
Hari ini Livy sudah melayangkan gugatan cerai pada Febian. tinggal menunggu dari pengadilan saja mengenai agenda mediasi dan lain sebagainya. Livy akan mengikuti jalannya proses perceraian itu, agar semakin cepat selesai.
Beberapa hari sejak kepulangan Livy ke rumah kedua orang tuanya, sampai saat ini juga Febian tak kunjung datang ataupun berinisiatif datang ke rumah mertuanya untuk meminta maaf. Atau setidaknya dia berjuang untuk mendapatkan Livy kembali jika dia benar-benar mencintai Livy dan tidak mau berpisah. Karena memang Febian sendiri belum mendapatkan surat dari pengadilan mengenai gugatan cerai dari Livy.
Febian sendiri memang tampak sangat frustasi setelah kejadian itu. kejadian dimana Livy sudah mengetahui kebohongannya. Dan selama itu Febian berdiam diri di rumah saja. atau lebih tepatnya di ruang kerjanya. Sedangkan Raina dan Saskia, Febian sama sekali tidak mempedulikannya.
Saat ini Febian sedang sibuk di depan layar laptopnya. Pria itu terlihat sangat sibuk. Entah apa yang sedang dikerjakan, karena raut wajahnya terlihat sangat panik. Bahkan ketukan pintu dari luar sama sekali tidak ia pedulikan.
Cklek
Febian baru mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang membuka pintu ruang kerjanya. Ternyata yang datang adalah Mama dan Papanya. Febian pun segera menutup laptopnya agar tidak membuat orang tuanya curiga.
“Astaga, Bian! Kenapa kamu masih di rumah seperti ini? kenapa kamu tidak menjemput istri kamu?” kesal Nyonya Abyasa saat melihat ankanya justru masih sibuk dengan pekerjaannya dibandingkan memperjuangakan istrinya.
Tuan dan Nyonya Abyasa meemang baru sempat datang setelah mendapat kabar dari Febian mengenai skandalnya yang sudah diketaahui oleh Livy. mereka belum bisa segera pulang karena Tuan Abyasa tidak bisa meninggalkan pekerjaan kantor begitu saja.
Febian sudah menceritakan semuanya. Bagaimana awal mula Livy marah terhadapnya, hingga wanita itu membeberkan semua bukti kebohongannya.
“Pekerjaanku juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja, Ma. Setelah ini aku ingin Mama dan Papa ikut aku pergi menjemput Livy.”
Nyonya Abyasa hanya menghela nafas panjang. Bisa-bisanya Febian masih mementingkan peerjaan di saat rumah tangganya sedang dalam keadaan genting.
“Lalu dimana Raina dan Saskia?” Tanya Nyonya Abyasa yang memang sejak kedatangannya tidak melihat Raina dan Saskia di rumah.
“Aku tidak tahu, Ma. Aku harap mereka tidak kembali lagi ke sini. semua ini juga mereka lah penyebabnya.”
“Bian cukup!” bentak Tuan Abyasa yang sejak tadi diam. kini pria itu tidak terima dengan ucapan Febian yang menganggap Raina dan Saskia penyebab keretakan rumah tangganya.
“Tapi memang benar sepert,-“
__ADS_1
“Permisi, Tuan!” ucap Bi Ratih yang tiba-tiba berdiri di depan pintu ruang kerja Febian yang terbuka.
“Ada apa, Bik?” tanya Febian menghampiri pembantunya itu.
“Ini ada surat untuk Tuan Febian.”
Febian menerima surat dari Bi Ratih, lalu ia meminta wanita itu untuk segera kembali bekerja. Febian melihat alamat pengirim surat itu. tubuhnya seketika lemas setelah tahu bahwa Livy tidak main-main dengan ucapannya kemarin. Livy menggugatnya.
Kedua orang tua Febian juga sangat shock. Khususnya Tuan Abyasa. Bahkan mereka yang hendak mencari Raina dan Saskia sampai lupa dan lebih memilih datang ke rumah besannya untuk menyelamatkan rumah tangga anaknya.
***
Kini Febian dan kedua orang tuanya sudah tiba di kediaman Reno. Mereka bertiga duduk bersama Reno dan Aby. Sedangkan Livy sengaja tidak diperbolehkan keluar agar masalahnya tidak semakin runyam. Terlebih dengan sifat Febian yang sangat egois. Pasti pria itu akan mempertahankan pendapatnya.
“Kami sebagai orang tua Febian benar-benar minta maaf atas kebohongan yang selama ini kamu sembunyikan. Kami harap Livy bisa mencabut gugatannya dan mencoba memperbaiki masalah rumah tangganya.” Ucap Tuan Abyasa.
“Saya juga sebagai Papa Livy sebenarnya tidak suka dengan perceraian. Namun masalah yang terjadi antara anak-anak kita sepertinya membuat Livy sangat terpukul sekaligus sakit hati. Maaf, khususnya dengan Febian yang sama sekali tidak menginginkan anak dari Livy. menurut saya, Febian sangat egois.” Jawab Reo dengan tenang.
Reno pun sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Tuan Abyasa. Justru Reno akan tetap melanjutkan proses perceraian anaknya. ternyata sifat egois Febian diturunkan dari Papanya. Kalau Febian trauma dengan hadirnya anak kecil akibat masa lalunya, kenapa tidak sejak dulu pria itu melakukan terapi? Kenapa di saat Livy sudah menggugatnya seperti ini, baru Febian berinisiatif melakukan terapi. Namun Reno tidak mau memperpanjang masalah ini. dia juga tahu kalau proses perceraian ini nanti akan berjalan rumit.
“Mohon maaf sekali, sepertinya anak saya memang sudah bulat dengan keputusannya. Jadi, saya harap Febian bisa menerimanya dan mengikuti proses perceraian ini. dan saya harap, semuanya berakhir dengan baik, karena awalnya kita memulainya dengan baik pula.” ucap Reno.
Febian tampak marah dan tidak terima. Dia tetap tidak ingin menceraikan Livy. namun sayangnya Tuan Abyasa lebih cepat menangkap Bahasa tubuh putranya, jadi ia menahan tangan Febian agar tidak meluapkan emosinya.
Akhirnya Febian dan keluargnya pulag dengan tangan kosong. Tuan Abyasa tampak sedang merencakan sesuatu agar Febian dan Livy tidak jadi bercerai. Apalagi melihat cinta Febian terhadap Livy yang sangat besar.
***
Sementara itu di sebuah rumah sakit swasta tampak Raina baru saja menebus obat buat Saskia. Hari ini juga Saskia sudah diperbolehkan pulang setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Namun wanita itu bingung mau pulang kemana. Karena tidak mungkin ia pulang ke rumah Febian. yang ada pria itu akan semakin membencinya.
__ADS_1
“Apa kamu mau pulang?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di hadapan Raina.
“I..iya.” jawab Raina gugup sambil menatap pria yang pernah tinggal di rumah Febian. siapa lagi kalau bukan Dewa.
Dewa mengeluarkan sebuah kertas kecil yang tertera sebuah alamat. Dan memberikannya pada Raina.
“Aku tahu, kamu pasti tidak berani pulang ke rumah Febian. lebih baik kamu datang ke panti asuhan ini saja. pemilik panti itu adalah Bibiku sendiri. Di sana kamu pasti bisa hidup dengan tenang bersama anak kamu.”
Raina tidak menyangka kalau hari ini dia kedatangan Dewa penolong. Dan memang itu adalah pilihan yang sangat tepat.
“Terima kasih! Terima kasih banyak. Baiklah, aku akan pergi ke panti ini saja. lalu, bagaimana dengan kamu? Apa kamu masih bekerja di rumah Kak Bian?” tanya Raina.
Dewa hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“Aku akan pergi dari kota ini. pekerjaanku sudah selesai. semoga kamu dan anak kamu juga hidup bahagia. Maaf, aku hanya bisa membantumu seperti ini saja.”
Setelah mengatakan itu, Dewa segera pergi dari rumah sakit. Meninggalkan Raina dan Saskia.
“Tunggu!” seru Raina membuat Dewa menoleh sejenak.
“Apa kamu mencintai Kak Livy?” tanya Raina.
Dewa hanya tersenyum tipis. Lalu pergi tanpa kata.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!