Main Hati

Main Hati
Eps 36 ~ Keputusan Livy


__ADS_3

Dewa menggendong Livy masuk ke kamar setelah keduanya menghabiskan malam keduanya di dalam kamar mandi. bahkan Dewa juga yang memakaikan baju untuk Livy. setelah itu mereka tidur bersama.


Pagi harinya Livy dan Dewa sudah bersiap untuk pulang. karena memang pekerjaan Livy di kota ini sudah selesai. kini waktunya dia menyelesaikan masalahnya dengan Febian.


Livy tidak ingin membagi masalahnya dengan Dewa. Termasuk bukti akurat yang ia terima dari orang suruhannya. Mungkin dia tidak ingin Dewa masuk terlalau dalam pada keretakan rumah tangganya. Apalagi Dewa sampai dituduh jadi pihak ketiga.


Sedangkan Dewa sendiri juga tidak ingn bertanya tentang pertemuan Livy semalam dengan pria asing. Dia hanya menduga-duga saja. selebihnya dia tidak ingin ikut campur.


Sepanjang perjalanan pulang, Dewa bersikap begitu manis pada Livy. pria itu layaknya seorang suami siaga pada istrinya yang jika minta apapun akan segera dituruti. Livy pun sangat senang diperlakukan seperti itu oleh Dewa.


“Hari ini kamu aneh sekali, Wa. Apa kamu sedang kesambet?”


“Nggak juga. ya sudah kalau kamu nggak nyaman aku perlakukan seperti ini.” jawab Dewa pura-pura kesal.


“Eh, nggak kok. Aku senang.” Sahut Livy dengan pipi merona. Terlebih dia masih ingat dengan kegiatan panasnya semalam.


Dewa kembali mengulas senyum termanisnya. Setelah itu mengecup kening Livy. entahlah, hati Dewa saat ini sedang tidak nyaman. Apalagi setelah ini dia berniat pergi dari kehidupan Livy. dia berharap wanita itu akan menemui kebahagiaannya bersama suaminya. meskipun dalam lubuk hatinya terdalam, Dewa tidak rela.


***


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di bandara. Mereka segera pulang ke rumah. karena Livy lah yang meminta untuk tidak ke kantor terlebih dulu, melainkan ke rumah dan menemui suaminya. kalaupun Febian sudah ada di kantor, dia akan mendatangi pria itu.


Mobil yang dikemudikan oleh Dewa kini sudah memasuki halaman rumah. Livy juga melihat kalau mobil suaminya masih ada di rumah. itu artinya Febian belum berangkat ke kantor. tapi kenapa? Tidak biasanya pria itu belum berangkat ke kantor sesiang ini.


Kini Livy sudah keluar dari mobil. Sedangkan Dewa membuka bagasi untuk mengambil koper Livy. saat Livy hendak masuk ke rumah, tiba-tiba saja Febian keluar rumah dengan wajah yang panik dan disusul oleh Raina yang menggendong Saskia sedang kejang.


Langkah Livy terhenti begitu saja menyaksikan kepanikan suaminya. hatinya semakin sakit melihat Febian dengan kenyataan yang sudah ia ketahui.


“Sayang, kamu sudah pulang?” Febian terkejut melihat istrinya.


“Kak, ayo buruan! Saskia butuh pertolongan cepat.” Sahut Raina mengabaikan kedatangan Livy.

__ADS_1


Bukan niat Raina bersikap acuh pada Livy, namun keadaan Saskia lah menyebabkan dia sangat panik, sampai tidak menyadari kedatangan Livy.


Livy hanya menatap datar pada dua orang di hadapannya itu. bahkan Livy sama sekali tidak ingin tahu apa yang terjadi dengan Saskia.


“Na, kamu akan diantar oleh Dewa.” Ucap Febian kemudian dan melirik ke arah Dewa yang sedang membawa koper istrinya.


“Tapi, Kak. Saskia sangat membutuhkan Kak Bian. Bagaimana pun juga dia bisa nyaman dengan ayah kandungnya.”


Duarrr


Febian sangat terkejut mendengar ucapan Raina baru saja. ucapan yang akan membawa malapetaka besar dalam rumah tangganya. Febian menatap murka pada Raina. Bahkan dia hendak menampar wanita itu kalau saja Livy tidak menahannya.


“Nggak usah marah! Aku sudah tahu semuanya. Lebih baik kamu antar anak kamu dulu ke rumah sakit. Setelah ini kita bahas masalah perpisahan kita.” Ucap Livy dengan tenang, lalu berjalan masuk melewati Febian dan Raina yang masih tercengang setelah mendengar ucapan Livy baru saja.


Setelah Livy masuk ke dalam rumah diikuti oleh Dewa, kini Febian menatap tajam pada Raina yang seolah sengaja bicara seperti itu agar rumah tangganya hancur.


“Puas kamu? Puas, hah?” teriakan Febian yang begitu keras masih bisa didengar oleh Livy dari dalam. Namun Livy mengabaikannya.


**


Dan di sini lah Febian dan Livy sekarang. di ruang tengah. Livy masih duduk santai dan belum mengganti pakaiannya. Mungkin Livy sudah tahu kalau suaminya akan menyusulnya masuk. Dan saat ini Febian sudah duduk bersimpuh di hadapan Livy.


“Sayang, maafkan aku! aku harap kamu tidak serius dengan ucapan kamu tadi.” ucap Febian memohon.


Livy masih diam. mengabaikan Febian yang duduk bersimpuh seperti itu. bahkan air mata Livy sudah tidak keluar lagi. mungkin dia sudah lelah dengan keadaan ini. dan air matanya terlalu berharga jika hanya untuk menangisi pria egois sekaligus pembohong seperti Febian.


“Maafkan aku. baiklah aku akan jujur dan mengatakan semuanya,-“


“Tidak perlu! Aku tidak suka mendengar sesuatu yang diucapkan berulang-ulang.” Sahut Livy memotong ucapan suaminya.


Wajah Febian seketika pias. Melihat sikap dingin istrinya membuatnya semakin takut akan keputusan Livy setelah ini. sedangkan Livy kini membuka kopernya dan mengambil amplop coklat berisi data semua informasi tentang Febian juga beberapa bukti kuat.

__ADS_1


Livy mengambil salah satu foto dimana Febian sedang berada di rumah sakit mengantar Raina akan melahirkan. Di sana juga ada Tuan dan Nyonya Abyasa.


“Aku sudah tahu semuanya. Kalian berdua pernah terlibat skandal besar. Kamu, dan kedua orang tua kamu selama ini telah membohongiku, juga keluargaku. Dan mulai saat ini, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.” ucap Livy dengan suara tegas.


“Vy, kumohon jangan bilang seperti itu. aku sangat mencintaimu. Aku minta maaf. Aku sama sekali tidak pernah menganggap Saskia. Aku sudah meminta Raina untuk menggugurkan janinnya saat itu. tapi dia tidak mau. Aku janji setelah ini aku mau memiliki anak dari rahimmu.” Jawab Febian semakin membuat Livy murka.


“Kamu pikir aku senang mendengar ucapanmu itu? Ingat Febian, Saskia adalah darah dagingmu. Dia tidak bersalah. Lebih baik kamu memperbaiki kesalahan kamu pada Raina dan anaknya saja. dan keputusanku sudah bulat.” Ucap Livy kemudian segera berajak menarik kopernya menuju keluar rumah.


“Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu!” teriak Febian frustasi.


Livy hanya menoleh sekilas, setelah itu kembali melanjutkan langkahnya keluar rumah.


Livy sama sekali tidak peduli dengan ucapan suaminya. dia tetap menginginkan perceraian itu, bagaimana pun caranya. Dan mulai hari ini juga Livy akan keluar dari rumah mewah yang selama ini sudah ia singgahi bersama Febian.


“Kamu mau kemana? Ayo aku antar!” Dewa mengejar Livy, karena dia sejak tadi menyaksikan pertengkaran suami istri itu.


“Mana kunci mobilku, Wa! Aku akan pulang ke rumah orang tuaku.” Jawab Livy menahan tangisnya.


“Biar aku antar!”


“Tidak, Wa! Pergilah! Aku butuh waktu sendiri.” Ucap Livy dengan nada membentak, karena hatinya benar-benar kacau saat ini.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2