, atau terjadi sesuatu hal yang tidak dia inginkan jika istrinya menemui mantan suaminya.

__ADS_1


“Mas!” lirih Livy dengan tangan yang sudah melingkar pada perut Dewa.


Livy memeluk suaminya dari belakang. Mencium punggung Dewa sambil ikut menyelami bagaimana perasaan pria itu saat ini.


“Maafkan aku tentang ucapanku dengan Raina tadi yang sempat kamu dengar. Yang tak lain membahas Febian. maafkan aku jika membuatmu cemburu lagi saat membahas pria masa laluku.”


Dewa tampak memejamkan matanya. kemudian dia melepas genggaman tangan istrinya yang sedang melingkar pada perutnya. Setelah itu Dewa berbalik badan menghadap sang istri. Dewa segera menarik Livy ke dalam pelukannya.


“Aku takut, Sayang. Aku takut kehilangan kamu, jika kamu menemui dia. Aku takut dia memintamu kembali. Meskipun aku tahu perasaan kamu terhadap dia sudah musnah, aku tetap khawatir jika hal itu benar-benar terjadi.” Ucap Dewa sambil mengeratkan pelukannya.


Livy terdiam menikmati hangatnya pelukan sang suami, dan membiarkan pria itu mengungkapkan isi hatinya yang telah membuat galau sejak tadi.


Livy masih diam. setelah beberapa saat tak lagi mendengar Dewa bicara, barulah ia mengurai pelukannya. Kemudian Livy mendongak, menatap intens mata suaminya. kemudian Livy meraih salah satu tangan suaminya dan ia letakkan tepat pada dadanya.


“Kamu tahu, Mas? di dalam sini hanya ada nama kamu. Dan sampai kapan pun yang ada di hati ini hanya kamu. Percayalah, dan kamu jangan pernah takut kalau cinta ini terbagi. Kecuali dengan anak-anak kita. Aku sangat tahu yang kamu rasakan saat ini. tapi, sedikitpun aku sudah tidak memiliki perasaan pada dia. Aku hanya iba sebagai sesama manusia. Aku tidak akan datang menjenguknya tanpa ijin dari kamu, Mas.” ucap Livy sungguh-sungguh.


Seketika itu hati Dewa merasa sangat lega. Kemudian dia kembali menarik Livy ke dalam pelukannya, sambil menciumi pucuk kepala Livy.


“Maafkan aku sekali lagi, Sayang jika cemburuku berlebihan dan membuatmu tidak nyaman.”


Livy hanya mengangguk dalam pelukan suaminya. kini perasaan Dewa sudah lebih tenang. Dia mengurai pelukan istrinya, lalu menuntun Livy untuk duduk di sofa sambil menikmati kopi buatan Livy baru saja.

__ADS_1


“Kopi buatan kamu sangat enak, dan rasanya selalu pas.” Puji Dewa setelah meneguk kopinya.


“Istri siapa dulu.” Jawab Livy dengan bangganya.


Dewa mengacak rambut Livy dengan gemas. Sungguh dia sangat bersyukur memiliki istri seperti Livy yang begitu sabar saat menghadapi dirinya.


“Sayang, bagaimana kalau minggu depan kita menginap di rumah Mama? tadi Raffael bilang kalau minggu depan hari ulang tahun Kiara. Katanya ada pesta kecil-kecilan.”


“Benarkah, Mas? astaga, aku kok lupa ya sama hari ulang tahun keponakanku. Baiklah, nanti kita siapkan kado untuk Kiara sebelum kita pergi ke rumah Mama.”


Dewa mengangguk, kemudian dia meneguk lagi kopinya. Tak lama kemudian mereka mendengar suara tangisan Calvin yang begitu kencang. Livy segera berlari keluar ruang kerja suaminya, untuk melihat anaknya yang baru saja bangun.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2