
🔥🔥😉
Usai sepasang suami istri itu saling memaafkan, kini keduanya sudah berada di meja makan untuk menikmati sarapan pagi mereka. Badan Calvin yang sudah tidak demam lagi membuat Livy lega. Dia meletakkan Calvin pada stoller di sampingnya. Pagi ini dia tidak memandikan Calvin dulu. Mungkin agak siangan nanti baru Livy akan menyeka tubuh Calvin setelah menjemurnya sebentar pada balkon kamarnya.
Livy mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Makanan hasil olahan suaminya cukup memanjakan lidahnya. Apalagi perutnya yang bangun tadi sudah kelaparan.
“Bagaimana? Apa masakanku enak, Sayang?” tanya Dewa saat melihat istrinya hanya diam saat memakan hasil masakannya.
“Enak, Mas. aku baru tahu kalau kamu juga jago masak.” Jawab Livy dengan pujian.
“Kamu lupa kalau sejak dulu aku tinggal sendiri? Jadi semuanya aku kerjakan sendiri, termasuk memasak.” Ujar Dewa tersenyum menatap istrinya.
Livy juga membalas dengan sanyuman. Dia memang tahu kalau kehidupan Dewa sejak dulu sangat keras. Semua itu akibat dari ulah orang tuanya. Bagi Livy cukup suaminya saja yang merasakan kerasnya hidup. Dia berharap anak-anaknya nanti tidak akan mengalami hal serupa. Karena sebagai orang tua yang berbekal dari pengalaman masa lalu, tentu saja Livy sangat percaya jika suaminya tidak akan membiarkan masa lalu buruk itu terjadi pada anak-anaknya kelak.
“Mas, boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh. Tapi bayar ya?” kelakar Dewa sambil mengunyah makanannya.
“Ya sudah nggak jadi tanya kalau harus bayar.” Gerutu Livy dengan mencebikkan bibirnya.
“Aku hanya bercanda, Sayang. Mau tanya apa hem?”
“Apa kamu nggak ingin mengenalkan aku pada Papa mertuaku?”
Pertanyaan Livy berhasil membuat Dewa bungkam. Memang harusnya dia menemui Papanya yang entah dimana sekarang. sudah keluar dari penjara atau belum. Sebagai anak yang tahu balas budi, harusnya Dewa tidak melupakan sosok yang pernah menjadi pahlawan dalam keluarganya itu. meskipun sang Papa pernah menelantarkannya. Apalagi Mamanya juga waktu itu tidak mau diajak untuk mencari tahu.
“Maafkan aku, Sayang. Iya, aku akan mengenalkan kamu pada Papa. Tapi tunggu waktu yang tepat, ya?” jawab Dewa sambil mengusap lengan istrinya. Livy menjawabnya dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Dewa bersiap untuk berangkat bekerja. Seperti biasa, Livy akan menyiapkan segala keperluan sang suami.
“Aku berangkat dulu, ya? Kalau ada apa-apa dengan Calvin, cepat hubungi aku.” ucap Dewa sebelum berangkat.
“Kamu tenang saja, Mas. ya sudah hati-hati!”
Livy mencium punggung tangan suaminya lalu Dewa mencium kening Livy. tak lupa mencium pipi Calvin sejenak yang sedang pulas dalam tidurnya.
***
Dewa sudah sampai di kantor. hari ini dia menggantikan beberapa pekerjaan bosnya, termasuk meeting dengan para staff perusahaan. Mengingat beberapa hari lagi Mario akan menikah, jadi pria itu sedang melakukan persiapan pernikahannya. Jadi hari ini pria itu tidak datang ke kantor.
Pekerjaan demi pekerjaan teratasi dengan lancar tanpa kendala apapun. Meskipun Mario tidak datang ke kantor, Dewa tetap melaporkan perkembangan meeting hari ini. jelas Mario sangat berterima kasih pada Dewa karena telah banyak membantunya dalam menghandle perusahaan akhir-akhir ini.
Usai memberikan laporan pada Mario, Dewa sudah tidak ada lagi pekerjaan. Jam masih menunjukkan pukul tiga sore. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang lebih awal. Mario tadi juga sudah memperbolehkannya untuk pulang.
Dewa kini sudah bersiap untuk pulang. dia sudah merindukan si buah hatinya setelah semalaman demam. Seharian ini tadi Livy juga tidak memberi kabar apapun. Dewa berharap Calvin baik-baik saja.
Dewa masuk ke unit apartemennya, namun suasana tampak sangat sepi. Berulangkali memanggil nama sang istri, namun Livy tidak menyahut. Akhirnya ia masuk ke kamar dan melihat Calvin yang sudah tampak segar sedang tertidur pulas dalam box bayinya. Tak lama kemudian terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. senyum smirk pun terbit dari bibir Dewa. apalagi semalam ia gagal mendapat jatah susu segar dari sang istri.
Dewa meletakkan jasnya di atas tempat tidur beserta tas kerjanya. Kini hanya tersisa kemeja warna putih yang ia lipat sebatas siku. Lalu ia menghampiri Calvin yang sedang tidur pulas sambil berbisik pelan.
“Boy! Bekerjasama lah dengan baik ya? Jangan ganggu kesenangan Papa dan Mama kamu.”
Setelah itu Dewa masuk ke kamar mandi. dia membuka dengan pelan pintu itu agar istrinya tidak mengetahui kedatangannya.
Dewa kesusahan menelan salivanya saat melihat sang istri sedang berada di bawah guyuran shower dan posisi tubuhnya menghadap ke arah dinding. Lekukan tubuh sek si sang istri sontak membuat sesuatu di balik celana Dewa terasa begitu sesak.
__ADS_1
Dewa melangkah dengan perlahan mendekati istrinya yang masih sibuk di bawah guyuran air itu. tanpa melepas bajunya, Dewa langsung merengkuh tubuh Livy dari belakang. Livy memekik terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Dengan cepat Dewa menyumpal bibir sang istri, lalu tangannya bergerak aktif mencari titik sen sitif Livy.
Baju Dewa sudah basah kuyup. Livy tidak tahan dengan permaian tangan suaminya. dia segera berbalik badan, hingga kini keduanya saling berhadapan.
Livy yang memang semalam juga sangat menginginkan sebuah penyatuan, hari ini ia akan memanfaatkan kesempatan dengan baik. Dia mencium bibir suaminya dengan sangat rakus. Begitu juga Dewa. keduanya sama-sama panas dalam ciuman yang semakin lama semakin menginginkan yang lebih dari ini.
Tangan Livy bergerak cepat melepas kancing kemeja suaminya. setelah baju Dewa berhasil lolos dengan menampakkan perut sixpacs’nya, kini tangan Livy beralih melepas celana Dewa hingga lapisan terdalamnya.
Benda keramat milik Dewa yang sudah lama ia rindukan itu kini berdiri kokoh seakan berterian ingin segera masuk ke dalam sarangnya.
“Sayang! Tubuhmu membuatku candu.” Gumam Dewa sambil mengecupi sleuruh tubuh istrinya.
Setelah puas dengan ciumannya, kini Dewa mulai turun ke leher jenjang sang istri, kemudian turun menuju dua bongkahan besar yang sejak tadi menantangnya. Dewa melahap dua benda itu secara bergantian dengan rakus. Tangan Livy yang sejak tadi memegang senjata Dewa, reflek mencengkeramnya kuat, saat Dewa menghisap cukup kuat benda itu.
Suara merdu dari bibir keduanya menggema di seisi ruangan kamar mandi, saat keduanya terus berpacu dalam kenikmatan. Dewa benar-benar memperlakukan istrinya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Livy sampai dibuat melayang dengan permainan suaminya ini.
Tak puas bermain dalam guyuran air shower, Dewa segera menggendong istrinya keluar dari kamar mandi, dan melanjutkannya lagi di dalam kamar mereka.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1
Yang ingin tahu kabar Febian, sabar dulu ya guys😆🤗