Main Hati

Main Hati
Eps 67 ~ Minta Maaf


__ADS_3

“Kamu pilih keluar dari kamar ini atau aku yang pindah di kamar tamu?” ucap Livy dengan suara tegas sambil menenangkan Calvin yang badannya tiba-tiba menghangat.


“Maaf! Aku tidak bermaksud mengganggu tidur Calv,-“


Belum sempat Dewa menyelesaikan ucapannya, Livy keluar begitu saja dari kamarnya, meninggalkan Dewa dengan perasaan jengkel. Sedangkan Dewa sendiri merasa sangat bersalah karena telah mengusik ketenangan anaknya.


Setelah keluar dari kamarnya, Livy masuk ke kamar satunya. Calvin sendiri masih terus menangis karena badannya demam. Mungkin efek pertama kali diajak keluar jalan-jalan, jadi membuat suhu badannya naik.


Berbagai upaya Livy lakukan agar Calvin tidak menangis lagi. bayi yang seuisia dia memang hanya ASI obat yang paling mujarab. Namun jangankan minum, dihadapkan dengan sumber kehidupannya saja Calvin menolak. Dan nangisnya semakin kencang. Apa itu artinya dia bisa merasakan emosi Mamanya terhadap sang Papa.


Livy terus menimang-nimang Calvin berusaha untuk menenangkannya. Waktu sudah sangat malam dan demamnya kian lama kian bertambah. Apa sebaiknya ia membawa ke rumah sakit.


Cklek


Dewa samar-samar mendengar suara tangis anaknya pun tak tahan untuk tidak masuk kamar tamu, walau sebelumnya sang istri sudah menghindarinya.


“Sayang, kenapa dia nangis?” tanyanya mendekat dan berusaha meraih Calvin dari gendongan istrinya.


“Badannya demam? Kenapa kamu diam saja sejak tadi? kenapa nggak bilang sama aku? bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Calvin?”


Dewa yang panik tanpa sadar ucapannya telah melukai perasaan istrinya. Dia segera menggendong Calvin dan membawanya keluar berniat untuk dibawa ke rumah sakit. Namun saat Dewa baru saja sampai depan pintu kamar, tangis Calvin semakin keras.


Livy berusaha menahan amarahnya. Dia mendekati suaminya, lalu mengambil Calvin lagi dari gendongan Dewa.


“Dia butuh ketenangan, daripada berada dalam kubangan emosi yang justru akan semakin memperparah keadaannya. Aku juga bukan ibu yang bodoh yang membiarkan anakku sakit.” Ucap Livy lalu menimang Calvin.


Dewa tertohok dengan ucapan istrinya baru saja. padahal sejak tadi dirinya terus berada di ruang kerja dan tidak tahu apa yng terjadi dengan anaknya. ingin sekali dia mendekati Livy yang sedang memberi ASI untuk anaknya, dan meminta maaf. Namun rasanya waktunya tidak tepat.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian tangis Calvin sudah mereda. Bayi itu juga sudah mau meminum susunya. Livy pun bisa bernafas lega. Dengan begitu demam anaknya sebentar lagi turun.


Sedangkan Dewa sejak tadi juga berada di kamar itu sambil memperhatikan istrinya. Dia masih diam dan tidak berani mengajak Livy bicara, karena takut akan mengganggu tidur Calvin.


Calvin masih berada di dalam gendongan Livy. dia tidak berani meletakkan bayinya, khawatir jika Calvin bangun dan rewel lagi. akhirnya Livy naik ke tempat tidur, dan tidur sambil menggendong Calvin. Dewa bergerak cepat. Mungkin untuk menebus kesalahannya, ia segera menyiapkan bantal agar posisi tidur istrinya tampak nyaman walau sambil menggendong.


Livy pun tidak berkomentar apa-apa. Badannya sudah lelah dan kantuk sudah mulaai menyerang. Asal Calvin sudah tidak rewel lagi dan demamnya turun sudah membuat ia sangat bersyukur.


Dewa juga akhirnya ikut naik ke tempat tidur. Dia terjaga demi menemani istrinya yang sedang menjaga Calvin. Walau yang ditemani sudah tidur.


“Maafkan aku!” lirihnya lalu mengusap lembut badan Calvin, berharap sang anak tidk bangun lagi sampai pagi menjelang.


**


Pukul enam pagi Dewa terjaga lebih dulu. Ternyata semalam ia ikut tidur di samping istrinya. Untung saja ia terbangun lebih dulu di saat Livy masih pulas. Begitu juga dengan Calvin.


Setelah masak dalam waktu singkat, Dewa mandi kilat. Lalu ia bergegas masuk ke kamar tamu untuk melihat istrinya sudah bangun apa belum. Tak lupa ia membawa segelas susu hangat untuk istrinya agar badan Livy lebih fresh.


“Sayang, kamu sudah bangun?” tanyanya saat baru saja masuk, dia melihat Livy turun dari ranjang.


Sedangkan Calvin yang masih pulas, diletakkan di atas kasur. Mungkin badan bayi itu sudah lebih baik. Jadi sangat nyaman dan tidak terganggu saat pindah tempat tidur yang awalnya dari gendongan sang Mama, kini berada di atas tempat tidur.


“Minumlah dulu agar badan kamu lebih fresh!” Dewa memberikan segelas susu hangat.


Livy menerimanya begitu saj tanpa banyak bicara. Lalu meminumnya dengan sekali tegukan dan berhasil membuat tubuhnya lebih enak.


“Kamu mandi dulu, biar Calvin aku yang jaga!” ujar Dewa pengertian.

__ADS_1


Livy hanya menganggukkan kepala, lalu beranjak keluar kamar sesuai perintah suaminya. dan dia masuk ke kamarnya sendiri untuk segera mandi. setelah itu memasak, sebelum Calvin terbangun. Bagaimana pun juga ia harus masak untuk suaminya. walau semalam sudah dibuat kesal oleh Dewa.


Livy sangat terkejut saat memasuki dapur dan di atas meja makan sudah tersaji menu masakan yang menggugah seleranya. Apakah semua ini hasil masakan suaminya. perlahan hatinya menghangat saat melihat usaha keras Dewa.


Akhirnya Livy masuk ke kamar tamu untuk melihat keadaan Calvin. Ternyata anaknya sudah bangun dan sedang dalam gendongan Papanya. Bayi itu terlihat baik-baik saja saat Dewa sedang mengajaknya berceloteh.


“Apa dia masih demam?” tanya Livy menghampiri suaminya.


“Tidak. Kamu lihat sendiri kan dia sudah terlihat ceria.” Jawab Dewa sambil menunjukkan wajah Calvin yang sedang tersenyum sambil memainkan lidahnya.


“Biar aku gendong. Dia pasti haus.”


Dewa pun memberikan Calvin pada istrinya. Setelah itu Livy duduk memberikan ASI untuk sang buah hati, dengan Dewa ikut duduk di samping Livy.


“Maafkan atas sikap egoisku semalam! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” ucap Dewa sambil merengkuh tubuh istrinya.


“Kamu sudah menikah dan punya anak, Mas. seharusnya bisa berpikir dewasa tentang hal yang penting dan tidak penting. Cemburumu tidak mendasar kalau hanya mendengar Mama Febian menyebut nama Febian yang belum kamu ketahui kelanjutannya.”


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2