Main Hati

Main Hati
Eps 6 ~ Dewa Khawatir


__ADS_3

Baik Bi Ratih maupun Dewa sama-sama terkejut dengan kedatangan Livy di dapur. Namun yang lebih terkejut sekaligus takut adalah Bi Ratih. Wanita itu takut jika majikannya mendengar apa yang baru saja ia katakan pada Dewa. Atau lebih tepatnya sedang membicarakan Livy.


“Maaf, Nona. Saya tidak tahu kalau sekarang sudah jam sebelas.” Sahut Dewa.


“Ini belum jam sebelas. Tapi aku mau pergi sekarang.” ucap Livy melirik jam tangannya.


Dewa pun segera bersiap. Livy keluar dari dapur tanpa mengucap sesuatu. Sedangkan Dewa masuk ke kamarnya sebentar untuk menukar bajunya yang sedikit lebih sopan. Karena tadi hanya memakai kaos oblong dengan jaket.


Sementara Bi Ratih tampak bernafas lega. Livy jelas tidak mendengar apa yang baru saja dia bicarakan dengan Dewa. Wanita itu juga merutuki kecerobohannya. Bisa-bisanya dia mengajak Dewa ngegosipin majikannya.


Livy duduk di ruang tamu sembari menunggu Dewa. Dia juga sedang berbalas pesan dengan kakaknya mengenai beberapa pekerjaan kantor. tak lama kemudian Dewa datang.


“Maaf, membuat Nona menunggu.” Ucap Dewa yang baru saja masuk ruang tamu.


Sumpah demi apapun mata Livy sampai tidak bekedip saat melihat penampilan Dewa. Benarkah pria itu sopir pribadinya. Apakah ada sopir pribadi yang dandanannya styilist seperti itu. walau Dewa hanya mengenakan kemeja hitam dan celana jeans berwarna senada. Tapi bukankah Livy sudah mengatakan kalau dia melarang Dewa mengenakan seragam. Dia tidak suka hal-hal berbau formal.


“Nona Livy!” seru Dewa membuyarkan lamunan Livy.


“Sudah, ayo buruan! Ini kunci mobilnya. Setelah ini kamu bawa terus.” Ucap Livy dengan gugup.


Dewa sendiri terlihat biasa saja. dia juga merasa tidak ada yang aneh dengan penampilannya. Setelah itu dia berjalan mendahului Livy untuk membukakan pintu mobil untuknya. Dan saat Dewa sudah membukakan pintu mobil untuk Livy, wanita itu meminta duduk di depan di samping sopir. Hal itu membuat Dewa terkejut sekaligus tidak tenang.


“Aku biasa duduk di depan.” Ucap Livy.


Mau tak mau Dewa pun membukakan pintu depan lalu mempersilakan Livy masuk. Setelahnya, Dewa berjalan memutar dan masuk ke bagian kemudi.


Dewa merasa tidak nyaman. Namun mulai hari ini dia harus membiasakan dirinya.


“Antar aku ke panti asuhan Kasih Ibu dulu!” ucap Livy dan diangguki oleh Dewa.

__ADS_1


“Oh iya, kamu pasti akan melaporkan semua kegiatan kamu hari ini pada suamiku kan, Wa? Aku minta jangan bilang ke Febian jika aku pergi ke panti asuhan. Ini juga kegiatan rutinku, tapi sengaja tidak aku tulis di catatan tadi.”


“Baik, Nona.” Jawab Dewa dengan anggukan kecil.


Pria itu tidak mau bertanya macam-macam. Dia cukup bekerja dengan baik sesuai perintah majikannya, dan yang paling penting dapat gaji.


Setibanya di panti asuhan, Livy meminta Dewa ikut turun dan masuk ke sana. Karena memang tugas bodyguard adalah mengikuti kemana pun majikannya pergi.


Kedatangan Livy sudah disambut hangat oleh beberapa anak panti. Mereka berebut memeluk Livy. Begitu juga dengan Livy. Dia memeluk satu per satu anak-anak panti itu. kebanyakan dari mereka usianya masih di bawah enam tahun. Sedangkan yang usianya di atas enam tahun kalau jam segini pasti sedang berada di sekolah.


“Selamat siang, Nona Livy!” sapa Bu Deana selaku pengasuh panti asuhan.


Bu Deana menyambut hangat kedatangan Livy sekaligus donatur terbesar di panti asuhan itu. mereka pergi bekeliling melihat beberapa anak panti yang sedang bermain dan sebagian ada yang sedang belajar.


Bu Deana melirik ke arah Dewa yang sejak tadi mengikuti Livy.


“Dia Dewa, Bu. Sopir baru saya. Pak Dirman sudah resign. Jadi dia gantinya.” Ucap Livy memberitahu.


Sementara itu Livy dan Bu Deana sedang berbincang-bincang sambil melihat anak-anak panti yang sangat ceria sedang bermain.


Livy menatap nanar pada anak-anak yang selalu tampak ceria itu. mereka semua tidak memiliki orang tua dari mereka masih bayi. Tapi mereka sama sekali tidak pernah menanyakan keberadaan orang tuanya. Karena memang mungkin anak-anak seusia itu masih belum terlalu paham tentang arti hadirnya orang tua.


Berbeda dengan yang Livy rasakan. Di saat anak-anak panti harusnya membutuhkan kasih sayang orang tua, justru Livy malah mengharapkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangganya.


Tidak ada masalah apapun dengan kandungan Livy ataupun kesehatan Febian. Mereka cukup sehat jika untuk mendapatkan seorang anak. Namun sayangnya Febian lah yang tidak mengharapkan seorang anak dari sebuah pernikahan.


Sebelum menikah dengan Febian dulu, Livy sangat berharap dalam pernikahannya kelak akan cepat mendapatkan momongan. Dia membayangkan kalau rumahnya pasti akan ramai dengan celotehan anak kecil yang selalu membuat hari-harinya bahagia. Namun ternyata harapan itu dipatahkan oleh Febian. Suaminya sendiri.


Sebelumnya antara Livy dan Febian tidak pernah membicarakan hal itu. namun di saat malam pertama tepat di hari pernikahannya. Saat itu mereka sedang melakukan ritual panas malam pertama yang sering dilakukan kebanyakan pengantin. Livy sangat terkejut saat tiba-tiba Febian menggunakan alat pengaman di saat sedang bertempur untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Kegiatan panas itu tetap berlanjut dengan menyimpan banyak pertanyaan dalam benak Livy. Setelah keduanya selesai, barulah Febian menjelaskan smeuanya pada Livy.


“Sayang, dengarkan aku! kamu jangan salah sangka dulu.” Ucap Febian menatap dalam mata istrinya.


Perasaan Livy yang sudah terlanjur kecewa terhadap Febian mencoba untuk baik-baik saja dan mendengarkan semua penjelasan Febian.


“Maaf, aku melakukannya menggunakan pengaman karena aku tidak mau memiliki anak terlebih dahulu dalam pernikahan kita. Katakan aku egois dan tidak mengatakan ini sebelumnya pada kamu. Tapi aku melakukan karena aku sangat mencintaimu, Livy. Aku tidak ingin cintaku terbagi dengan hadirnya anak yang nantinya akan membagi perhatian kamu. Maafkan aku. kumohon kamu mau sepakat dengan keinginanku ini.” ucap Febian panjang lebar.


Mengingat itu semua, Livy kembali bersedih. Wanita itu sampai menangis tergugu. Baru kali ini ada kisah rumah tangga yang dialami seperti Livy dan Febian. Livy sendiri juga tidak pernah mengajak bicara lagi dengan Febian untuk membahas anak. Mungkin karena rasa cintanya yang terlalu besar pada pria itu, membuatnya cukup nyaman dengan perhatian dari Febian. Dan tidak ada orang lain yang tahu mengenai permasalahan rumah tangganya selain Bu Deana.


“Non Livy, yang sabar ya! Ibu juga tidak bisa membantu banyak.” Ucap Bu Deana.


“Tidak, Bu. Ibu tidak perlu membantu apa-apa.”


“Nona! Ada apa? Bu, apa yang anda lakukan terhadap Nona saya?” ucap Dewa tiba-tiba menghampiri Livy dan Bu Deana.


Sejak tadi Dewa memang terus memperhatikan Livy yang sedang duduk bersama Ibu pengasuh panti. Namun tak lama kemudian dia melihat Livy sedang tertunduk dan mengusap air matanya. jelas Dewa khawatir. Dia takut terjadi sesuatu dengan Livy. Karena apa pun yang terjadi dengan Livy adalah tanggung jawabnya.


“Maaf, saya tidak,-“


“Saya tidak segan-segan untuk,-“


“Cukup Dewa! Aku baik-baik saja. kamu keluar lah dulu! Setelah ini antar aku ke mall.” Pungkas Livy tak ingin membuat kegaduhan di dalam panti asuhan itu.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2